-
Donald Trump mengancam bom jembatan dan pembangkit listrik Iran tanpa takut tuduhan kejahatan perang.
-
Pakar hukum memperingatkan bahwa menghancurkan fasilitas sipil melanggar hukum kemanusiaan internasional secara serius.
-
Ketegangan militer ini memicu kekhawatiran krisis energi global dan dampak fatal bagi warga sipil.
Ketegangan ini telah berdampak langsung pada terhentinya arus pengiriman minyak di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.
Tersendatnya jalur ini menyebabkan harga minyak mentah melonjak tajam dan menciptakan ketidakpastian di pasar saham global.
Di tengah situasi tersebut, Trump justru mempertegas bahwa setiap pusat pembangkit listrik di Iran akan segera meledak dan terbakar.
Ia mengklaim fasilitas tersebut tidak akan bisa digunakan kembali untuk selamanya jika perintah serangan telah diturunkan oleh Gedung Putih.
“Saya harap saya tidak perlu melakukannya,” tambah Trump singkat saat menjelaskan opsi militer yang dimilikinya.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, memberikan pembelaan dengan menyebut bahwa rakyat Iran sebenarnya mengharapkan adanya intervensi militer.
“Rakyat Iran menyambut suara bom karena itu berarti penindas mereka kalah,” tulis Kelly dalam sebuah pesan elektronik resmi.
Pihak pemerintah AS menuduh rezim Teheran telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat berat selama hampir lima dekade terakhir.
Kelly juga menuding Iran bertanggung jawab atas kematian puluhan ribu demonstran serta melakukan serangan tanpa pandang bulu di kawasan tersebut.
Baca Juga: Jejak Navy SEAL Team Six Pasukan Pemburu Osama Bin Laden Evakuasi Pilot Amerika Yang Ditembak Iran
Kini, fokus target serangan meluas hingga ke Pulau Kharg yang merupakan pusat industri minyak serta fasilitas desalinasi air minum.
Melalui platform Truth Social, Trump memperingatkan akan memusnahkan seluruh sumur minyak dan pembangkit listrik yang selama ini belum disentuh.
Pada momen Minggu Paskah, ia bahkan menggunakan istilah yang sangat keras untuk menggambarkan hari penghancuran infrastruktur tersebut bagi Iran.
“Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu,” ancam Trump sambil menyebut Iran akan mengalami penderitaan hebat.
Michael Schmitt, seorang profesor dari University of Reading, menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk ancaman tindakan melanggar hukum yang sangat jelas.
Ia menjelaskan bahwa pembangkit listrik hanya boleh diserang jika terbukti memberikan suplai energi secara langsung bagi basis militer.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- Mitsubishi Destinator dan XForce Lagi Promo di Bulan Mei, Harga Jadi Segini
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Ratusan Ponsel Pelaku Begal Diperiksa, Polda Metro Jaya Dalami Jaringan
-
Viral Mobil Porsche Gunakan Pelat Dinas Mabes TNI, Kapuspen Duga Palsu
-
ShopeeVIP Gandeng Duolingo, Bikin Belanja Lebih Hemat & Upgrade Diri Lebih Menyenangkan
-
Plot Twist Muse Model Ngaku Dibegal di Jakbar, Hasil Visum: Itu Bisul Meletus
-
Airlangga: Kebijakan DHE dan Ekspor via Danantara Mulai Berlaku 1 Juni 2026
-
Jakarta Dikepung 24 Ribu CCTV, Polda Metro Jaya: Penjahat Tak Punya Ruang Gerak!
-
Bersih-bersih Jakarta! Polda Metro Jaya Tangkap 173 Bandit Jalanan, Sita 8 Senjata Api
-
Banten Daerah Industri, Marinus Gea Desak Program HAM Fokus Lindungi Hak Buruh
-
Eks Gubernur BI Beri Masukan ke Prabowo soal Penanganan Hadapi Krisis
-
Jakarta Barat Kini Berjuluk 'Gotham City', Hardiyanto Kenneth: Saya Jadi Batman!