-
Amerika Serikat memulai blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk memutus rantai pasokan militer.
-
Pakar hukum menegaskan blokade harus menjamin akses pangan dan tidak boleh menyasar warga sipil.
-
CENTCOM memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz tetap berlaku bagi kapal non-tujuan Iran.
Tanpa adanya jaminan logistik bagi warga non-kombatan, blokade ini berisiko dikategorikan sebagai pelanggaran hak asasi manusia berat.
Prinsip ketiga yang sangat menentukan legalitas blokade adalah penerapan aturan yang adil dan tidak memihak kepada bendera tertentu.
CENTCOM telah menyatakan bahwa prosedur intersep akan berlaku bagi semua kapal tanpa memandang bendera negara mana yang berkibar.
“Tiga, dan ini penting, hal ini harus adil. Jadi Anda akan mencatat bahwa ketika CENTCOM mengumumkan blokade ini, berbeda dengan komentar Presiden Trump, mereka mengatakan blokade ini akan berlaku untuk kapal apa pun dari bendera apa pun yang masuk dan keluar dari Iran, dan itu penting. Blokade tersebut harus tidak memihak agar menjadi blokade yang sah,” jelas Parker.
Langkah ini menunjukkan upaya militer untuk tetap berada dalam koridor hukum internasional meskipun tensi politik sedang memanas.
Ketegasan yang bersifat universal ini diperlukan agar blokade tidak dianggap sebagai tindakan diskriminatif terhadap negara mitra Iran saja.
Target Utama Strategi Isolasi Amerika
Mantan perwira angkatan laut tersebut menilai AS akan menghentikan kapal-kapal dari berbagai negara guna memaksimalkan tekanan ekonomi.
Parker juga menyoroti laporan intelijen mengenai upaya Tiongkok yang berusaha mengirimkan kembali peralatan militer untuk memperkuat pertahanan Iran.
Baca Juga: Perundingan Damai Gagal, Pemerintah Serukan Rakyat Iran Turun ke Jalan Tantang AS
“AS mencoba mengisolasi Iran dari pasokan ulang militer dan memberikan tekanan ekonomi pada Iran dengan mencegat aliran minyak,” ungkap Parker.
Dengan menahan arus minyak, Washington berharap kapasitas finansial pemerintah Iran untuk mendanai operasional militer akan melemah secara signifikan.
Blokade ini menjadi titik eskalasi tertinggi setelah dialog diplomatik menemui jalan buntu tanpa adanya kesepakatan satu pun.
Situasi di Selat Hormuz sempat mengalami simpang siur informasi setelah pernyataan awal dari pihak kepresidenan terkait pungutan biaya lintas.
Presiden Trump sebelumnya sempat mengancam akan mengejar kapal internasional yang membayar biaya tol kepada Iran saat melintasi selat tersebut.
Namun, CENTCOM memilih untuk mencabut instruksi mengenai tol dan lebih fokus pada pengawasan kapal yang berlabuh langsung di Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Survei Terbaru: Sempat Naik Tipis, Popularitas Trump Menukik Efek Selat Hormuz Masih Ditutup
-
Habiburokhman Bela Seskab Teddy soal 'Inflasi Pengamat': Ada Benarnya
-
Aksi Pemain Abroad Timnas Indonesia di Luar Negeri: Kevin Diks Cedera, Maarten Paes Gahar
-
Provokasi Zionis! Menteri Keamanan Israel Berdoa di Area Khusus Muslim Masjid Al Aqsa
-
Iran Ngotot Pungut Biaya di Selat Hormuz, PBB: Pelanggaran Hukum Internasional
-
Sebut Saiful Mujani Elite Kaya Raya, Habiburokhman: Waspadai Propaganda Hitam Berkedok Kritik
-
Perundingan Damai Gagal, Armada Angkatan Laut Iran Siap Tempur di Selat Hormuz
-
Perundingan Damai Gagal, Pemerintah Serukan Rakyat Iran Turun ke Jalan Tantang AS
-
Donald Trump Perintahkan Blokade Selat Hormuz, Iran Ancam Tindak Tegas Jika Kapal Militer Mendekat