- Wabah campak di Bangladesh sejak Maret menyebabkan 130 anak meninggal dunia dan lebih dari 6.400 kasus dilaporkan.
- Pemerintah meluncurkan program vaksinasi darurat bagi 1,3 juta anak guna menekan lonjakan kasus yang membebani rumah sakit.
- Kekurangan pasokan vaksin menjadi kendala utama dalam menangani penyebaran penyakit menular yang sangat berbahaya bagi anak-anak tersebut.
Suara.com - Wabah Campak melanda Bangladesh dengan dampak mematikan. Setidaknya 130 anak dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 6.400 kasus suspek tercatat sejak pertengahan Maret.
Otoritas kesehatan mengungkapkan lonjakan kasus terjadi sangat cepat.
“Jumlah anak yang terdampak dan angka kematian tahun ini lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya,” kata Halimur Rashid dilansir dari Dailystar.
Rumah sakit di berbagai wilayah kewalahan Bangladesh menangani pasien.
Ratusan anak dilaporkan masuk fasilitas kesehatan setiap hari, terutama bayi di bawah sembilan bulan yang belum mendapat imunisasi lengkap.
Pemerintah pun bergerak cepat dengan meluncurkan program vaksinasi darurat.
Targetnya lebih dari 1,3 juta anak usia enam bulan hingga lima tahun segera mendapatkan perlindungan.
Namun, masalah ketersediaan vaksin menjadi sorotan utama. “Situasi ini disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi salah satu yang krusial adalah kekurangan vaksin,” ujar Rashid.
Pakar kesehatan masyarakat, Tajul Islam A Bari juga mengkritik respons pemerintah. Tajul menyebut kondisi saat ini menakutkan.
Baca Juga: Alarm Merah Campak 2026: Mengapa Penyakit Kuno Ini Kembali Menghantui Indonesia?
“Dana sudah dialokasikan, tetapi vaksin tidak berhasil dipenuhi. Sekarang kita melihat dampaknya,” tegasnya.
Menurut World Health Organization, campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia.
Penyakit ini menyebar melalui udara dan dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian, terutama pada anak-anak.
Gejala umumnya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, dan ruam di seluruh tubuh. Tanpa vaksinasi yang memadai, penyebaran virus ini sangat sulit dikendalikan.
Lonjakan kasus tahun ini menjadi peringatan keras bagi sistem kesehatan di negara Asia Selatan tersebut.
Berita Terkait
-
Alarm Merah Campak 2026: Mengapa Penyakit Kuno Ini Kembali Menghantui Indonesia?
-
Kabar Duka Dokter Muda Tewas Akibat Campak: Bukan Sekadar Penyakit Anak-Anak!
-
Komisi IX DPR RI Dorong Jateng Gencarkan Imunisasi dan Edukasi, Antisipasi Lonjakan Campak
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina