-
Donald Trump mengancam menenggelamkan kapal Iran jika mendekati blokade laut di Selat Hormuz.
-
Perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan terkait pengawasan program nuklir Iran.
-
Blokade maritim memicu krisis kemanusiaan yang menyebabkan 20.000 pelaut terjebak di tengah laut.
Suara.com - Eskalasi perang di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Amerika Serikat secara resmi memperketat pengepungan maritim.
Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat memberikan instruksi tegas untuk melumpuhkan seluruh armada kapal serang milik Iran.
Dikutip dari Al Jazeera, perintah penghancuran tersebut berlaku bagi setiap kapal cepat Teheran yang mencoba menerobos zona blokade laut di Selat Hormuz.
Langkah militer agresif ini diambil sebagai respons atas kegagalan dialog diplomatik yang sebelumnya dilangsungkan di Pakistan.
Situasi di jalur pelayaran strategis tersebut kini menjadi medan tempur potensial yang mengancam arus logistik energi global.
Militer Amerika Serikat telah memastikan bahwa status blokade kini mencakup seluruh akses keluar dan masuk pelabuhan Iran.
Pembatasan ketat ini tidak hanya menyasar kapal domestik tetapi juga seluruh armada internasional yang menuju wilayah Teheran.
Trump menyatakan bahwa meskipun kekuatan laut Iran telah banyak berkurang namun sisa-sisa armada mereka tetap berbahaya.
Ia menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat tidak akan ragu memusnahkan kapal Iran jika dianggap mengancam keamanan blokade.
Baca Juga: Sinyal Dialog AS - Iran Redam Lonjakan Harga Minyak Dunia
Klaim sepihak menyebutkan terdapat puluhan kapal yang mencoba melintas di tengah situasi perang yang terus memanas tersebut.
Kegagalan Diplomasi dan Garis Merah Washington
Kebijakan blokade total ini mencuat tepat setelah delegasi tingkat tinggi Amerika Serikat kembali tanpa membawa kesepakatan damai.
Wakil Presiden JD Vance memimpin negosiasi tersebut namun tidak menemukan titik temu mengenai penghentian konflik bersenjata.
Pemerintah Amerika Serikat tetap bersikeras untuk mengontrol penuh seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya oleh pihak Iran.
Washington menuntut adanya sistem verifikasi internasional yang ketat guna mencegah potensi pengembangan senjata nuklir di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Prabowo Akhiri Kunjungan Kenegaraan di Prancis, Bertolak Kembali ke Jakarta
-
Mangkir dari Pemeriksaan Gas 'Whip Pink', Influencer ZNM dan Dua Saksi Lain Dijemput Paksa Polisi
-
Dulu Diminta Balik ke Barak, Ray Rangkuti Kritik TNI Kini 'Kepung' Ranah Sipil
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru