Bisnis / Energi
Selasa, 14 April 2026 | 10:24 WIB
Ilustrasi dialog antara AS dan Iran. (Dok. Suara.com)
Baca 10 detik
  • Harga minyak Brent dan WTI turun pada 14 April 2026 akibat potensi dialog damai Amerika Serikat dan Iran.
  • Amerika Serikat memperluas blokade Selat Hormuz hingga Teluk Oman, memicu ancaman serangan balasan dari pihak Iran.
  • Krisis ini menyebabkan hilangnya pasokan global sebanyak 10 juta barel minyak mentah setiap harinya dari pasar.

Suara.com - Harga minyak turun pada awal perdagangan Asia, Selasa 14 April 2026, seiring munculnya tanda potensi dialog antara Amerika Serikat (AS ) dan Iran untuk mengakhiri perang. Hal ini mengurangi kekhawatiran terkait risiko pasokan yang dipicu oleh blokade AS di Selat Hormuz.

Mengutip dari Investing.com, harga minyak mentah Brent turun sebesar 1,86 dolar AS atau 1,87 persen, menjadi 97,50 dolar AS, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sebesar 2,25 dolar AS atau 2,27 persen, menjadi 96,83 dolar AS pada pukul 00.03 GMT (07:03 WIB).

Kedua patokan harga tersebut telah naik pada sesi sebelumnya, dengan Brent naik lebih dari 4 persen dan WTI hampir 3 persen, setelah militer AS memulai blokade nL6N40V09S terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada Senin (13/4) menyatakan militer Amerika Serikat resmi memperluas jangkauan blokade Selat Hormuz hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab. Laporan pelacakan kapal mengonfirmasi adanya kapal yang terpaksa memutar balik begitu aturan blokade ini diterapkan.

Menanggapi langkah tersebut, Iran menebar ancaman akan menyerang pelabuhan-pelabuhan di negara tetangga kawasan Teluk. Eskalasi ini terjadi setelah perundingan damai di Islamabad, Pakistan, menemui jalan buntu pada akhir pekan lalu.

Meski situasi memanas, analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menilai retorika Presiden AS, Donald Trump yang masih membuka celah negosiasi berhasil mencegah harga minyak melonjak lebih jauh.

Presiden AS, Donald Trump. (Gemini AI)

"Trump berhasil meredam kenaikan harga minyak dengan kembali mengiming-imingi kemungkinan kesepakatan," kata Tim Waterer.

Meski situasi memanas, sejumlah sumber menyebutkan bahwa jalur komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat tetap terbuka. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, juga menegaskan komitmennya untuk terus memediasi deeskalasi konflik.

Senada dengan hal itu, Donald Trump mengklaim adanya keinginan dari pihak Iran untuk segera mencapai kesepakatan damai.

Baca Juga: Harga Minyak dan Emas Bakal Meroket Efek Nego AS-Iran Buntu, Bagaimana Nasib BBM RI?

Di sisi lain, pasar minyak dunia berada dalam tekanan besar. Analis dari ANZ memperkirakan krisis ini telah melenyapkan sekitar 10 juta barel pasokan minyak mentah per hari dari pasar global.

Jika blokade Amerika Serikat terus berlanjut, dikhawatirkan pengiriman minyak mentah akan terpangkas lebih jauh sebesar 3 hingga 4 juta barel per hari.

"Pasar minyak tidak lagi membutuhkan skenario terburuk untuk membenarkan tingkat harga yang lebih tinggi. Keseimbangan yang ketat saja sudah cukup untuk mempertahankan harga Brent mendekati atau di atas tingkat ambang batas baru-baru ini," kata ANZ dalam sebuah catatan.

Load More