- Indonesia mencatat 8.224 kasus campak dengan 21 KLB di berbagai provinsi selama periode Januari hingga Februari 2026.
- Virus campak sangat menular melalui droplet di udara dan permukaan benda sehingga mengancam kesehatan anak-anak dan keluarga.
- Masyarakat meningkatkan upaya pencegahan melalui perilaku hidup bersih, penggunaan masker, serta produk kebersihan Wings Group.
Sementara itu, cairan pembersih lantai yang digunakan adalah Super Sol untuk menjaga kebersihan permukaan lantai rumahnya. Ia juga rutin mengelap perabotan rumah yang sering disentuh seperti gagang pintu hingga meja dan sofa menggunakan WIZ2 spray dengan kandungan disinfektan.
Selain menjaga kebersihan rumah, Yuli juga selalu menyiapkan masker 3ply Protector dari Wingscare agar terlindung dari virus campak yang melayang di udara. Masker ini terbuat dari 2 lapis material non-woven spunbond dan non-woven meltblown spunbond yang efisiensi penyaringan bakterinya mencapai hampir 98 persen.
"Anak-anak dan suami wajib pakai masker kalau keluar rumah, supaya virus di udara gak terhirup," kata Yuli.
Produk-produk dari Wings Group lini Wings Care ini memberinya rasa tenang, setidaknya ia telah melakukan langkah maksimal dari sisi yang bisa ia kendalikan.
Penularan Campak
Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh virus campak (morbilivirus) yang menyebar dengan sangat cepat melalui percikan droplet dari penderita—baik saat batuk, bersin, maupun berbicara.
Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A., Subsp.IPT (K) menjelaskan bahwa virus campak memiliki kemampuan bertahan di udara dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini membuat penularannya sulit dikendalikan, terutama di lingkungan dengan mobilitas tinggi.
"Sama seperti Covid-19, virus melayang-layang di udara lebih dari dua jam, menempel di permukaan, debu," ujar nya dalam media briefing IDAI, Sabtu (28/2/2026).
Risiko penularan tidak hanya terjadi melalui kontak langsung antarmanusia. Droplet yang jatuh dan menempel di permukaan benda, seperti meja, gagang pintu, atau peralatan rumah tangga lainnya juga bisa menjadi perantara penyebaran virus. Terlebih jika seseorang menyentuhnya lalu menyentuh wajah tanpa mencuci tangan.
Selain sangat menular, penyakit ini juga menyimpan ancaman serius. Penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi berat, mulai dari infeksi telinga, diare, hingga pneumonia, terutama pada anak-anak. Sekitar 86 persen kematian akibat campak disebabkan oleh infeksi paru-paru atau pneumonia.
Infeksi campak juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, penderita menjadi lebih mudah terserang penyakit lain, bahkan setelah sembuh dari infeksi utama.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2), dr. Andi Saguni mengatakan, kejadian luar biasa (KLB) campak sebenarnya dapat dicegah. Kuncinya adalah membangun kekebalan kelompok melalui imunisasi yang lengkap dan tepat waktu, khususnya pada anak-anak.
Selain itu, upaya pencegahan juga perlu diperkuat melalui penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.
"Komunikasi, informasi, dan edukasi terus digalakkan agar masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang," ujarnya.
Inovasi Wings Group
Di tengah kekhawatiran akan penularan penyakit yang semakin nyata, peran produk kebersihan rumah tangga menjadi semakin krusial. Menjawab kebutuhan itu, Wings Group terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kondisi masyarakat.
Salah satunya adalah SoKlin Antisep, yakni deterjen dengan kandungan disinfektan yang dirancang untuk membantu membunuh virus, kuman, dan bakteri yang menempel pada pakaian. Produk yang diluncurkan pada pertengahan 2021 saat pandemi COVID-19 ini mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan sebagai bentuk perlindungan diri.
Berita Terkait
-
Piala Dunia 2026 Dihantui Penyebaran Penyakit Menular dari Campak, Hepatitis Hingga Ebola
-
BPOM Catat 10 Kematian Akibat Campak, Akses Vaksin Inovatif Dikebut
-
Menkes Sebut Isu Halal-Haram dan Dampak Pandemi Jadi Pemicu Tingginya Kasus Campak
-
Pandemi Senyap 2026: Mengapa Anak Indonesia Kembali Diserang Campak?
-
Dinkes DKI Pastikan Belum Ada Kasus Positif Campak di Jakarta, Pengawasan Tetap Diperketat
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Antisipasi El Nino, BMKG Pasang Alat Pancing Hujan di Sejumlah Gedung Tinggi Jakarta
-
Selat Hormuz Dibuka, Iran Sepakati Damai dengan AS Demi Cairkan Aset Rp400 Triliun
-
Tak Ada Ampun! UPN Yogyakarta Sanksi 5 Dosen Terbukti Pelecehan, Satu Orang Terancam Pecat
-
Detik-Detik Mencekam Saat Jurnalis ABC Terjebak Penembakan Gedung Putih
-
Dilaporkan Kasus Dugaan Penyekapan Putri Ahmad Bahar, Hercules Terancam Hukuman 7 Tahun Penjara!
-
Rentetan Tembakan Mencekam Paksa Gedung Putih Lockdown Total
-
Penembakan Gedung Putih, Pengamanan Donald Trump Diperketat Usai Insiden Baku Tembak Berdarah
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan