-
Iran mengancam batalkan gencatan senjata jika Israel terus melancarkan serangan udara di Lebanon.
-
Serangan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang saat periode gencatan senjata AS-Iran berlangsung.
-
Netanyahu mengklaim Lebanon tidak termasuk wilayah kesepakatan damai antara pihak Amerika dan Iran.
Sesuai jadwal yang telah disusun, kedua belah pihak seharusnya bertemu di Pakistan untuk melakukan negosiasi lanjutan.
Pertemuan penting tersebut rencananya bakal diselenggarakan pada tanggal 10 April sebagai upaya memperpanjang masa damai.
Namun, realita di lapangan justru menunjukkan pemandangan yang sangat kontras dengan semangat perdamaian di atas meja diplomasi.
Jet-jet tempur milik militer Israel dilaporkan masih aktif melakukan pemboman di berbagai titik strategis di wilayah Lebanon.
Eskalasi kekerasan ini membuat peluang keberhasilan negosiasi di Pakistan menjadi semakin kecil dan dipenuhi ketidakpastian.
Data terbaru menunjukkan bahwa serangan militer Israel telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat memprihatinkan.
Hanya dalam waktu satu hari pada hari Rabu, tercatat sedikitnya 254 nyawa melayang akibat serangan udara tersebut.
Selain korban tewas, otoritas kesehatan setempat juga mencatat sebanyak 1.165 orang mengalami luka-luka akibat ledakan bom.
Angka-angka ini menunjukkan betapa masifnya dampak serangan yang dilakukan di tengah periode yang seharusnya menjadi waktu tenang.
Baca Juga: Dunia Desak Israel Segera Berhenti Serang Lebanon
Kondisi kemanusiaan di Lebanon semakin memburuk seiring dengan intensitas serangan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Pihak militer Israel sendiri tidak membantah adanya aktivitas serangan besar-besaran yang mereka lakukan di wilayah tetangganya.
Mereka justru mengklaim bahwa aksi tersebut merupakan operasi terkoordinasi paling besar yang pernah dilakukan sejauh ini.
Sejak memulai kampanye militer pada 2 Maret lalu, operasi kali ini dianggap sebagai puncak dari strategi pertahanan mereka.
Klaim ini semakin menegaskan bahwa militer Israel tidak memiliki niat untuk menurunkan tensi serangan meskipun ada tekanan internasional.
Fokus militer Israel tetap konsisten pada penghancuran infrastruktur yang dianggap mengancam keamanan nasional negara mereka tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Jembatan dan Sekolah Masih Jadi PR, Muzakir Manaf Buka-bukaan Soal Kondisi Terkini Aceh Pascabencana
-
Tangis Penyesalan Noel di Sidang Korupsi K3: Saya Seharusnya Lebih Hati-hati
-
Perempuan Menjaga Pangan dan Alam, Mengapa Justru Paling Rentan terhadap Krisis Iklim?
-
Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?
-
Ironi Awak Kapal Perikanan: Banting Tulang di Tengah Laut, Pulang Malah Nombok Utang ke Majikan
-
Biadab! Sambil Hujan-hujanan, Pria Mabuk di Tangsel Cabuli Bocah Saat Main Petak Umpet
-
Vivace E Menjawab Kebutuhan Rumah Modern yang Estetik, Aman, dan Ramah Anak
-
Relokasi Akibat Krisis Iklim: Mengapa Memindahkan Warga Tidak Sesederhana Memindahkan Rumah?
-
Asa Baru Pascabencana: Anggaran Rp100 Triliun Disetujui DPR untuk Pulihkan Sumatra!
-
Bawa Mandat Prabowo Terkait RUU Polri, Menkum: UU Sudah Berlaku Dua Dekade, Perlu Disesuaikan