News / Nasional
Senin, 13 April 2026 | 14:08 WIB
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/4/2026). [Suara.com/Bagaskara]
Baca 10 detik
  • Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena inflasi pengamat yang dinilai menyampaikan opini tidak akurat di Jakarta.
  • Arifki Chaniago menyatakan istilah inflasi pengamat merujuk pada pengamat yang bersikap politis dan menjadi tim sukses pemilu.
  • Fenomena ini menjadi peringatan bagi partai oposisi karena kritik yang mandul memicu munculnya komentar dari figur personal.

Suara.com - Direktur Eksekutif Aljabar Strategic, Arifki Chaniago, menilai istilah “inflasi pengamat” tidak ditujukan kepada banyaknya pengamat yang melontarkan kritik terhadap pemerintah.

Menurut Arifki, istilah itu lebih tepat dialamatkan kepada pengamat yang dinilai telah mengambil posisi politik.

"Ya, kalau kita baca inflasi pengamat ini bisa dibaca sebagai banyaknya keberadaan pengamat tidak dalam posisi mengkritik pemerintah tapi sudah sebagai posisi politik," kata Arifki Chaniago kepada Suara.com, Senin (13/4/2026).

Penilaian Arifki tersebut merupakan respons atas istilah "inflasi pengamat" yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Arifki kemudian menyoroti sejumlah pengamat yang sebelumnya telah mengambil posisi politik, lalu bergabung dalam tim sukses pasangan capres-cawapres pada Pilpres 2024.

"Tak bisa kita pungkiri bahwa pengamat yang tiba-tiba mengkritik pemerintah tapi ada bergabung sebagai tim sukses di Pilpres 2024," ujarnya.

"Menyebabkan pengamat ini muncul mengomentari segala isu sehingga sulit kita melihat pengamat memang sejak awal tidak suka dengan pemerintah atau memang hanya kebijakan pemerintah saja yang tidak suka," sambung Arifki.

Menurut Arifki, fenomena inflasi pengamat seharusnya menjadi lampu kuning bagi partai oposisi yang kritiknya kini dianggap mandul.

"Pada sisi lain, ini bisa menjadi peringatan kepada partai oposisi yang mandul secara kritik. Akhirnya, ketidakpuasan atau kritik muncul dari figur personal," kata Arifki.

Baca Juga: Akademisi Kritik Istilah Inflasi Pengamat dari Seskab Teddy, Sebut Pemerintah Mulai Antikritik

Sebelumnya, Teddy menyoroti maraknya fenomena "inflasi pengamat" yang dinilainya kerap memunculkan pernyataan tanpa dasar data yang akurat.

Ia menyebut banyak pengamat saat ini melontarkan opini di luar bidang keahliannya sehingga berpotensi menyesatkan opini publik.

Pernyataan tersebut disampaikan Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Jumat (10/4/2026).

Ia mengimbau agar para pengamat tidak membangun narasi yang memicu kecemasan di tengah masyarakat.

"Saya mau jawab juga, sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat, oke. Ada pengamat beras tapi dia background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru. Oke," ujar Teddy.

Ia menilai, upaya pembentukan opini negatif oleh sebagian pengamat sudah terjadi bahkan sebelum Presiden Prabowo Subianto menjabat.

Load More