-
Amerika Serikat merencanakan serangan darat ke Pulau Kharg Iran untuk mengamankan Selat Hormuz.
-
Jepang berkomitmen membantu pengamanan jalur energi melalui pengerahan angkatan laut dan teknologi penyapu ranjau.
-
Eskalasi konflik melibatkan serangan balasan rudal antara Iran melawan kekuatan Amerika Serikat dan Israel.
Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat kini tengah menimbang langkah drastis dengan merencanakan operasi militer darat ke wilayah Iran.
Target utama dari operasi rahasia yang mulai terendus publik ini adalah penguasaan penuh atas Pulau Kharg.
Langkah berani ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketegangan yang mengancam stabilitas ekonomi di jalur laut internasional.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa percepatan mobilisasi pasukan ke kawasan Timur Tengah sedang berlangsung secara masif saat ini.
Harian ternama The Jerusalem Post menjadi media yang pertama kali mengonfirmasi adanya rencana pergerakan militer tersebut.
Berdasarkan data dari Axios, Presiden Donald Trump dilaporkan sudah bersiap untuk mengambil alih kontrol Pulau Kharg.
Tujuan utama dari pendudukan ini adalah memaksa pihak Teheran agar segera membuka akses navigasi di Selat Hormuz.
Pihak Washington menilai bahwa kelancaran arus lalu lintas kapal di selat tersebut merupakan harga mati bagi mereka.
Seorang pejabat tinggi militer menjelaskan bahwa ribuan personel Marinir telah dikerahkan lebih cepat dari jadwal semula.
Baca Juga: Jepang Kirim Pasukan Khusus Bela Diri ke Selat Hormuz, Ikut Perang?
Unit Angkatan Laut Amerika Serikat juga dilaporkan sudah mulai memadati titik-titik strategis di sekitar perairan tersebut.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, memberikan pernyataan tegas mengenai sikap pemerintah terhadap situasi yang berkembang ini.
Ia menyatakan bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk mengirimkan pasukan infanteri langsung ke jantung wilayah pulau tersebut.
Bessent menekankan bahwa semua opsi taktis masih terbuka lebar demi mengamankan kepentingan nasional negara Paman Sam.
Situasi panas ini merupakan kelanjutan dari rentetan peristiwa yang terjadi sejak akhir bulan Februari yang lalu.
Tepat pada 28 Februari, kekuatan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke beberapa titik.
Sejumlah fasilitas penting di Teheran dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat hantaman rudal serta serangan udara tersebut.
Insiden berdarah itu juga dikonfirmasi telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil di lokasi kejadian.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam dan langsung memberikan respons militer yang setimpal terhadap serangan mendadak tersebut.
Teheran membalas dengan meluncurkan serangan ke wilayah kedaulatan Israel serta pangkalan-pangkalan militer milik Amerika Serikat.
Fasilitas militer AS yang tersebar di daratan Timur Tengah menjadi sasaran utama dari serangan balasan pihak Iran.
Utusan Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, mengungkapkan adanya dukungan baru dari sekutu mereka di wilayah Asia.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dikabarkan telah memberikan komitmen untuk membantu operasi pengamanan di Selat Hormuz.
Langkah Jepang ini dianggap sangat krusial karena negara tersebut sangat bergantung pada distribusi energi dari kawasan Teluk.
Waltz memberikan penjelasan mendalam mengenai betapa pentingnya peran sekutu dalam menjaga stabilitas jalur distribusi minyak dunia.
"Karena begitu banyak energi yang dikirim ke Eropa melalui selat tersebut, Perdana Menteri Jepang baru saja berkomitmen untuk mengerahkan sebagian angkatan lautnya, dan 80 persen dari energi yang keluar dari Teluk dikirim ke Asia," kata Waltz.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump bersikap sangat keras terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Iran.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan memberikan ruang toleransi bagi tindakan yang dianggap bisa mengganggu ekonomi global.
