-
PM Australia Anthony Albanese mendesak agar Lebanon dilibatkan dalam gencatan senjata AS-Iran.
-
Serangan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang di tengah kesepakatan damai regional.
-
Pemimpin dunia menyerukan perluasan cakupan perdamaian demi stabilitas keamanan dan ekonomi global.
Suara.com - Pemerintah Australia memberikan pernyataan resmi mengenai situasi keamanan yang semakin memanas di wilayah Timur Tengah.
Perdana Menteri Anthony Albanese menekankan pentingnya perluasan cakupan perdamaian agar menyentuh wilayah kedaulatan Lebanon.
Pemimpin Negeri Kanguru tersebut melihat adanya kebutuhan mendesak untuk menghentikan kekerasan bersenjata yang terus berlangsung.
"Pemerintah Australia juga sangat yakin bahwa (kesepakatan gencatan senjata) ini juga harus berlaku untuk Lebanon," kata Albanese dikutip dari Sputnik.
Visi utama dari kebijakan luar negeri Canberra saat ini adalah terciptanya ketenangan yang menyeluruh.
Keinginan kuat Australia untuk menyaksikan berakhirnya pertikaian di Timur Tengah disampaikan secara terbuka oleh Albanese.
"Dan saya tahu bahwa banyak warga Australia prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Lebanon. Ini bukan hanya masalah dampak di sana, tetapi juga dampak yang ditimbulkannya di seluruh dunia," tutur Albanese.
Dampak dari ketidakstabilan di wilayah tersebut kini telah dirasakan oleh masyarakat internasional secara luas.
Pihak Australia memberikan apresiasi terhadap langkah diplomatik yang diambil oleh Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Kapal Tanker Terpaksa Putar Balik di Oman
Kesepakatan jeda pertempuran selama dua pekan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi negosiasi jangka panjang.
Selain masalah militer, Australia juga menaruh perhatian besar pada aspek ekonomi dan logistik global.
Pemerintah sedang menjalin koordinasi intensif dengan berbagai negara mitra di tingkat internasional.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan kelancaran arus transportasi kapal melalui Selat Hormuz yang vital.
Pemulihan jalur ini sangat krusial guna menjamin distribusi sumber daya penting tidak mengalami hambatan.
Di sisi lain, desakan serupa juga datang dari para pemimpin negara-negara kuat di benua Eropa.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Donald Trump Minta Benjamin Netanyahu Kurangi Serangan ke Lebanon Demi Kelancaran Gencatan Senjata
-
Pusing Harga Pakan Naik? Peternak di Lombok Ini Sukses Tekan Biaya Hingga 70 Persen Lewat Maggot
-
Persib Perketat Keamanan Jelang Lawan Bali United, Suporter Tamu Dilarang Hadir
-
Petaka di Parkiran Pasar: Nabi Tewas Digorok, Pelaku Dihabisi Massa, Polisi Diam
-
DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global
-
Kejati Jakarta Sita Sejumlah Dokumen Usai Geledah Ruangan Dirjen SDA dan Cipta Karya Kementerian PU
-
Diperiksa KPK, Haji Her Bantah Kenal Tersangka Korupsi Bea Cukai
-
Lift Mati Saat Blackout, 10 Penumpang MRT Lebak Bulus Dievakuasi Tanpa Luka
-
Ada Nama Riza Chalid, Kejagung Tetapkan 7 Tersangka Dugaan Korupsi Petral
-
Al A'Raf: Panglima TNI dan Menhan Harus Diminta Pertanggungjawaban di Kasus Andrie Yunus