News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 18:02 WIB
Ilustrasi perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari. [Aljazeera]
Baca 10 detik
  • Direktur IEA Fatih Birol menyatakan krisis energi kini lebih buruk daripada guncangan minyak 1970-an.
  • Krisis ini merupakan gabungan gangguan pasokan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas.
  • Penyebab utama krisis adalah konflik AS-Israel versus Iran, yang memicu penutupan Selat Hormuz.

“Solusi paling penting adalah membuka kembali Selat Hormuz,” katanya.

Harga minyak sendiri telah melonjak lebih dari 50 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu.

Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut atau menghadapi serangan terhadap fasilitas listriknya.

Iran merespons dengan ancaman menutup total jalur tersebut serta menyerang infrastruktur energi dan air di kawasan jika ultimatum itu dijalankan.

Kontributor: Azka Putra

Load More