Waltz menambahkan bahwa tindakan Iran selama puluhan tahun terakhir telah dianggap sebagai ancaman nyata bagi dunia internasional.
"Jadi, kami melihat sekutu kita berbalik arah sebagaimana mestinya, tetapi pada saat yang sama, presiden (Donald Trump) tidak akan mentolerir rezim ini, karena telah mengancam dan mencoba selama lima dekade untuk menyandera pasokan energi dunia," tambahnya.
Di sisi lain, Tokyo mulai menyusun skenario pengerahan Pasukan Bela Diri atau yang dikenal dengan sebutan SDF.
Jepang berencana mengirimkan unit penyapu ranjau jika kesepakatan gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai berhasil dicapai.
Kehadiran ranjau laut di Selat Hormuz dianggap sebagai penghalang utama bagi kapal-kapal tanker yang membawa minyak mentah.
Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, memberikan penjelasan teknis mengenai kemampuan unit militer yang dimiliki oleh negaranya.
"Teknologi penyapu ranjau Jepang berada di tingkat teratas di dunia. Katakanlah (jika terjadi) gencatan senjata, dan jika ranjau menjadi penghalang, kita mungkin perlu mempertimbangkannya," kata Motegi.
Pernyataan ini muncul setelah Motegi menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan pejabat Amerika Serikat di kota Washington.
Meskipun rencana tersebut sudah mulai dibahas, Motegi menegaskan bahwa belum ada kesepakatan tertulis yang bersifat mengikat saat ini.
Pemerintah Tokyo masih memerlukan pertimbangan mendalam sebelum benar-benar menerjunkan personel SDF ke medan konflik yang sangat panas.
Motegi menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada janji khusus yang dibuat oleh pihak Jepang kepada pihak Washington.
Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terus menunjukkan tren yang sangat mengkhawatirkan publik.
Iran secara konsisten menggunakan drone dan rudal untuk menyerang aset-aset militer milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Langkah proaktif Jepang dalam konflik ini didasari oleh kepentingan domestik yang sangat mendesak terkait kebutuhan bahan bakar.
Sekitar 90 persen dari total kebutuhan minyak mentah yang dikonsumsi oleh Jepang berasal dari negara-negara Timur Tengah.
Hampir seluruh pasokan energi tersebut harus melewati jalur sempit di Selat Hormuz sebelum sampai ke pelabuhan Jepang.
Oleh karena itu, keamanan jalur navigasi di perairan tersebut menjadi prioritas utama bagi keberlangsungan industri di Tokyo.
Amerika Serikat dan sekutunya kini terus memperketat pengawasan di wilayah perairan tersebut untuk mencegah gangguan lebih lanjut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Rudal Iran Tembus Kota Nuklir Dimona, Pertahanan Udara Israel Makin Dipertanyakan
-
Hanya Berlaku Hari Ini, Tarif MRT Jakarta Dibanderol Rp243
-
Kiamat Sudah Dekat Kalau Amerika Nekat Buka Paksa Selat Hormuz Iran
-
MRT Berlakukan Tarif Rp243 Bagi Pelanggan Khusus Hari Ini, Berikut Persyaratannya
-
Siasat Licin Iran Perpanjang Napas Perang Usai Mojtaba Khamenei Menghilang
-
Baru Ancam Lebanon, Presiden Israel Kocar-kacir Dihantam Rudal
-
BPH Migas Pastikan BBM Aman di Tol Padaleunyi Jelang Puncak Arus Balik 2026
-
Studi: Industri Migas Tinggalkan Citra Energi Bersih, Kini Tekankan Ketergantungan Energi Fosil
-
Gus Yaqut Kembali ke Rutan KPK Usai Tahanan Rumah: Alhamdulillah, Sempat Sungkem ke Ibu Saya
-
Waduh! Siap-siap Ledakan Besar Pusat Tenaga Nuklir Jika AS Serang PLTN Bushehr Iran