-
PM Anwar Ibrahim menjamin stok BBM nasional aman hingga Mei 2026 mendatang.
-
Subsidi BBM sebesar RM6 miliar per bulan mulai membebani stabilitas fiskal negara.
-
Kebijakan bekerja dari rumah diterapkan untuk menekan konsumsi energi nasional secara efektif.
Suara.com - Malaysia di ambang krisis BBM. Ancaman krisis energi dan gangguan rantai pasok global kini menempatkan stabilitas ekonomi Malaysia dalam posisi yang sangat rentan.
Kondisi ini memaksa pemerintah untuk bergerak cepat demi mengamankan ketersediaan sumber daya esensial bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dikutip dari The Star, meskipun gencatan senjata sementara telah terjadi, namun normalisasi jalur perdagangan di Selat Hormuz diprediksi memakan waktu lama.
Ketergantungan pada stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor krusial yang menentukan masa depan ketahanan energi domestik kita.
Pemerintah secara terbuka mengakui bahwa situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat tekanan geopolitik luar negeri.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa cadangan bahan bakar nasional masih mencukupi untuk kebutuhan hingga akhir Mei mendatang.
Langkah ini menjadi jaminan penting di tengah kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan pasokan akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan.
Analis pasar global memprediksi butuh waktu sedikitnya enam bulan untuk memulihkan lalu lintas kapal ke level normal.
“Lale Akoner, seorang analis pasar global di perusahaan layanan keuangan eToro, dikutip di CNN mengatakan bahwa diperlukan waktu enam bulan untuk mengembalikan lalu lintas kapal ke posisi sebelum perang dimulai,” ungkap laporan pasar tersebut.
Baca Juga: Ramadhan Sananta Terancam Tergusur di DPMM FC, Posisinya Digantikan?
Ketidakpastian rute minyak internasional menjadi sinyal waspada bagi manajemen krisis energi yang sedang dijalankan oleh Putrajaya.
Beban Subsidi Dan Tekanan Fiskal Negara
Pemerintah saat ini harus menggelontorkan dana sebesar RM6 miliar setiap bulan hanya untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar.
Beban finansial yang sangat besar ini mengancam ruang fiskal negara untuk pembiayaan sektor publik lainnya seperti kesehatan.
Perdana Menteri mengingatkan bahwa tantangan nasional saat ini jauh lebih besar dibandingkan sekadar perdebatan politik partisan yang dangkal.
“Negara ini sedang dalam mode krisis,” tegas pemerintah dalam pernyataan resminya menyikapi situasi ekonomi yang kian memanas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
8 Weton dengan Daya Pikat dan Pengasihan Alami Tinggi tanpa Susuk
-
Nggak Lagi Ragu Ganti Provider, Saatnya Beralih ke XL yang Terbukti Juara
-
6 Sepatu Lari Stylish untuk Nongkrong, Cocok Dipadukan dengan Berbagai Outfit
-
Persaingan Indonesia dan Thailand Memperebutkan Basis Produksi Utama Toyota
-
Gubernur Khofifah & Menteri PPPA Panen dan Tanam, Hadiri Pameran Produk SIKAP SMA, SMK, SLB Jombang
-
Jakarta Kembali Normal Pascademo, Pramono Pastikan CFD Besok Tetap Digelar
-
Misi Besar Gus Kikin di Muktamar NU: Sulap Jutaan Nahdliyyin Jadi Kekuatan Ekonomi
-
Kenapa Sertifikat Kompetensi Tenaga Kerja Kita Sering "Mandul" di Luar Negeri?
-
Baru Dibantai Dewa United, Brisbane Roar Antusias Hadapi Persija Jakarta
-
15 Tahun Bersama Gojek, 70 Mitra Driver Legend Dapat Apresiasi Umrah ke Tanah Suci