- Dr. Stepi Anriani menilai kemampuan Iran bertahan dari serangan konvensional AS sudah menjadi kemenangan strategis.
- Kekuatan utama Iran adalah perang siber serta dukungan jaringan proksi regional, bukan superioritas udara melawan AS.
- Pemblokiran Selat Hormuz dan penolakan publik domestik AS menjadi tekanan signifikan bagi kelanjutan eskalasi konflik.
Suara.com - Eskalasi konflik bersenjata antara koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran terus memanas dan memicu kekhawatiran global.
Menghadapi gempuran militer konvensional AS yang jauh lebih superior, Iran dinilai tidak perlu memenangkan perang secara terbuka. Kemampuan Teheran untuk sekadar bertahan dari invasi militer sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah kemenangan. Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat intelijen dan keamanan nasional, Dr. Stepi Anriani.
Ia menyoroti bahwa Iran sangat menyadari kelemahan mereka jika harus berhadapan secara simetris dengan militer AS. Oleh karena itu, Teheran memilih strategi perang asimetris jangka panjang, mirip dengan taktik gerilya Jenderal Sudirman atau perang di Vietnam dan Afghanistan.
"Dalam konteks ini, Iran tidak perlu menang. Dia cukup bertahan, yang penting tidak kalah, yang penting dia masih ada sampai deklarasi terakhir. Itu kan Epic Fury (AS) lima sampai enam minggu. Kalau misalnya di minggu keenam atau ketujuh Iran masih melakukan perlawanan, ya sudah, itu bagian dari kemenangan dia," jelas Dr. Stepi dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Kamis (26/3/2026).
Adu Kekuatan Udara AS vs Siber dan Proksi Iran
Dalam analisisnya, Dr. Stepi membuat simulasi "kartu skor" kekuatan militer negara-negara yang berkonflik. Secara konvensional, khususnya angkatan udara, AS memegang skor nyaris sempurna di angka delapan hingga sepuluh. Sementara Israel dinilai berada di posisi menengah atau fifty-fifty.
Namun, kekuatan utama Iran justru terletak pada angkatan darat, peretasan (siber), dan jaringan proksinya yang tidak dimiliki secara gamblang oleh AS maupun Israel.
"Proksinya itu memang didanai dan di-support setiap tahun. Kemudian di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas di Palestina, belum lagi Irak dan belum lagi hacktivism-hacktivism berbagai negara. Dalam waktu tiga hari ini, perangnya ini perang proksi dan siber dari Iran," paparnya.
Dr. Stepi mencatat setidaknya ada lima titik krusial yang diserang secara siber oleh hacktivism pro-Iran, termasuk peretas dari Rusia. Serangan siber ini menyasar infrastruktur kesehatan AS, infrastruktur energi turunan Aramco di kawasan Teluk, hingga sistem kemiliteran Israel.
Meskipun Komando Pusat AS mengklaim telah menurunkan 70 persen kekuatan udara Iran, fakta di lapangan menunjukkan bahwa perlawanan Teheran belum padam.
Baca Juga: Donald Trump Klaim Ditawari Iran Jadi Ayatollah: Tapi Saya Tolak
"Artinya kan Iran belum kalah dalam konteks ini," tegasnya.
Blokade Selat Hormuz dan Penolakan Domestik AS
Dalam hal ini, Dr. Stepi juga menyoroti strategi Iran yang memblokade Selat Hormuz, jalur yang dilewati seperlima pasokan energi dunia. Ia menganalisis bahwa langkah tersebut sengaja dilakukan Iran untuk menekan ekonomi AS dan global, sehingga memaksa musuh untuk duduk di meja perundingan.
Di sisi lain, posisi AS untuk melanjutkan perang ini tidak sepenuhnya mulus. Dr. Stepi mengungkapkan bahwa penolakan domestik di AS terhadap perang pada masa pemerintahan Presiden AS, Donald Trump, terus meningkat.
"Publik di Amerika sendiri menolak. Dulu di pekan-pekan awal masih 43 persen yang menolak perang ini. Kemudian dua hari kemarin sudah 62 persen, apalagi dari kalangan kongres, senat, hingga tokoh publik yang sudah menyampaikan hentikan ini semua," ungkapnya.
Hingga saat ini, Dr. Stepi mencatat jumlah korban tewas dari konflik ini telah melampaui 3.000 jiwa. Angka tersebut mencakup 1.444 korban dari pihak Iran, sekitar 700 korban di Lebanon, serta sisanya merupakan tentara AS dan negara-negara Teluk di sekitarnya.
Selain kerugian material dan nyawa, Dr. Stepi juga memperingatkan adanya ancaman yang berpotensi muncul di masa depan. Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu kemarahan ideologis yang mendalam, tidak hanya di Iran, tetapi juga dari kelompok Syiah di berbagai negara.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Donald Trump Klaim Ditawari Iran Jadi Ayatollah: Tapi Saya Tolak
-
Prof Yon: Indonesia Lebih Baik Mundur dari BOP Jika Hanya Jadi Bayang-bayang Amerika dan Israel
-
Israel Klaim Tewaskan Kepala Staf AL IRGC Iran di Kota Dekat Selat Hormuz
-
Bukan ke Iran! Jubir Bongkar Agenda Asli JK di Tengah Video Viral Dalam Pesawat
-
Pertemuan Trump-Xi Pada Mei Dianggap Tanda Berakhirnya Perang, Gedung Putih Bilang Begini
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan
-
Ridwan Kamil Siap-Siap, KPK Buka Peluang Panggil Lagi terkait Kasus Korupsi Bank BJB
-
Siswi Tertemper Kereta di Jurangmangu, 4 Perjalanan Commuter Line Terdampak