-
Donald Trump memerintahkan blokade laut Iran setelah jalur diplomasi di Pakistan gagal total.
-
Militer AS bersiaga penuh untuk melanjutkan serangan jika tuntutan penghentian nuklir diabaikan.
-
Kebijakan blokade ini berisiko menaikkan harga minyak dunia dan memicu resistensi publik Amerika.
Suara.com - Kegagalan misi diplomatik Amerika Serikat di Islamabad memicu keputusan drastis Presiden Donald Trump untuk melakukan blokade laut total terhadap Iran, termasuk Selat Hormuz.
Langkah ini diambil setelah negosiasi maraton selama 20 jam yang dipimpin Wakil Presiden JD Vance tidak membuahkan kesepakatan damai.
Dikutip dari BBC, Trump secara tegas menyatakan bahwa akses laut internasional tidak akan diberikan kepada pihak yang memberikan dukungan finansial ilegal kepada Iran.
Strategi ini menandai berakhirnya periode tenang singkat dan mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua belah pihak.
Fokus utama blokade ini adalah untuk mencekik sumber pendapatan utama Teheran sekaligus memaksa mereka menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir.
Militer Amerika Serikat kini dalam posisi siap tempur untuk melanjutkan operasi serangan jika situasi di lapangan kembali memanas.
Trump menegaskan bahwa pasukan Paman Sam tetap melakukan pembersihan ranjau di Selat Hormuz demi menjamin keamanan jalur perdagangan sekutu.
"Tidak ada seorang pun yang membayar tol ilegal akan mendapatkan jalur aman di laut lepas," tulis Trump dalam unggahannya.
Ia juga menambahkan bahwa militer AS sudah dalam kondisi "terkunci dan terisi" serta siap menyerang pada waktu yang dianggap tepat.
Baca Juga: Harga Minyak Kembali Naik ke Level USD 104, Trump Ikut-ikutan Blokade Selat Hormuz
Keyakinan Trump sangat kuat bahwa Iran pada akhirnya akan menyerah dan memberikan segala tuntutan yang diajukan oleh pihak Amerika.
Perbedaan Data Dan Target Blokade
Meski Trump mengklaim adanya kemajuan, pejabat internal AS mengungkapkan masih banyak poin pertentangan yang belum terselesaikan selama proses negosiasi.
Isu kontrol Iran atas Hormuz dan dukungan terhadap kelompok milisi regional seperti Houthi serta Hizbullah tetap menjadi ganjalan utama.
Komando Pusat militer AS memperjelas bahwa blokade ini mencakup penghentian seluruh kapal yang menuju atau berasal dari dermaga di Iran.
Kebijakan ini mengundang kritik tajam dari kalangan legislatif yang meragukan efektivitas penutupan jalur maritim sebagai alat diplomasi paksaan.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Anggota DPRD DKI: Pengamen Ondel-Ondel Bukan Warga Jakarta Asli, Harus Diedukasi
-
Prabowo Diisukan Teken Perjanjian Militer, Pesawat AS Bebas Melintas di Indonesia
-
Panas! Donald Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Buru Kapal yang Lewati Selat Hormuz
-
Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini
-
Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!
-
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu
-
Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil
-
Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!