- Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara tetangga agar tidak mendukung rencana operasi militer AS merebut pulau strategis Iran.
- Ketua Parlemen Iran mengancam akan menyerang infrastruktur vital negara regional yang memfasilitasi provokasi AS.
- Militer AS memobilisasi 2.000 tentara ke Teluk, diduga menargetkan Pulau Kharg dengan potensi respons serangan Iran.
Suara.com - Pemerintah Iran melemparkan peringatan keras kepada negara-negara tetangganya di kawasan Teluk agar tidak coba-coba memfasilitasi operasi militer Amerika Serikat (AS) yang dilaporkan tengah menyusun rencana pencaplokan sebuah pulau strategis milik Teheran.
Dilansir melalui Al Jazeera, peringatan eskalasi ini dipicu oleh laporan intelijen dari seorang pejabat senior di Teheran.
Dokumen intelijen tersebut mengindikasikan adanya rencana "musuh-musuh Iran" untuk menduduki pulau teritori Iran.
Berbahayanya, operasi militer ini diyakini akan mendapat sokongan penuh dari salah satu negara kawasan yang identitasnya belum disebutkan secara resmi.
Merespons potensi invasi tersebut, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Rabu (25/3/2026), menegaskan bahwa Teheran akan merespons segala bentuk provokasi dengan tangan besi.
Ia mengancam akan membidik "infrastruktur vital" milik negara tetangga mana pun yang terbukti membantu musuh.
“Pasukan Iran memantau pergerakan musuh, dan jika mereka mengambil langkah apa pun, kami akan menyerang infrastruktur vital di negara regional tersebut dengan serangan terus-menerus dan tanpa henti,” kata Ghalibaf dalam dua unggahan terpisah di media sosial, dikutip dari Al Jazeera, pada Kamis (26/3/2026).
Retorika keras Ghalibaf ini muncul di tengah kebingungan diplomasi.
Presiden AS Donald Trump terus bersikeras bahwa Washington sedang mematangkan negosiasi damai sebuah klaim yang dibantah mentah-mentah oleh Teheran. Alih-alih menurunkan tensi, Gedung Putih justru melontarkan ancaman bernada ultimatum kepada kepemimpinan Iran.
Baca Juga: Netanyahu Buka Suara! Kirim Pesan Keras ke Teheran Usai Klaim Tewaskan Ali Larijani
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu menegaskan bahwa sudah saatnya Teheran mengibarkan bendera putih dan menerima kekalahan.
“Jika Iran gagal menerima realitas situasi saat ini, jika mereka gagal memahami bahwa mereka telah dikalahkan secara militer dan akan terus dikalahkan, Presiden Trump akan memastikan mereka dihantam lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya,” kata Leavitt.
“Presiden Trump tidak main-main, dan dia siap untuk melepaskan malapetaka,” tambahnya.
Ancaman malapetaka dari Washington ini bukan gertak semata. Pentagon dilaporkan telah memobilisasi kekuatan tempur besar-besaran ke wilayah Teluk.
Sekitar 2.000 tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS telah diperintahkan terjun ke kawasan tersebut. Pasukan elite ini akan melengkapi dua kontingen Marinir AS, di mana unit Ekspedisi Marinir pertama yang menunggangi kapal serbu amfibi raksasa diprediksi merapat dalam beberapa hari ke depan.
Target Utama: Pulau Kharg dan Keterlibatan UEA
Mohamed Vall dari Al Jazeera melaporkan bahwa masyarakat Iran sangat memantau penumpukan armada perang serta pasukan darat AS di ambang pintu negara mereka, dan “mereka tahu apa akibatnya”.
“Jadi saat ini, mereka jauh lebih yakin akan berlanjutnya perang ini daripada berakhirnya, dan mereka mengatakan sedang mempersiapkannya,” kata Vall.
Spekulasi kuat menyebutkan bahwa pendaratan amfibi AS tersebut menargetkan urat nadi ekonomi Teheran.
“Mereka juga menyadari bahwa AS mengincar Pulau Kharg ,” ujar Vall.
Vall menambahkan, ancaman Ketua Parlemen Iran sebelumnya diyakini dialamatkan secara spesifik kepada Uni Emirat Arab (UEA).
“Menurut beberapa orang yang menjelaskan apa yang dia katakan, dia merujuk pada Uni Emirat Arab, yang mungkin bekerja sama dengan AS dan mendorongnya untuk merebut Pulau Kharg,” kata dia.
“Selama beberapa hari terakhir, warga Iran mengatakan bahwa mereka yakin jika ini terjadi, hal itu akan sangat merusak negara tersebut, Uni Emirat Arab, dan juga pasukan AS,” katanya.
Secara taktis, pendaratan AS di pulau ekspor minyak tersebut dinilai sebagai langkah bunuh diri.
“Kharg adalah pulau kecil yang terbuka dan sangat dekat dengan daratan Iran. Mereka mengancam bahwa jika pasukan AS mendarat di sana, itulah yang ditunggu-tunggu oleh Iran dan itu akan sangat merugikan keselamatan pasukan AS,” kata dia.
Tidak hanya bersiap mempertahankan Pulau Kharg, Teheran juga mengancam akan memperluas arena pertempuran hingga ke Laut Merah.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada Rabu mengutip sumber militer anonim yang menegaskan bahwa Iran siap membuka front baru jika agresi militer benar-benar menyentuh "pulau-pulau Iran atau di tempat lain di wilayah kami".
Sumber tersebut mengeklaim bahwa Iran memiliki kapasitas penuh untuk menciptakan "ancaman yang kredibel" di Selat Bab al-Mandeb yang membentang antara Yaman dan Djibouti.
Di tengah genderang perang yang makin kencang, upaya diplomasi masih berjalan tertatih di belakang layar.
Walau Teheran menampik adanya perundingan langsung dengan AS, para mediator kawasan terus bekerja menyampaikan pesan antara kedua belah pihak.
AS telah mengajukan proposal damai 15 poin, sementara seorang pejabat Iran yang dikutip media lokal menyebut Teheran juga telah merumuskan lima syarat mutlak sebagai harga untuk menghentikan permusuhan.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Misteri Negosiator Rahasia, Klaim Damai Donald Trump Dibantah Mentah-mentah oleh Teheran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Perang Darat Dimulai? AS Bakal Kirim Tentara Serang Pulau Kharg Iran
-
Netanyahu Buka Suara! Kirim Pesan Keras ke Teheran Usai Klaim Tewaskan Ali Larijani
-
Niat Licik Benjamin Netanyahu Tersebar, Iran Semakin Terdesak
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
Terkini
-
Dikabarkan Menyerah dan Merapat ke Solo, dr Tifa Beri Jawaban Menohok Lewat 'Senjata' Baru!
-
Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
-
Tarif Rp1 Picu Lonjakan, Penumpang Transjakarta Tembus 697 Ribu dalam Sehari saat Lebaran
-
Terapkan Operasional Ramah Lingkungan, BNI Hemat Energi 559 Ribu Giga Joule Sepanjang 2025
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Mendekati Masa Tenggat, KPK Ingatkan Penyelenggara Negara Segera Laporkan LHKPN
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Viral Tuduhan Buang Sampah ke Kali Pesanggrahan, DLH DKI: Itu Titik Penampungan Resmi
-
Studi: Karbon Biru Bisa Tekan Emisi Dunia, Mengapa Banyak Negara Belum Menggunakannya?