- Indonesia mencatat 58 Kejadian Luar Biasa campak di 39 kabupaten/kota dengan 8.224 kasus suspek hingga awal 2026.
- Penyebab utama lonjakan kasus adalah kesenjangan cakupan imunisasi, mobilitas penduduk, serta keterlambatan deteksi penularan penyakit menular tersebut.
- Pemerintah merespons dengan memperkuat investigasi epidemiologi, mempercepat vaksinasi, serta meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah terdampak.
Suara.com - Lonjakan kasus campak kembali tercatat di Indonesia pada awal 2026. Penyakit yang selama ini dikenal dapat dicegah lewat imunisasi itu muncul di puluhan wilayah dengan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hingga Februari 2026 terdapat 8.224 kasus suspek campak, dengan 572 kasus terkonfirmasi dan empat kematian.
Kementerian Kesehatan juga mencatat sedikitnya 58 KLB terjadi di 39 kabupaten/kota. Angka ini menunjukkan penyebaran yang tidak lagi bersifat sporadis, melainkan terjadi secara serentak di banyak wilayah.
Meski tren kasus mulai menurun pada Maret 2026, status KLB di sejumlah daerah belum dicabut. Pemerintah masih melanjutkan kewaspadaan dan pengendalian di wilayah terdampak.
Di tingkat daerah, lonjakan kasus juga terlihat signifikan. Dinas Kesehatan Banten, misalnya, mencatat lebih dari 2.000 kasus suspek campak hingga Maret 2026 yang mengarah pada KLB.
Celah Imunisasi dan Pergerakan Penduduk
Lonjakan kasus campak pada awal tahun ini tidak terjadi tanpa sebab. Sejumlah laporan menyebutkan adanya kesenjangan cakupan imunisasi yang masih terjadi di berbagai daerah.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai cakupan imunisasi yang belum optimal menjadi faktor utama meningkatnya kasus campak.
“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi." ujar Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K).
Piprim menegaskan bahwa situasi darurat ini memerlukan langkah luar biasa dari seluruh pemangku kepentingan. Secara global, Indonesia menempati urutan kedua kasus campak tertinggi di dunia dengan 10.744 kasus, di bawah Yaman dan di atas India berdasarkan data WHO yang dirilis CDC per Februari 2026.
Baca Juga: Bagaimana Hilangnya Hutan Tropis Memperparah Gelombang Panas Global?
Temuan serupa juga disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dalam laporan penanganan wabah di Indonesia, WHO menyebut kesenjangan imunisasi dan keterlambatan deteksi sebagai faktor yang mendorong penyebaran.
Selain itu, mobilitas penduduk turut mempercepat penyebaran. Kementerian Kesehatan mencatat adanya warga negara asing yang terinfeksi campak di Indonesia, yang menunjukkan potensi penularan lintas wilayah.
Penyakit Sangat Menular dan Upaya Pengendalian
Campak merupakan penyakit dengan tingkat penularan tinggi, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Pada awal 2026, kasus ini bahkan tercatat menimbulkan kematian.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya korban meninggal dalam lonjakan kasus tahun ini.
Sebagai respons, pemerintah memperkuat langkah pengendalian di wilayah terdampak, termasuk melalui imunisasi di daerah yang berstatus KLB.
Upaya ini dilakukan melalui investigasi epidemiologi serta percepatan vaksinasi untuk memutus rantai penularan.
Kementerian Kesehatan juga telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan nasional untuk meningkatkan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan pemerintah daerah dalam menghadapi penyebaran campak.
Dengan langkah tersebut, pemerintah menargetkan penurunan kasus sekaligus mencegah perluasan KLB di wilayah lain.
Berita Terkait
-
Bagaimana Hilangnya Hutan Tropis Memperparah Gelombang Panas Global?
-
Aset IRRA Tembus Rp2,43 Triliun, Laba Bersih Naik 23,03 Persen pada 2025
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Rumah Rasa Terapi: Tips Pilih Warna Cat Dinding Biar Mental Tetap Aman
-
Mulai Sekarang! 5 Hobi Sehat yang Bisa Kamu Kuasai Kurang dari 7 Hari
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Meski 'Satu Lawan Tujuh' di Parlemen, Puan Pastikan PDIP Tetap Berani Kritik Pemerintah
-
Ketua FMN di Aksi Kamisan: Jika Rezim Terus Menghisap Rakyat, Prabowo Akan Dijauhkan oleh Rakyat
-
KNKT Ungkap Jeda Kecelakaan Maut KRL dan Argo Bromo di Bekasi Timur Hanya 3 Menit 43 Detik
-
Eks Dirjen PHU Diperiksa, KPK Usut Pertemuan dengan Yaqut Terkait Kuota Haji
-
Puluhan Rumah di Bogor Terdampak Kebocoran Bahan Baku Semen seperti 'Hujan Abu'
-
Dirut Terra Drone Divonis 1 Tahun 4 Bulan Penjara dalam Kasus Kebakaran Tewaskan 22 Orang
-
Komisi V DPR RI Sentil Kemenhub Soal Tabrakan Kereta Bekasi: Jangan Bohong, Ini Urusan Nyawa!
-
Tiga Pendaki Tewas di Erupsi Dukono, Polisi Tetapkan Penyelenggara Open Trip Jadi Tersangka!
-
Dear BGN, IDAI Khawatir Kebijakan Susu Formula di MBG Bikin Ibu Berhenti Menyusui
-
ShopeePay Hadirkan "Pasti Gratis", Transfer ke Semua Bank dan E-Wallet Tanpa Biaya Admin