News / Internasional
Selasa, 24 Maret 2026 | 11:48 WIB
Selat Hormuz (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Blokade Iran di Selat Hormuz melumpuhkan 95 persen arus pengiriman minyak mentah global saat ini.

  • Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka blokade atau menghadapi kehancuran infrastruktur.

  • Konflik ini memicu lonjakan harga operasional kapal tanker dan mengancam keamanan infrastruktur informasi dunia.

Suara.com - Ketegangan bersenjata antara pihak Amerika Serikat dengan Iran kini telah memasuki masa krusial pada minggu keempat.

Wilayah Selat Hormuz bertransformasi menjadi titik paling berbahaya sekaligus penentu dalam peta konflik yang sedang memanas.

Jalur distribusi minyak mentah yang sangat vital bagi kebutuhan energi dunia tersebut saat ini dalam kondisi lumpuh total.

Pihak Teheran melakukan blokade besar-besaran yang mengakibatkan terhentinya arus pengiriman komoditas energi serta mengacaukan stabilitas dagang internasional.

Meskipun demikian, otoritas Iran mengklaim bahwa jalur perairan tetap bisa diakses oleh pihak manapun kecuali kapal yang berafiliasi dengan musuh mereka.

Kenaikan harga bahan bakar di pasar global menjadi efek domino yang tidak terhindarkan akibat gangguan di wilayah tersebut.

Bagi pihak Gedung Putih, normalisasi jalur pelayaran di selat tersebut kini menjadi prioritas utama baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Langkah untuk membuka kembali akses tersebut diprediksi akan jauh lebih kompleks daripada kalkulasi militer di atas kertas.

Risiko eskalasi meningkat drastis dalam beberapa waktu terakhir yang menunjukkan betapa rapuhnya situasi keamanan di kawasan Teluk.

Baca Juga: Panik Diserang Balik Iran, Israel Tiba-tiba Ingat HAM dan Minta Tolong Dunia

Donald Trump bahkan telah memberikan peringatan keras melalui platform media sosial miliknya terkait konsekuensi penutupan jalur ini.

Pada sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam, yang secara tajam meningkatkan tekanan pada kepemimpinan Teheran.

Mantan presiden tersebut mengancam akan meluluhlantakkan pusat pembangkit listrik Iran jika blokade tidak segera dihentikan sepenuhnya.

Militer Iran tidak tinggal diam dan menyatakan bahwa agresi AS akan dibalas dengan serangan balik ke berbagai infrastruktur strategis.

Komando militer Iran menanggapi bahwa serangan semacam itu akan memicu serangan terhadap "infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi" yang terkait dengan AS di seluruh wilayah.

Ancaman ini memberikan sinyal kuat bahwa peperangan bisa meluas hingga ke sektor teknologi dan pemenuhan air bersih.

Load More