- Presiden Donald Trump meluncurkan operasi blokade laut di Selat Hormuz mulai Senin, 14 Maret pukul 10.00 waktu Washington.
- Angkatan Laut AS melakukan pengawasan ketat, pemeriksaan, hingga penyitaan terhadap kapal yang masuk atau keluar pelabuhan Iran.
- Tindakan tersebut bertujuan melumpuhkan ekonomi Iran namun berpotensi memicu konflik terbuka dengan berbagai negara serta pihak terkait.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi meluncurkan operasi blokade laut di Selat Hormuz.
Operasi ini disebut sebagai langkah besar untuk melumpuhkan ekonomi Iran dan menghentikan pendapatan dari kapal asing.
Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz.
Target utama adalah seluruh kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Dilansir dari Channel 14, militer AS akan melakukan tiga cara untuk memblokade selat Hormuz.
Tiga cara ini justru menimbulkan kekhawatiran adanya perang terbuka di laut, serta terseretnya negara-negara lain.
Operasi Militer Skala Besar
Blokade ini melibatkan pengerahan kapal induk, kapal perang, dan sistem rudal di titik-titik strategis.
Kehadiran militer dimaksudkan untuk mencegah kapal tanker mencoba menembus jalur yang kini diawasi ketat.
Baca Juga: Alasan Tak Terduga Inggris Ogah Ikut Gerbong Trump Blokade Selat Hormuz
Menurut laporan NY Post, Angkatan Laut AS membangun garis blokade fisik dan virtual.
Setiap kapal yang melintas wajib melapor dan mengungkap tujuan pelayarannya.
Pemeriksaan hingga Penyitaan Kapal
Pasukan khusus AS disiapkan untuk menaiki kapal yang dicurigai membawa minyak Iran atau senjata.
Bahkan, kapal yang diduga membayar biaya transit kepada Iran bisa dihentikan, termasuk di perairan internasional.
Langkah ini dinilai sangat berisiko karena berpotensi memicu konflik dengan negara lain seperti China, Rusia atau India yang memiliki kepentingan energi di kawasan tersebut.
Berita Terkait
-
Alasan Tak Terduga Inggris Ogah Ikut Gerbong Trump Blokade Selat Hormuz
-
Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?
-
Iran Bongkar Taktik Licik AS di Islamabad, Kesepakatan Damai Gagal di Detik Terakhir
-
Perundingan Islamabad Buntu, Iran Siap Ladeni AS di Selat Hormuz
-
Kelompok Misterius Pro Iran Muncul Diklaim Lakukan Serangan di Eropa, Siapa?
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Andalkan AI Benahi Desil, Luhut: Orang Tak Bisa Sembunyikan Data Lagi
-
322 Orang Ditangkap Buntut Demo 27 Agustus, 48 Jadi Tersangka
-
Pengembangan PLTP Makin Masif, Industri EPC Ikut Kecipratan
-
66 Orang Sudah Dipecat, Ini Alasan Kepala SPPG Wajib Ada di Dapur Jam 2 Pagi
-
Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia
-
Ada yang Membayar! Polisi Buru Perekrut Anak-anak dan Pendana Kerusuhan Demo 27 Agustus
-
BPS Akui Data Desil Masyarakat Belum Siap
-
Polisi Sebut TL Slipi Aman Dilalui Pasca Demo Ricuh, Warga Tak Perlu Ragu Melintas
-
Media Singapura soal Demo 27 Agustus: Prabowo Sedang Berjuang Pulihkan Kepercayaan Publik
-
Kisah Sulaiman, Anak Petani dari Flores yang Kini Mengabdi di Sekolah Rakyat