-
Donald Trump memerintahkan blokade laut Iran setelah jalur diplomasi di Pakistan gagal total.
-
Militer AS bersiaga penuh untuk melanjutkan serangan jika tuntutan penghentian nuklir diabaikan.
-
Kebijakan blokade ini berisiko menaikkan harga minyak dunia dan memicu resistensi publik Amerika.
"Saya tidak mengerti bagaimana memblokade selat itu entah bagaimana akan mendorong orang Iran untuk membukanya," ujar Senator Mark Warner dari Virginia.
Dunia kini menanti reaksi negara-negara besar seperti China yang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari wilayah Iran tersebut.
Keputusan blokade ini membawa risiko besar terhadap lonjakan harga energi yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi banyak negara di dunia.
Keresahan juga muncul dari dalam negeri Amerika Serikat mengingat dukungan publik terhadap keterlibatan perang di Timur Tengah mulai menurun.
Anggota Kongres Mike Turner berpendapat bahwa tindakan keras ini diperlukan untuk memaksa semua pihak segera duduk bersama di meja perundingan.
"Presiden, dengan mengatakan bahwa kita tidak akan membiarkan mereka memutuskan siapa yang boleh lewat, pastinya memanggil semua sekutu kita dan semua orang ke meja perundingan," ungkap Turner.
Bayang-Bayang Kegagalan Perang Berkepanjangan
Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Amerika merasa operasi militer terhadap Iran saat ini tidak berjalan sesuai dengan harapan pemerintah.
Tujuan utama seperti penghapusan permanen program nuklir dan kebebasan rakyat Iran dianggap masih sangat jauh dari kata tercapai secara nyata.
Baca Juga: Harga Minyak Kembali Naik ke Level USD 104, Trump Ikut-ikutan Blokade Selat Hormuz
Trump kini menghadapi pilihan sulit antara terus meningkatkan agresi militer atau menarik diri dari perang yang semakin tidak populer di mata pemilih.
Di tengah situasi genting ini, sang Presiden justru terlihat menghadiri pertandingan tarung bebas UFC di Miami bersama para penasihat seniornya.
Ketidakpastian ini diprediksi akan menjadi pertaruhan politik besar bagi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu yang akan segera digelar.
Konflik ini bermula dari kebuntuan jangka panjang terkait ambisi nuklir Teheran yang dianggap mengancam keamanan global dan dominasi Amerika di wilayah tersebut.
Upaya gencatan senjata selama dua minggu sempat memberikan harapan, namun perbedaan prinsip mengenai kontrol Selat Hormuz membuat situasi kembali di ambang kehancuran.
Blokade laut kini menjadi instrumen baru untuk menguji ketahanan Iran menghadapi sanksi militer langsung di tengah ancaman krisis kemanusiaan yang mulai membayangi.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
AS Klaim Tembus Selat Hormuz, Iran Bantah Keras: Siapa yang Sebar Hoax?
-
Survei Global: Warga Amerika Serikat Khawatir dan Stres dengan Keputusan Donald Trump
-
Anggota DPRD DKI: Pengamen Ondel-Ondel Bukan Warga Jakarta Asli, Harus Diedukasi
-
Prabowo Diisukan Teken Perjanjian Militer, Pesawat AS Bebas Melintas di Indonesia
-
Panas! Donald Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Buru Kapal yang Lewati Selat Hormuz
-
Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini
-
Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!
-
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Gagal: Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Bom Waktu
-
Telepon Vladimir Putin, Presiden Iran Siap Capai Kesepakatan dengan AS jika Adil
-
Prabowo Subianto Temui Vladimir Putin di Moskow, Seskab Teddy Ungkap Agendanya