News / Internasional
Selasa, 14 April 2026 | 14:41 WIB
Menara Petronas Malaysia (Antara)
Baca 10 detik
  • PM Anwar Ibrahim menjamin stok BBM nasional aman hingga Mei 2026 mendatang.

  • Subsidi BBM sebesar RM6 miliar per bulan mulai membebani stabilitas fiskal negara.

  • Kebijakan bekerja dari rumah diterapkan untuk menekan konsumsi energi nasional secara efektif.

Suara.com - Malaysia di ambang krisis BBM. Ancaman krisis energi dan gangguan rantai pasok global kini menempatkan stabilitas ekonomi Malaysia dalam posisi yang sangat rentan.

Kondisi ini memaksa pemerintah untuk bergerak cepat demi mengamankan ketersediaan sumber daya esensial bagi seluruh lapisan masyarakat.

Dikutip dari The Star, meskipun gencatan senjata sementara telah terjadi, namun normalisasi jalur perdagangan di Selat Hormuz diprediksi memakan waktu lama.

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim berada dalam satu mobil di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (27/3/2026). (BPMI Sekretariat Presiden)

Ketergantungan pada stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor krusial yang menentukan masa depan ketahanan energi domestik kita.

Pemerintah secara terbuka mengakui bahwa situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja akibat tekanan geopolitik luar negeri.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim menegaskan bahwa cadangan bahan bakar nasional masih mencukupi untuk kebutuhan hingga akhir Mei mendatang.

Langkah ini menjadi jaminan penting di tengah kekhawatiran masyarakat akan kelangkaan pasokan akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan.

Analis pasar global memprediksi butuh waktu sedikitnya enam bulan untuk memulihkan lalu lintas kapal ke level normal.

“Lale Akoner, seorang analis pasar global di perusahaan layanan keuangan eToro, dikutip di CNN mengatakan bahwa diperlukan waktu enam bulan untuk mengembalikan lalu lintas kapal ke posisi sebelum perang dimulai,” ungkap laporan pasar tersebut.

Baca Juga: Ramadhan Sananta Terancam Tergusur di DPMM FC, Posisinya Digantikan?

Ketidakpastian rute minyak internasional menjadi sinyal waspada bagi manajemen krisis energi yang sedang dijalankan oleh Putrajaya.

Beban Subsidi Dan Tekanan Fiskal Negara

Pemerintah saat ini harus menggelontorkan dana sebesar RM6 miliar setiap bulan hanya untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar.

Beban finansial yang sangat besar ini mengancam ruang fiskal negara untuk pembiayaan sektor publik lainnya seperti kesehatan.

Perdana Menteri mengingatkan bahwa tantangan nasional saat ini jauh lebih besar dibandingkan sekadar perdebatan politik partisan yang dangkal.

“Negara ini sedang dalam mode krisis,” tegas pemerintah dalam pernyataan resminya menyikapi situasi ekonomi yang kian memanas.

Load More