-
PM Lebanon meminta Pakistan mendukung penghentian serangan militer Israel terhadap warga sipil Beirut.
-
Pakistan berperan sebagai mediator kunci dalam gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Israel mengecualikan Lebanon dari gencatan senjata karena faktor keterlibatan gerakan Hizbullah.
Suara.com - Situasi keamanan di Lebanon kini berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan akibat eskalasi militer.
Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara resmi telah menghubungi pemerintah Pakistan untuk meminta bantuan diplomatik.
Permintaan ini bertujuan agar Pakistan mendukung upaya penghentian segera agresi Israel terhadap wilayah Beirut.
Langkah ini diambil mengingat banyaknya warga sipil yang menjadi korban dalam rangkaian serangan udara tersebut.
Kantor Perdana Menteri Lebanon merilis keterangan resmi ini setelah adanya komunikasi via telepon.
Nawaf Salam berbicara langsung dengan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, pada hari Kamis waktu setempat.
Dalam percakapan tersebut, pihak Lebanon menyatakan apresiasi mendalam atas inisiatif perdamaian yang selama ini diupayakan Pakistan.
"Sambil mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Shehbaz Sharif atas upaya perdamaiannya, Perdana Menteri Lebanon meminta dukungan Pakistan untuk mengakhiri segera serangan yang menargetkan Lebanon dan rakyatnya," demikian bunyi pernyataan tersebut dikutip dari Sputnik.
Keterlibatan Pakistan dianggap sangat krusial karena posisinya sebagai aktor kunci dalam stabilitas kawasan.
Baca Juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Kapal Tanker Terpaksa Putar Balik di Oman
Selama ini, Pakistan berperan besar menjembatani komunikasi antara Amerika Serikat dan pihak Iran.
Keberhasilan mediasi Pakistan sebelumnya telah membuahkan hasil yang cukup signifikan bagi peta politik global.
Presiden AS, Donald Trump, sempat mengumumkan pemberlakuan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran.
Kesepakatan tersebut membawa dampak positif bagi jalur distribusi energi internasional yang sangat vital.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi pada hari Rabu perihal pembukaan kembali Selat Hormuz.
Wilayah perairan ini sangat penting karena menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Namun, di tengah angin segar gencatan senjata tersebut, serangan militer justru menghantam Lebanon selatan.
Pesawat tempur dan artileri milik Israel dilaporkan membombardir puluhan permukiman di wilayah tersebut.
Salah satu kota besar yang menjadi sasaran utama dari gempuran militer ini adalah kota Tyre.
Serangan ini terjadi di hari yang sama saat pengumuman pembukaan Selat Hormuz disiarkan ke publik.
Kondisi di lapangan menunjukkan kerusakan infrastruktur yang cukup parah akibat ledakan artileri tersebut.
Ketegangan semakin memuncak ketika Donald Trump memberikan pernyataan terkait cakupan wilayah gencatan senjata.
Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran.
Alasan utamanya adalah adanya keterlibatan gerakan Hizbullah yang aktif di wilayah kedaulatan Lebanon tersebut.
Hal ini menciptakan celah besar dalam upaya perdamaian yang sedang diusahakan oleh para mediator internasional.
Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari pihak Teheran yang merasa kesepakatan telah dikhianati.
Pihak Iran menilai berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon sebagai sebuah tindakan provokatif.
Iran menganggap ini sebagai pelanggaran gencatan senjata yang dicapai pihaknya dengan Washington.
Ketidakpastian ini membuat posisi Lebanon semakin terjepit di tengah konflik kepentingan kekuatan besar.
Oleh karena itu, dukungan Pakistan sangat diharapkan untuk menekan Israel agar segera menghentikan operasinya.
Tanpa adanya tekanan internasional, dikhawatirkan jumlah korban sipil di Lebanon akan terus bertambah.
Pemerintah Lebanon tetap optimis bahwa jalur diplomatik masih bisa menjadi solusi terbaik saat ini.
Keamanan warga sipil menjadi prioritas utama yang harus diperjuangkan oleh PM Nawaf Salam.
Dunia kini menanti bagaimana Pakistan akan merespons permintaan bantuan dari negara sahabat tersebut.
Upaya gencatan senjata yang menyeluruh sangat dibutuhkan untuk mencegah perang yang lebih luas.
Keseimbangan stabilitas di Timur Tengah saat ini bergantung pada efektivitas negosiasi antar negara kunci.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Pasokan Minyak Dunia Anjlok 13 Persen Akibat Perang Timur Tengah Menurut Bos IMF
-
Dunia Desak Israel Segera Berhenti Serang Lebanon
-
Donald Trump Minta Benjamin Netanyahu Kurangi Serangan ke Lebanon Demi Kelancaran Gencatan Senjata
-
Pusing Harga Pakan Naik? Peternak di Lombok Ini Sukses Tekan Biaya Hingga 70 Persen Lewat Maggot
-
Persib Perketat Keamanan Jelang Lawan Bali United, Suporter Tamu Dilarang Hadir
-
Petaka di Parkiran Pasar: Nabi Tewas Digorok, Pelaku Dihabisi Massa, Polisi Diam
-
DPR Minta Kemenaker Siaga Hadapi Ancaman PHK Akibat Gejolak Global
-
Kejati Jakarta Sita Sejumlah Dokumen Usai Geledah Ruangan Dirjen SDA dan Cipta Karya Kementerian PU
-
Diperiksa KPK, Haji Her Bantah Kenal Tersangka Korupsi Bea Cukai
-
Lift Mati Saat Blackout, 10 Penumpang MRT Lebak Bulus Dievakuasi Tanpa Luka