-
Amerika Serikat memberlakukan blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin siang ini.
-
Harga minyak dunia melonjak hingga delapan persen akibat ancaman penutupan akses maritim tersebut.
-
Iran mengancam akan membalas keras setiap kapal militer yang melanggar batas gencatan senjata.
Pihak Teheran melalui Korps Garda Revolusi Islam memberikan peringatan keras terhadap pergerakan militer Amerika Serikat di perairan.
Mereka menegaskan bahwa setiap kapal militer yang berupaya mendekat dianggap telah melanggar perjanjian gencatan senjata yang ada.
Gencatan senjata antara kedua belah pihak seharusnya masih tetap berlaku secara formal hingga tanggal 22 April mendatang.
Pihak Iran menyatakan bahwa setiap tindakan provokasi maritim akan mendapatkan balasan yang sangat keras dari angkatan bersenjata.
“Setiap kapal militer yang mendekat akan melanggar gencatan senjata AS-Iran dan akan ditangani dengan keras,” tegas pernyataan resmi mereka.
Krisis ini berakar pada macetnya komunikasi diplomatik di Islamabad yang seharusnya bisa mengakhiri ketegangan bersenjata antar negara.
Menteri Luar Negeri Iran menuduh pihak perunding Amerika Serikat sengaja mengubah poin-poin kesepakatan di saat terakhir.
Padahal menurut pihak Iran, sebuah nota kesepahaman sebenarnya sudah sangat dekat untuk ditandatangani oleh kedua pihak.
“Negosiator AS menggeser 'tiang gawang' dan menghalangi upaya ketika nota kesepahaman tinggal beberapa inci lagi,” ujar Abbas Araghchi.
Baca Juga: Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel
Kondisi ini membuat harapan akan perdamaian di kawasan Timur Tengah kembali sirna dalam waktu singkat.
Pakar dari Universitas Teheran menilai Amerika Serikat tidak memiliki posisi kuat untuk mendikte aturan navigasi di wilayah tersebut.
Iran mengklaim telah siap secara mental dan sumber daya apabila harus menghadapi konflik bersenjata dalam jangka panjang.
Strategi yang digunakan Amerika Serikat dianggap tidak akan efektif dalam mengendalikan situasi nyata di medan pertempuran Teluk.
“AS tidak berada dalam posisi untuk mendikte orang Iran bagaimana harus berperilaku, atau untuk memilih kapal mana yang boleh lewat,” kata Zohreh Kharazmi.
Ia menambahkan, “Jika blokade ini menjadi kontes antara ketahanan Republik Islam dan ketahanan pasar global, tidak akan butuh waktu lama untuk melihat siapa yang kalah.”
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Donald Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas Jika Kapal Militer Mendekat
-
3 Supertanker Mulus Lewat Selat Hormuz Bawa Minyak dari Arab dan UEA, Kok Bisa?
-
AS Klaim Tembus Selat Hormuz, Iran Bantah Keras: Siapa yang Sebar Hoax?
-
Survei Global: Warga Amerika Serikat Khawatir dan Stres dengan Keputusan Donald Trump
-
Breakingnews! Donald Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz dan Laut Iran
-
Anggota DPRD DKI: Pengamen Ondel-Ondel Bukan Warga Jakarta Asli, Harus Diedukasi
-
Prabowo Diisukan Teken Perjanjian Militer, Pesawat AS Bebas Melintas di Indonesia
-
Panas! Donald Trump Perintahkan Angkatan Laut AS Buru Kapal yang Lewati Selat Hormuz
-
Kasus Pembunuhan Kacab Bank, 3 Oknum TNI Ajukan Eksepsi di Pengadilan Militer Hari Ini
-
Amerika di Ambang Cemas: 68 Persen Warga Takut Perang Lawan Iran Tak Terkendali!