- Mantan Wapres Jusuf Kalla memperingatkan potensi krisis nasional dan chaos di Indonesia pada Juli hingga Agustus 2026 mendatang.
- Krisis dipicu tekanan fiskal akibat defisit anggaran yang besar, beban utang masa lalu, serta konflik geopolitik global yang meningkat.
- Dampak defisit anggaran berisiko melumpuhkan pelayanan publik di daerah, memicu gejolak sosial, dan menghambat stabilitas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Suara.com - Indonesia disebut berpotensi menghadapi guncangan nasional hingga chaos pada Juli–Agustus 2026. Peringatan itu disampaikan mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), sebagaimana diungkapkan Muhammad Said Didu.
Dalam acara diskusi yang diunggah Edy Mulyadi di akun YouTube @BANGEDYCHANNEL, pada Minggu (22/3/2026), Said Didu mengatakan kekhawatiran JK tersebut berkaitan dengan tekanan ekonomi dan situasi global.
"Pak JK menyatakan ini akan bisa terjadi chaos sekitar bulan Juli-Agustus. Itu yang mau dihindari," ujar Said Didu.
Said Didu membeberkan, salah satu pemicu utama potensi krisis adalah tekanan fiskal yang kian tak terkendali.
Dalam dua bulan pertama 2026 saja, defisit anggaran dan penambahan utang disebut sudah mencapai Rp200 triliun.
"Ini kan dua bulan ini 200 triliun defisitnya tambah utangnya. Januari-Februari. Beliau (JK) bilang kalau sampai Juli-Agustus berarti 1.000 triliun dong. 1.000 triliun sudah enggak mungkin lagi, mau cara apa pun enggak mungkin lagi bisa diatasi," tegas Said Didu.
Ia menilai, lonjakan defisit tersebut berpotensi melumpuhkan pelayanan publik. Indikasinya mulai terlihat di daerah, di mana anggaran ditarik ke pusat hingga pembangunan tersendat.
"Jalan-jalan akan berlubang, di daerah tidak ada uang lagi karena ditarik semua oleh pusat. Kemudian Puskesmas sudah enggak bisa melayani. Semua menjadi stagnan di pelayanan publik. Dan rakyat sudah mulai kesal," tambahnya.
Tekanan Global dan Warisan Utang Jokowi
Baca Juga: Menkeu Purbaya Lantik Fauzi Ichsan Jadi Dewan Pengawas INA
Selain persoalan domestik, faktor eksternal juga disebut memperparah situasi. JK, kata Said Didu, menyoroti eskalasi konflik Iran–Amerika Serikat yang dinilai tak terhindarkan dan berpotensi menghantam ekonomi nasional.
Di saat bersamaan, Indonesia juga masih dibebani warisan utang dari pemerintahan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.
"Dua persoalan bangsa yang di luar kendali kita yang sangat berbahaya, dan hanya satu solusi yang bisa dilakukan, dan solusi itu sangat tergantung kepada Presiden Prabowo. Masalah perang Iran dan Amerika (geopolitik) tidak bisa dihindari dan warisan Joko Widodo yang utang sangat besar juga tidak bisa dihindari," jelas Said Didu.
Kekhawatiran, kata dia, tak hanya berhenti di ekonomi. Said Didu menyebut, kebijakan yang tidak tepat sasaran berisiko memicu gejolak sosial, bahkan berbalik menjadi tekanan dari masyarakat desa.
"Salah satu Asta Citanya Prabowo adalah membangun dari desa. Tapi dengan kebijakan seperti sekarang, maka yang terjadi adalah 'serangan dari desa'. Itu bisa berbalik," ungkapnya.
Isu Manuver Politik Ditepis
Berita Terkait
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi