- Massa Aksi Kamisan ke-908 memperingati 28 tahun reformasi di depan Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (21/5/2026).
- Ketua Front Mahasiswa Nasional menuntut pencabutan UU TNI serta pembubaran Komando Batalion Pembangunan Teritorial oleh pemerintah saat ini.
- Para aktivis menyatakan reformasi telah mati dan mendesak masyarakat untuk kembali bangkit melawan rezim yang dianggap represif.
Suara.com - Di bawah sengatan terik matahari depan Istana Merdeka, konsistensi itu belum luntur. Kamis (21/5/2026), massa Aksi Kamisan kembali berdiri tegak untuk edisi ke-908 kalinya.
Kali ini, mereka membawa pesan besar: "28 Tahun Reformasi: Menguatnya Militerisasi Matinya Demokrasi dan Munculnya Krisis Ekonomi."
Tepat pukul 15.40 WIB, orasi demi orasi mulai membelah udara. Aksi ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya merawat ingatan atas perjuangan berdarah mahasiswa dan rakyat Indonesia hampir tiga dekade silam.
Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN), Simpati Dimas Rafii, naik ke podium rakyat. Dalam orasinya, ia memotret kemiripan kelam antara kondisi hari ini dengan situasi 28 tahun lalu.
Dimas menekankan pentingnya membangkitkan kesadaran rakyat melalui pendidikan politik yang independen.
Ia pun melontarkan peringatan keras kepada penguasa.
"Jika rezim Prabowo terus-menerus menghisap rakyat, ia harus tahu konsekuensi logis bahwa dia akan dijauhkan oleh rakyat," tegasnya di hadapan massa.
Selain refleksi politik, FMN membawa tuntutan spesifik: mendesak pencabutan UU Nomor 34 tentang TNI dan pembubaran Komando Batalion Pembangunan Teritorial yang dinilai mengancam ruang sipil.
Suasana kian memanas di pengujung orasi. Dimas meneriakkan nama sang presiden, "Prabowo Subianto!", yang langsung disambut dengan pekikan kompak massa aksi: "Rezim Anti Rakyat!".
Baca Juga: Pidato di DPR RI, Presiden Prabowo Sebut Rakyat Tak Bermimpi Hidup Kaya
Seruan itu bergema hingga tiga kali, menutup aksi dengan pesan perlawanan yang benderang.
Reformasi jalan di tempat
Sementara itu, Koordinator Bidang Sosial Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Univeristas Indonesia, Hafidz Haernanda, menegaskan era saat ini sangat kejam dan penuh represivitas.
28 tahun reformasi berjalan di tempat. Ketika reformasi berjalan tempat, ada rezim yang lebih jahat untuk membunuh reformasi.
Pemerintah saat ini kata dia, membunuh reformasi dengan membanggakan program-program yang justru menghancurkan ekonomi.
"Sayangnya, reformasi sudah mati. Dan ketika reformasi sudah mati, tidak ada pilihan lain selain kita sebagai rakyat membangunkannya kembali lagi," tegasnya.
Reporter: Cornelius Juan Prawira
Berita Terkait
-
Spanduk 'Surat Permohonan Maaf' soal Prabowo-Gibran Terpasang di Gerbang UGM, Kampus Beri Respons
-
Nilai Rezim Prabowo-Gibran Mundur, PSAD UII Sebut Amanat Reformasi 1998 Telah Dikhianati
-
Dukung Prabowo Sikat Oknum 'Coklat' dan 'Hijau' Beking Kejahatan, Sahroni: Pecat dan Pidana!
-
Pidato di DPR RI, Presiden Prabowo Sebut Rakyat Tak Bermimpi Hidup Kaya
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Kemlu Klarifikasi Kehadiran 'Wakil' Indonesia di Pemakaman Ali Khamenei
-
3 Polisi Gugur saat Gerebek Narkoba di Katingan, DPR Minta Jaringan Pelaku Dibongkar Total
-
Novel Bamukmin Diisukan Jadi Komisaris PT HIN, Pendiri ACTA Pasang Badan: Apa yang Salah?
-
Prabowo Terima PM Singapura Lawrence Wong Hari Ini, 26 Kesepakatan Siap Ditandatangani
-
Iran Lantunkan Surah Al Imran Ayat 13 saat Delegasi Arab Saudi Melayat Ali Khamenei
-
Dua Aksi Demo Digelar di Jakarta Pusat, 700 Personel Gabungan Dikerahkan
-
Benarkah Bangunan yang Lebih Tinggi Dapat Memperparah Kebakaran?
-
Lebih dari 16 Ribu Lulusan SD di Tangsel Tak Kebagian SMP Negeri saat SPMB 2026
-
120 Rumah di Tamansari Tak Punya Septic Tank
-
Kelangkaan Kursi Sekolah Jadi Akar Dugaan Jual Beli Bangku di SPMB 2026