- Paus Leo pada Minggu Palma di Vatikan mengkritik para pemimpin AS dan Israel memerangi Iran.
- Paus menekankan bahwa Yesus menolak kekerasan dan tidak akan mendengarkan doa mereka yang tangannya berlumuran darah.
- Polisi Israel melarang Kardinal Pizzaballa memimpin Misa Palma di Yerusalem, memicu kecaman dari sejumlah pemimpin dunia.
Suara.com - Paus Leo mengatakan Tuhan menolak doa para pemimpin yang mengobarkan Prang dan yang tangannya berlumuran darah. Hal itu dikatakan pemimpin umat Katolik sedunia itu saat berkotbah dalam Misa Minggu Palma (29/3/2026) di Vatikan.
Kotbah itu disampaikan Paus Leo, paus pertama asal Amerika Serikat, ketika Trump dan Israel sedang mengobarkan perang di Iran. Selain itu belum lama ini Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga berdoa di depan publik memohon agar Tuhan memberikan penderitaan untuk para musuh yang layak menerimanya.
"Ini Tuhan kita: Yesus sang Raja Damai yang menolak perang, Dia yang tak bisa digunakan untuk melegalkan perang," kata Paus Leo dalam kotbahnya dalam misa yang dihadiri ribuan orang di Lapangan St Petrus, Vatikan.
"Ia tak mendengar dan menolak doa dari mereka yang mengobarkan perang," tegas Paus.
"Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah," lanjut Paus Leo mengutip Kitab Yesaya.
Dalam kotbah yang sama Paus juga mengutip ayat dalam Injil yang menceritakan saat Yesus memarahi para muridnya yang mencabut pedang untuk mengusir tentara yang akan datang untuk menangkapnya.
Yesus, kata Paus Leo, tidak mempersenjatai dirinya.
"Ia menunjukkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan. Alih-alih menyelamatkan diri, Yesus membiarkan dirinya dipaku di kayu salib," lanjut Paus yang sebelumnya berkali-kali mendesak agar perang di Timur Tengah dihentikan dan diselesaikan dengan dialog.
Kotbah Paus itu disampaikan ketika para pemimpin Amerika Serikat semakin sering memamerkan dan menonjolkan "kesalehan" mereka di depan publik. Hegseth, yang ngotot menyebut Kementerian Pertahanan AS sebagai Kementerian Perang, pada pekan lalu memicu kontroversi karena menutup pidatonya dengan doa.
Baca Juga: USS Tripoli Tiba di Timur Tengah Bawa Ribuan Marinir Saat Isu Serangan Darat ke Iran Memanas
"Biarlah setiap peluru mengenai sasarannya demi melawan musuh-musuh kebenaran dan bangsa kita yang agung. Berikanlah mereka hikmat dalam setiap keputusan, ketabahan menghadapi cobaan yang menghadang, persatuan yang tak tergoyahkan, serta kedahsyatan aksi yang menghancurkan terhadap mereka yang tidak layak menerima belas kasihan," doa Hegseth.
Hegseth sendiri adalah jemaat gereja evangelis di AS yang pendirinya merupakan seorang tokoh nasionalis Kristen.
Hegseth sendiri sudah digugat oleh Americans United for Separation of Church and State, sebuah organisasi nonprofit di AS yang memperjuangkan pemisahan antara negara dan agama di AS. Gugatan itu dilayangkan karena Hegseth menggelar doa bulanan di Pentagon untuk mendukung perang di Iran.
Minggu Palma adalah permulaan Pekan Suci dalam tradisi Katolik. Pada Minggu Palma umat memperingati kedatangan Yesus di Yerusalem, sebelum ia menggelar perjamuan terakhirnya pada Kamis Putih, disalib dan mati pada Jumat Agung dan bangkit pada Minggu Paskah - perayaan paling penting dalam Katolik.
Tetapi pada Minggu Palma kemarin polisi Israel juga melarang Kardinal Pierbattista Pizzaballa, uskup dan pemimpin Gereja Katolik yang membawahi Palestina dan Israel, untuk merayakan Misa di Gereja Makam Kudus di Yerusalem.
Kardinal Pierbattista Pizzaballa dihadang dan diusir bersama beberapa rekannya saat sedang menuju gereja tersebut.
Pemerintah Israel mengatakan langkah itu diambil demi keselamatan karena Yerusalem sering menjadi sasaran misil dan drone Iran. Tapi alasan itu dinilai dibuat-buat karena sebelumnya para pemuka Yahudi masih diizinkan beribadah di Yerusalem.
Alhasil sejumlah pemimpin dunia mengecam pemerintah Israel, termasuk Presiden Prancis, Spanyol, Italia dan Duta Besar AS untuk Israel.
Berita Terkait
-
Misteri Kapal Tanker Iran yang Ditahan di Indonesia, Bagaimana Statusnya Kini?
-
Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
-
Aparat Israel Halangi Pemimpin Gereja Masuk Makam Kudus di Misa Minggu Palma
-
Pesawat AWACS E-3 Milik AS Hancur Kena Serangan Iran di Arab Saudi
-
30 Hari Perang Iran Lawan AS-Israel, Empat Negara Gelar Pertemuan Darurat
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kami Cari Lawan yang Lebih Kuat! India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026
-
Simulasi Kredit Syariah Toyota Avanza dan Spesifikasi Agar Finansial Aman, Gaji Minimal Berapa?
-
Evolusi Kemiren: Dialektika Kepemimpinan Kang Edai dan Ekosistem DSA
-
Guru Kini Bisa Lapor Langsung Temuan Janggal MBG ke BGN via Email Khusus
-
Awas, Sering Dianggap Remeh! Ini Alasan Hepatitis A Jauh Lebih Berbahaya pada Orang Dewasa
-
Edukasi Pencegahan KDRT: FH UNY Gandeng 'Aisyiyah Sewon Utara Perkuat Relasi Keluarga Sakinah
-
Hunian Dekat Alam, Cara Baru Menikmati Hidup di Tengah Padatnya Kota
-
iCAR Indonesia Perluas Jangkauan Dealer di Kawasan Bisnis Jakarta
-
Truk Hantam 3 Motor di JLS Salatiga, 1 Orang Tewas
-
5 Lip Cream Wardah yang Tahan Lama dan Tidak Bikin Bibir Kering Sesuai Review