- Presiden AS Donald Trump merencanakan blokade laut di Selat Hormuz sebagai respons atas kegagalan perundingan dengan pihak Iran.
- Amerika Serikat akan mengerahkan kapal penyapu ranjau canggih dengan dukungan Inggris serta sejumlah negara di kawasan Teluk Persia.
- Kebijakan blokade yang berlaku bagi kapal dari dan menuju Iran dijadwalkan mulai diterapkan pada hari Senin mendatang.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa mereka tidak bergerak sendiri dalam rencana blokade laut di Selat Hormuz.
Trump menyebut ada sejumlah negara yang siap mendukung langkah tersebut, terutama dari kawasan Teluk Persia, meski tidak merinci identitas negara-negara tersebut.
Pernyataan ini muncul setelah perundingan antara Iran dan AS yang berlangsung di Islamabad gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
"Kami akan melakukan blokade. Memang akan memakan waktu, tetapi dalam waktu dekat akan efektif," ujarnya dalam wawancara dengan Fox News.
Ia menambahkan bahwa dukungan internasional diyakini akan memperkuat langkah Washington.
"Kami pikir sejumlah negara akan mendukung langkah itu, sementara kami (AS) akan melakukan blokade secara menyeluruh. Kami tidak akan membiarkan Iran memperoleh keuntungan dari penjualan minyak hanya kepada pihak-pihak tertentu," lanjut Trump.
Selain itu, Trump juga mengungkapkan rencana pengerahan kapal penyapu ranjau ke wilayah tersebut.
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi ancaman ranjau laut yang disebut-sebut telah dipasang Iran.
"Kami akan menjatuhkan satu ranjau, dua ranjau. Dan jika Anda memiliki kapal yang harganya US$1 miliar, Anda akan berkata 'Yah, saya lebih suka tidak terkena ranjau, kehilangan kapal saya atau setidaknya merusaknya parah," ujar Trump.
Baca Juga: Perundingan Islamabad Buntu, Iran Siap Ladeni AS di Selat Hormuz
Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki armada penyapu ranjau canggih, serta mendapat tambahan dari negara lain.
"Kami (AS) memiliki kapal penyapu ranjau berteknologi canggih, serta kami juga menambah kapal penyapu ranjau yang lebih tradisional. Jadi saya mengerti. Inggris dan beberapa negara lain mengirimkan kapal penyapu ranjau," katanya menambahkan.
Sebelumnya, Trump sempat mengumumkan melalui media sosial bahwa Angkatan Laut AS akan memulai blokade terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat militer AS (CENTCOM) kemudian menjelaskan bahwa kebijakan tersebut hanya berlaku untuk kapal yang menuju atau berasal dari Iran, termasuk pelabuhan di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Kebijakan ini dijadwalkan mulai diterapkan pada Senin pukul 10.00 waktu Washington atau 14.00 GMT, menandai babak baru eskalasi di jalur energi paling vital dunia tersebut.
Berita Terkait
-
Trump Kerahkan Militer Blokade Selat Hormuz, Iran Berikan Respon Dingin
-
3 Cara AS Blokade Selat Hormuz, Nomor 2 Bisa Picu Rusia dan China Ikut Perang Terbuka
-
Alasan Tak Terduga Inggris Ogah Ikut Gerbong Trump Blokade Selat Hormuz
-
Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?
-
Iran Bongkar Taktik Licik AS di Islamabad, Kesepakatan Damai Gagal di Detik Terakhir
Terpopuler
Pilihan
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
Terkini
-
Panas Sengketa Lahan di Menteng, Temasra Jaya Somasi Mabes TNI, Ancam Lapor ke Puspom
-
Lampu Hijau RUU BPIP: Surpres Sudah Terbit, Kapan Mulai Dibahas?
-
3 Cara AS Blokade Selat Hormuz, Nomor 2 Bisa Picu Rusia dan China Ikut Perang Terbuka
-
Rakitan Rasa Pabrik! Ki Bedil Maestro Senpi Ilegal Ternyata Jebolan Cipacing
-
Respons Seskab Teddy, Arifki Sebut Fenomena Inflasi Pengamat Jadi Cermin Oposisi Mandul
-
Alasan Tak Terduga Inggris Ogah Ikut Gerbong Trump Blokade Selat Hormuz
-
Iran Bongkar Taktik Licik AS di Islamabad, Kesepakatan Damai Gagal di Detik Terakhir
-
RDP DPR-BPIP Diwarnai Candaan, Willy Aditya Singgung Merger NasDem-Gerindra
-
Perundingan Islamabad Buntu, Iran Siap Ladeni AS di Selat Hormuz
-
Akademisi Kritik Istilah Inflasi Pengamat dari Seskab Teddy, Sebut Pemerintah Mulai Antikritik