- Iran menolak negosiasi damai setelah membongkar rencana licik AS yang diam-diam mempersiapkan invasi darat mematikan di bawah kedok diplomasi.
- Media Washington Post melaporkan Pentagon menyiapkan operasi pasukan khusus ke Pulau Kharg yang ditandai dengan tibanya 3.500 prajurit Marinir AS.
- Ketua Parlemen Iran memastikan tentaranya bersiaga penuh dan siap menembakkan peluru mematikan ke setiap prajurit AS yang berani mendarat di negara mereka.
Suara.com - Tensi peperangan di Timur Tengah terus memanas memasuki hari ke-30 setelah pemerintah Iran mengungkap adanya rencana licik yang sedang disusun oleh Militer Amerika Serikat.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, secara terbuka menuding Presiden Donald Trump menggunakan narasi diplomasi damai hanya sebagai kedok untuk mempersiapkan invasi darat.
Kabar mengenai pengerahan pasukan darat dalam Operasi Epic Fury yang menargetkan strategi wilayah seperti Pulau Kharg ini menjadi alasan kuat bagi pihak Teheran untuk menolak negosiasi negosiasi.
Rencana serangan darat tersebut sebelumnya juga telah diterbitkan oleh media ternama Washington Post berdasarkan bocoran keterangan dari sejumlah sumber internal pemerintahan.
Laporan eksklusif itu menyebutkan bahwa Departemen Pertahanan AS sedang mempersiapkan operasi darat khusus yang bisa berlangsung selama beberapa minggu hingga hitungan bulan.
Rencana operasi militer darat ini diyakini akan memicu fase peperangan baru yang jauh lebih berbahaya dibandingkan aksi saling serang rudal selama empat pekan terakhir.
Sinyal ancaman ini semakin menguat setelah otoritas militer AS mengumumkan kedatangan 3.500 prajurit dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 di kawasan Timur Tengah.
Para pejabat pemerintah memperingatkan bahwa operasi darat ini bukan berupa invasi skala penuh, melainkan penyerbuan yang melibatkan pasukan khusus.
Operasi berbahaya ini membawa risiko sangat tinggi karena pasukan darat AS akan langsung berhadapan dengan serangan pesawat tak berawak, rudal, tembakan darat, hingga alat ledakan improvisasi milik musuh.
Baca Juga: Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Target utama dari invasi darat Pentagon ini disebut-sebut meliputi pusat ekspor minyak utama Iran di pesisir Pulau Kharg serta daerah strategis di sekitar Selat Hormuz.
Menyikapi pergerakan musuh tersebut, Mohammad Bagher Qalibaf memberikan peringatan mematikan kepada pasukan lawan yang berani menginjakkan kaki di tanah mereka.
“AS berbicara tentang negosiasi secara terbuka namun diam-diam merencanakan serangan darat. Tentara kami sedang menunggu operasi darat AS dan siap untuk menghukum mitra mereka di wilayah tersebut," ujar Mohammad Bagher Qalibaf dikutip dari Haberler, Senin (30/3/2026).
Petinggi parlemen itu menegaskan bahwa pasukannya sudah bersiaga penuh untuk menghabisi setiap tentara asing yang mencoba mendarat di wilayah kedaulatan Republik Islam tersebut.
“Musuh secara terbuka mengirimkan pesan negosiasi sambil diam-diam merencanakan serangan darat. Pasukan kami sedang menunggu tentara Amerika mendarat dan melepaskan tembakan ke arah mereka.”
Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menolak untuk memberikan komentar yang secara definitif mengonfirmasi rumor operasi darat mematikan tersebut.
“Adalah tugas Pentagon untuk mempersiapkan diri memberikan pilihan sebanyak mungkin kepada Panglima Tertinggi. Ini tidak berarti Presiden telah mengambil keputusan.”
Perang besar ini sendiri meletus pada tanggal 28 Februari lalu ketika Israel dan AS melancarkan serangan militer tepat ketika proses negosiasi sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.
Serangan yang merenggut nyawa mantan pemimpin Iran Ali Khamenei itu langsung dibalas oleh Teheran dengan menggempur pangkalan militer AS di Israel, Qatar, UEA, hingga Bahrain.
Berita Terkait
-
Tak Ada 'Hilal' Perang AS - Israel vs Iran Berakhir
-
Krisis Listrik Melanda Iran Utara Akibat Rudal Israel Hantam Menara Tegangan Tinggi di Teheran
-
Rudal Ansar Allah Hantam Israel Demi Bela Iran, Serangan Besar Akan Terus Berlanjut ke Zionis
-
Paus Leo Kritik Donald Trump: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Pengobar Perang
-
Misteri Kapal Tanker Iran yang Ditahan di Indonesia, Bagaimana Statusnya Kini?
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Polandia Pecahkan Rekor Suhu Tertinggi 40,5C, Gelombang Panas Eropa Bergerak ke Timur
-
Italia Siaga Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Tembus 40 C Korban Jiwa Berjatuhan
-
Gempa Susulan 4,8 M Guncang Venezuela, Korban Tewas Tembus 1400 Jiwa
-
Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Dibatalkan Sepihak oleh Kampus UI, Forum Konferensi Republik Terpaksa Pindah ke Kafe
-
Tim Jibom Polda Papua Musnahkan 2 Granat Nanas Peninggalan Perang Dunia II
-
81 Tahun Menanti, Warga Sipiongot Beri Tradisi Ini ke Bobby Nasution Usai Jalan Tembus Dibangun
-
DJKI Cermati 124 Situs Hasil Laporan Motion Picture Association
-
Open House Sekolah Rakyat Palembang: Gus Ipul Minta Penjangkauan Siswa Dilakukan Secara Jujur