- Warga bantaran rel Jakarta seperti Selamet (55) yang hidup dari memulung berharap penuh pada janji relokasi Presiden Prabowo ke rumah susun.
- Selamet bersedia pindah ke rusun asalkan gratis atau biaya sewanya terjangkau sesuai kemampuan ekonominya sebagai pekerja informal.
- Warga skeptis terhadap proses birokrasi tingkat bawah karena pernah mengalami pembatalan sosialisasi dan ketidakadilan pembagian bantuan.
Suara.com - Di balik bisingnya mesin kereta api yang melintas setiap waktu, terselip harapan besar sekaligus kekhawatiran mendalam dari warga yang mendiami pinggiran rel di Jakarta. Salah satunya adalah Selamet Riadi (55), pria asal Tegal yang sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya di bantaran rel sejak usia tujuh tahun.
Selamet menjadi saksi hidup bagaimana kemiskinan memaksanya bertahan di tempat yang mempertaruhkan nyawa. Pekerjaannya yang dulu pedagang mainan keliling, kini berganti menjadi pemulung demi menyambung hidup.
"Ya risikolah, orang namanya juga saya orang nggak mampu, pengen ngontrak nggak ada duite (uangnya). Jadi mau nggak mau tinggal di sini, ya harus berhati-hatilah," ujar Selamet saat ditemui di kediamannya baru-baru ini.
Harapan pada Sosok Prabowo
Nama Presiden Prabowo Subianto belakangan menjadi buah bibir di kawasan tersebut. Kabar mengenai rencana relokasi warga pinggir rel ke rumah susun (rusun) membawa angin segar. Selamet menceritakan momen ketika sang Presiden datang langsung dan bertanya kepadanya.
"Tapi saya sempat ditanyain sama Bapak Presiden nih, 'Kamu mau rumah?' 'Mau Pak, yang penting gratis Pak' gitu. Daripada saya tinggal di sini gitu. Tinggal di sini juga risiko, takutnya ada kereta gitu," tuturnya menirukan percakapan kala itu.
Selamet mengaku sangat berterima kasih jika janji tersebut benar-benar terealisasi. Baginya, pindah ke hunian yang lebih layak adalah mimpi untuk mengubah garis hidup.
"Ya terima kasih banyak gitu sama Bapak Prabowo gitu kalau bener-bener orang sini mau dipindahin. Ya harapan saya ya pengen berubahlah biar nggak tinggal di sini gitu," tambahnya.
Trauma Birokrasi dan Ketidakpercayaan pada RT
Meski menyambut baik janji Presiden, Selamet tak bisa menyembunyikan rasa skeptisnya terhadap proses birokrasi di tingkat bawah. Ia mengaku sempat dimintai data KTP oleh pihak kelurahan dan wali kota, namun rencana rapat sosialisasi justru mendadak batal tanpa alasan jelas.
Ia juga mencurahkan kekecewaannya terhadap oknum pengurus lingkungan (RT) yang dianggapnya sering kali tidak adil dalam menyalurkan bantuan.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Prabowo Mau Bikin Kawasan Ekonomi Khusus Baru buat Tarik Investor Asing
"Ya kalau unek-unek saya sih gini, kalau itu udah jatuhnya ke RT, orang-orang sini udah nggak ada yang percaya. Kayak dulu contohnya sembako. Orang-orang sini yang untuk tameng doang gitu, orang-orang sini nggak ada yang dapat, yang dapat keluarganya RT-nya doang gitu," keluh Selamet dengan nada getir.
Selamet mengaku seumur hidupnya hampir tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah, kecuali satu kali bantuan uang tunai melalui ATM. Hal inilah yang membuatnya meminta agar proses relokasi nanti dilakukan secara transparan dan tanpa syarat yang menyulitkan.
"Ya kalau disuruh pindah ya saya mau pindah gitu, yang penting nggak ada persyaratan ini dan itu gitu. Nggak meribetkan. Jadi nggak bikin neko-nekolah, kalau pindah dasarnya mau dikasih ya kasih gitu, nggak pakai ini dan itu gitu," tegasnya.
Soal Bayar Rusun: ‘Asal Semampu Saya’
Terkait skema tinggal di rusun yang kabarnya hanya digratiskan selama enam bulan pertama, Selamet mengaku tidak keberatan jika nantinya harus mencicil atau membayar biaya sewa, asalkan tarifnya terjangkau dengan kantongnya sebagai pekerja serabutan.
"Ya nggak masalah kalau bener-bener ada gitu dikasih, nggak jadi masalah. Yang penting dengan semampu sayalah bayarnya, ibaratnya 500 ke bawah atau gimana gitu," pungkasnya.
Kini, Selamet dan warga pinggiran rel lainnya hanya bisa menunggu. Di antara deru kereta yang memekakkan telinga, mereka menggantungkan harapan agar janji relokasi ini bukan sekadar omon-omon atau komoditas politik semata.
"Harapan saya ya pengennya ya begitulah, orang-orang sini bener-bener dikasih tempatlah gitu, nggak cuman hanya katanya gitu," tutupnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Purbaya Ungkap Prabowo Mau Bikin Kawasan Ekonomi Khusus Baru buat Tarik Investor Asing
-
Nyamar Tanpa Lencana dan Pelat RI 1, Blusukan Prabowo di Bantaran Rel Kasih Solusi atau Pencitraan?
-
Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Menumpuk hingga 6 Meter, Ini Penyebabnya
-
Sidang Korupsi Chromebook Kembali Digelar, Nadiem Ngaku ke Hakim Baru Jalani Operasi Keempat
-
4 Bintang Persija Bersinar Bersama Timnas Indonesia, Jordi Amat Bongkar Rahasianya
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Tragedi Berdarah di Jerman: 6 Tewas dalam Penembakan, Polisi Ungkap Motif Dendam
-
China Wajibkan AI di Sekolah: Semua Siswa Wajib Kuasai Kecerdasan Buatan dalam 5 Tahun
-
Misteri Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Pemerintah Bungkam Sensor Ketat
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik