-
Trump mempertimbangkan Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai calon pemimpin baru Iran untuk negosiasi perdamaian.
-
Amerika Serikat menargetkan kesepakatan minyak strategis melalui perubahan rezim yang stabil di Iran.
-
Strategi diplomasi AS di Iran meniru pola kerja sama politik yang diterapkan pada Venezuela.
Trump optimis bahwa perubahan ini akan membawa angin segar bagi terciptanya perdamaian yang selama ini sulit untuk diwujudkan.
Dalam pernyataannya pada hari Senin lalu sang presiden menegaskan bahwa akan ada dinamika politik yang sangat signifikan.
Donald Trump mengatakan pada Senin (23/3) bahwa akan ada "perubahan rezim yang sangat serius" di Iran.
Keyakinan Trump didasarkan pada fakta bahwa struktur kepemimpinan lama Iran kini sedang berada dalam posisi yang sangat lemah.
Ia menambahkan bahwa perubahan telah dimulai karena "semua orang telah terbunuh" dari kepemimpinan sebelumnya.
Situasi tersebut dianggap sebagai momentum otomatis bagi lahirnya tatanan pemerintahan baru yang lebih bersahabat dengan kepentingan global.
Harapan Terhadap Pemerintahan Baru Iran
Pemerintahan Trump tampaknya lebih menyukai jalur negosiasi dengan individu yang dianggap memiliki pemikiran rasional dan teguh pada prinsip.
"Mereka benar-benar baru memulai. Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim, tetapi kita berurusan dengan beberapa orang yang menurut saya sangat masuk akal, sangat solid," katanya.
Baca Juga: Siapa Mohammad Bagher Zolghadr? Pengganti Ali Larijani sebagai Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran
Target utama dari strategi diplomasi ini adalah mengamankan aset energi penting tanpa harus melakukan penghancuran infrastruktur yang merugikan.
Salah satu fokus utama Amerika adalah melindungi Pulau Kharg yang merupakan titik sentral dari ekspor minyak mentah milik Iran.
Trump dilaporkan enggan menguasai wilayah tersebut secara militer karena menginginkan kesepakatan komersial jangka panjang yang saling menguntungkan.
Gedung Putih menginginkan pola kerja sama di Iran menyerupai model transisi kekuasaan yang pernah terjadi di negara Venezuela sebelumnya.
Harapannya pemimpin Iran yang baru nanti bersedia menjalin kesepakatan yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Delcy Rodriguez.
Langkah ini dirancang agar Amerika tetap bisa mempertahankan pengaruhnya tanpa harus menyingkirkan pemimpin tersebut secara paksa dari kursi kekuasaan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- 5 Motor Irit tapi Bukan Honda BeAT, Mesin Awet untuk Jangka Panjang, Cocok untuk Pejuang Nafkah
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
Pilihan
-
Iran Angkat Mohammad Bagher Zolghadr sebagai Pengganti Ali Larijani
-
Heboh Wanita Muda Hendak Akhiri Hidup di Depan Istana Merdeka, Untung Ketahuan Paspampres
-
Kasus Dean James Memanas, Pundit Belanda: Efeknya Bisa Guncang Eredivisie
-
BTS ARIRANG Pecahkan Rekor Netflix! Comeback Global Tak Terkalahkan di 77 Negara
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Terkini
-
Jejak Hitam Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua DPR Jagoan Donald Trump Pimpin Iran
-
Sosok Mohammad Bagher Ghalibaf, Pilot Pesawat Tempur Calon 'Boneka' Donald Trump Pimpin Iran
-
Rudal Kiamat Iran Hantam Kota Dekat Tel Aviv Israel, Belasan Warga Sipil Termasuk Anak-Anak Terluka
-
Dokter Rumah Horor yang Pernah Gegerkan AS Tewas Misterius saat Jalani Hukuman Seumur Hidup
-
Kondisi Terkini Wanita yang Coba Akhiri Hidup di Dekat Istana, Masih Dirawat Intensif di RSCM
-
Arus Balik Padat, Korlantas Polri Berpeluang Perpanjang One Way Nasional Trans Jawa
-
Respons KPK Usai Dapat Sindiran Satire Soal Status Tahanan Rumah Yaqut
-
Urai Kepadatan di Jalur Arteri, Jam Operasional Tol Fungsional Purwomartani Diperpanjang
-
Waka MPR Ingatkan Opsi Sekolah Daring untuk Hemat BBM: Jangan Ulangi Kesalahan Saat Covid-19
-
Cegah Pemudik Nyasar ke Sawah, Jasamarga Hapus Rute Google Maps