-
USS Tripoli tiba di Timur Tengah membawa 3.500 Marinir di tengah ketegangan dengan Iran.
-
Pentagon menyiapkan rencana serangan terbatas ke Pulau Kharg meski belum disetujui Presiden Trump.
-
Iran memperketat pertahanan pantai dengan ranjau guna mengantisipasi pendaratan pasukan amfibi Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sempat memberikan pernyataan yang sedikit berbeda terkait arah kebijakan luar negeri mereka.
Ia menyatakan bahwa Washington sebenarnya bisa mencapai target politik di Iran tanpa harus mengirimkan pasukan darat.
Namun, sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Donald Trump justru dinilai sangat ambigu oleh banyak pengamat internasional.
Presiden dikabarkan masih menimbang opsi untuk mengirimkan minimal 10.000 tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah tersebut.
Ketidakpastian ini membuat situasi di kawasan teluk menjadi sangat sulit diprediksi dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam melihat pergerakan masif armada perang Amerika Serikat di dekat wilayahnya.
Iran dilaporkan telah memperkuat sistem pertahanan udara mereka dan memobilisasi personel militer menuju Pulau Kharg.
Persiapan ini telah dilakukan secara intensif dalam beberapa minggu terakhir untuk mengantisipasi segala kemungkinan serangan mendadak.
Pihak intelijen mencatat adanya pemasangan ranjau dan jebakan maut di sepanjang garis pantai dan sekitar pulau.
Baca Juga: Rudal Kiamat Iran Hantam Pemukiman Eshtaol Israel Hingga 11 Orang Terluka Parah
Langkah ini diambil guna menghalau upaya pendaratan amfibi yang mungkin dilakukan oleh pasukan khusus Amerika Serikat.
Kehadiran USS Tripoli di titik panas dunia ini menjadi sinyal kuat akan adanya perubahan dinamika keamanan global.
Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia kini berada dalam pengawasan ketat kedua belah pihak.
Ketegangan yang terjadi antara Washington dan Teheran kali ini melibatkan pertaruhan taktis yang sangat tinggi dan berisiko.
Publik internasional kini terus memantau apakah perintah serangan akan benar-benar keluar dari meja kerja Oval Office.
Kehadiran ribuan Marinir di kapal amfibi tersebut tetap menjadi ancaman nyata bagi kedaulatan wilayah pesisir Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
- 4 HP Xiaomi RAM 8 GB Paling Murah, Performa Handal Multitasking Lancar
- 5 Shio yang Diprediksi Beruntung dan Sukses pada 27 Maret 2026
- Panas! Keluarga Bongkar Aib Bunga Zainal, Sebut Istri Sukhdev Singh Pelit hingga Nikah tanpa Wali
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Harga BBM Filipina Melambung Tinggi Akibat Perang Iran, Sopir Jeepney Terancam Kelaparan
-
Pembatasan Medsos Anak Tak Cukup, IDAI Soroti Peran Orang Tua dan Kesenjangan Pendampingan
-
MBG Disalurkan Lima Hari Sekolah
-
Benjamin Netanyahu Makin Tak Jelas, Israel Habis Digempur Iran Tanpa Ampun
-
Meninggal Dunia, Jenazah Mantan Menhan Juwono Sudarsono Disemayamkan di Kemenhan Hari Ini
-
Donald Trump Beri Sinyal Kuba Jadi Target Operasi Militer AS Berikutnya Setelah Iran dan Venezuela
-
Iran Siapkan Rencana Darurat Keluar dari NPT Nuklir Demi Balas Serangan Udara Israel
-
Iran Buka Jalur Kemanusiaan di Selat Hormuz Meski Blokade Masih Berlaku
-
Rudal Kiamat Iran Hantam Pemukiman Eshtaol Israel Hingga 11 Orang Terluka Parah
-
Geger! Jasad Bayi Laki-laki Ditemukan Mengambang di Kali Pacing Bekasi, Kondisi Mengenaskan