-
Oposisi mengkritik Netanyahu karena dianggap melebih-lebihkan kemenangan Israel di tengah gempuran rudal Iran.
-
Sistem pertahanan udara Israel mulai menipis akibat serangan serentak dari Iran, Lebanon, dan Yaman.
-
Serangan rudal balistik di Beit Shemesh menyebabkan kerusakan parah serta melukai belas warga sipil.
Suara.com - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikeras menyatakan bahwa posisi militer Israel saat ini berada pada titik keunggulan.
Pemimpin Israel tersebut merasa yakin bahwa kekuatan Iran mulai melemah seiring berjalannya konflik selama satu bulan.
Rencana besar untuk meneruskan agresi militer ke wilayah Iran bahkan telah disusun bersama pihak Amerika Serikat.
Namun, pernyataan optimistis dari kantor perdana menteri tersebut justru mendapatkan gelombang penolakan dari dalam negeri sendiri.
Pihak oposisi mulai menyuarakan keraguan terhadap klaim sepihak yang terus digaungkan oleh Benjamin Netanyahu tersebut.
Para penentang kebijakan pemerintah menilai Netanyahu tidak memiliki rencana jangka panjang yang jelas untuk mengakhiri perang.
Oposisi menuduh sang perdana menteri sering membesar-besarkan pencapaian militer yang sebenarnya sangat minim di lapangan.
Realita di medan tempur dianggap sangat kontras dengan narasi kemenangan yang sering dipublikasikan secara resmi.
Kondisi Israel justru dilaporkan semakin terjepit akibat intensitas serangan dari Teheran yang tidak kunjung mereda.
Baca Juga: Sempat Tertahan, Kapal RI Kini Bisa Lewat Selat Hormuz? Ini Update Terbarunya
Hingga detik ini, wilayah Israel masih terus menjadi sasaran empuk bagi kiriman drone dan rudal Iran.
Ancaman tidak hanya datang dari satu arah karena milisi Hizbullah di Lebanon turut menghujani roket.
Kelompok Houthi dari Yaman kini muncul sebagai kekuatan ketiga yang memberikan pukulan telak bagi keamanan Israel.
"Akibatnya, Israel mulai melakukan rasionalisasi penggunaan sistem pertahanan udaranya karena tekanan yang berlebihan, harus menghadapi ancaman rudal dan serangan dari berbagai arah sekaligus," bunyi laporan Al Jazeera.
Pemanfaatan sistem intersepsi rudal kini harus diatur sangat ketat karena stok amunisi pertahanan yang terbatas.
Situasi darurat ini memaksa militer Israel bekerja ekstra keras dalam menghalau proyektil dari banyak arah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Internal Politik Israel Panas! Benjamin Netanyahu Ancam Keluar dari Partai Likud
-
Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur
-
Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan
-
Gempa Susulan 4,8 M Guncang Venezuela, Korban Tewas Tembus 1400 Jiwa
-
Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI, Forum Konferensi Republik Terpaksa Pindah ke Kafe
-
Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II
-
81 Tahun Menanti, Warga Sipiongot Beri Tradisi Ini ke Bobby Nasution Usai Jalan Tembus Dibangun
-
DJKI Cermati 124 Situs Hasil Laporan Motion Picture Association