-
Warga Amerika merasa cemas karena target strategis di Iran belum menunjukkan keberhasilan yang nyata.
-
Lonjakan harga bahan bakar menurunkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja ekonomi Presiden Donald Trump.
-
Terjadi polarisasi politik mengenai perlu tidaknya izin Kongres untuk melanjutkan aksi militer di Iran.
Suara.com - Kondisi geopolitik di Iran saat ini masih dianggap sebagai persoalan yang belum tuntas oleh sebagian besar warga Amerika Serikat.
Rasa aman dan percaya diri warga justru tertutup oleh bayang-bayang kegelisahan serta kemarahan terhadap situasi yang berkembang.
Publik menilai beberapa agenda krusial seperti pembukaan Selat Hormuz demi akses minyak masih jauh dari kata selesai.
"Sedikit yang melihat tujuan AS di Iran akan tercapai; Warga Amerika menyuarakan kekhawatiran dan stres dalam jajak pendapat CBS News," tulis CBS, Senin (13/4/2026).
Selain itu, upaya memastikan kebebasan bagi rakyat Iran dan penghentian permanen program nuklir dianggap belum menunjukkan hasil nyata.
Sentimen negatif ini terus menguat seiring dengan persepsi bahwa misi militer maupun kepentingan strategis belum terpenuhi sepenuhnya.
Masyarakat secara tegas menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap keberadaan rezim Iran yang saat ini masih berkuasa di Teheran.
Opsi menjalankan program nuklir meskipun di bawah pengawasan internasional juga dipandang sebagai sesuatu yang tidak bisa diterima publik.
Kekecewaan ini diperparah oleh pandangan mayoritas yang merasa bahwa arah konflik saat ini tidak berjalan ke arah yang benar.
Baca Juga: Arab Saudi Tambah Pasokan Minyak Lewat Jalur Alternatif saat AS Blokade Selat Hormuz
Belum ada tanda-tanda perbaikan persepsi publik dalam beberapa pekan terakhir mengenai efektivitas langkah yang diambil pemerintah di wilayah tersebut.
Banyak warga menganggap terlalu dini untuk melabeli tindakan militer sebagai sebuah keberhasilan strategis bagi kepentingan nasional Amerika Serikat.
Keraguan Publik Atas Rencana Kerja Presiden
Ketidakpastian ini muncul lantaran mayoritas penduduk tidak melihat adanya cetak biru atau rencana kerja yang jernih dari Presiden Trump.
Meski pendukung Partai Republik tetap solid, sebagian besar warga merasa pemerintah gagal memberikan penjelasan mendalam mengenai tujuan akhir serangan.
Ketidakjelasan ini disinyalir muncul akibat daftar target dan sasaran yang sering kali berubah-ubah dalam waktu singkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra
-
Misteri Kematian WNA Korea di Bekasi: Ada Luka Benda Tajam dan Tumpul di Tubuh Korban
-
Keracunan atau Apa? 8 Fakta Tewasnya Sekeluarga di Tenda Kamping Temanggung
-
PDIP Remehkan Safari Politik Jokowi: Jadi Presiden Saja Tak Bisa Loloskan PSI, Apalagi Sekarang
-
PBB Dikabarkan Masukkan Israel ke Daftar Hitam Kekerasan Seksual di Zona Konflik
-
DPR Restui TNI Buru Begal Jakarta, Tapi Ingatkan Aturan Main
-
Bukan Pesantren! Padepokan Padhang Ati Pekalongan Ternyata Bodong, Pimpinannya Cabuli Banyak Wanita
-
Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet
-
Geger Sekeluarga Tewas di Tenda Kamping Temanggung, UGM Konfirmasi Satu Korban Mahasiswanya
-
Aseng Tak Mungkin Main Sendiri, Eks Pimpinan KPK Minta Jaksa Kejar Pejabat Pemberi Izin