- Presiden Trump menyatakan pemimpin Iran ingin bersepakat tetapi takut melakukannya saat acara Partai Republik, 25 Maret 2026.
- Trump mengklaim tindakan AS terhadap Iran merupakan operasi militer, bukan perang, untuk menghindari persetujuan Kongres.
- Presiden tersebut menegaskan kembali pembatalan kesepakatan nuklir Obama telah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan kontroversial terkait rakyat Iran dalam acara penggalangan dana Partai Republik di Washington, 25 Maret 2026.
Trump menyebut para pemimpin Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan, namun tidak berani mengakuinya.
“Mereka ingin sekali membuat kesepakatan, tapi tidak bisa mengatakannya karena takut dibunuh rakyatnya sendiri,” kata Trump dalam pidatonya seperti dilansir dari The Epoch Times.
“Mereka bahkan takut kami akan membunuh mereka.”
Trump mengeklaim situasi yang dihadapi AS terhadap Iran saat ini belum pernah terjadi sebelumnya.
“Tidak ada yang pernah melihat apa yang kami lakukan terhadap Iran di Timur Tengah,” ujarnya di hadapan para donatur Partai Republik.
Dalam kesempatan itu, Trump menghindari penggunaan istilah perang dan lebih memilih menyebutnya sebagai operasi militer.
Menurutnya, penggunaan kata perang bisa memicu kewajiban hukum untuk meminta persetujuan Kongres.
“Ini adalah operasi penghancuran militer,” tegasnya.
Baca Juga: Geopolitik Memanas, Pemerintah Klaim Ekonomi RI Tetap Tangguh
Trump juga mengkritik pemberitaan media Amerika yang dinilai tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Kalau Anda mendengar berita, Anda akan berpikir kita kalah, padahal kita sedang menghancurkan mereka,” ucap Trump.
Tak hanya itu, Trump kembali menyerang kebijakan nuklir era Barack Obama.
Trump menyebut kesepakatan nuklir Iran sebagai keputusan yang merugikan Amerika Serikat.
“Obama memberikan segalanya kepada Iran. Saya membatalkan kesepakatan itu begitu masuk kantor,” katanya.
Trump bahkan mengklaim bahwa tanpa pembatalan tersebut, Iran sudah menggunakan senjata nuklir sejak beberapa tahun lalu.
“Jika kesepakatan itu tidak dibatalkan, Iran sudah memakai senjata nuklir tiga tahun lalu,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai
-
Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda
-
Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati
-
6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
-
Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?
-
Membongkar Dosa Besar Para Anak Rantau Lewat Lagu Sesi Potret