- Andi Widjajanto menyatakan bahwa weaponization of supply chain menjadi fenomena perang hibrida modern yang sangat kompleks dan berdampak luas.
- Iran menggunakan strategi asimetris di Selat Hormuz pada 2026 untuk mengganggu jalur logistik energi meskipun ada kekuatan militer Amerika.
- Gangguan pada jalur strategis global tersebut menimbulkan dampak ekonomi signifikan bagi berbagai negara yang jauh dari pusat konflik.
Suara.com - Konsep weaponization of supply chain atau pemanfaatan rantai pasok sebagai senjata kini menjadi fenomena baru dalam lanskap perang modern. Penasihat Senior LAB 45, Andi Widjajanto, menilai perubahan karakter perang saat ini tidak lagi sekadar konvensional, tetapi semakin kompleks dan berdampak luas, termasuk bagi negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Dalam sebuah diskusi di kanal YouTube Rhenald Kasali, Andi menjelaskan bahwa konsep tersebut merupakan turunan dari perang hibrida yang berkembang menjadi hybrid economic warfare. Ia mencontohkan ketegangan di Selat Hormuz sebagai bukti nyata bagaimana jalur logistik global bisa dijadikan alat tekanan geopolitik.
“Ini memang satu konsep yang muncul, terutama di kalangan kami yang mempelajari pertahanan, mempelajari perang, untuk menurunkan lebih operasional konsep yang disebut sebagai perang hibrida. Terus diturunkan lagi menjadi hybrid economic warfare. Lalu Hormuz 2026 ini ya menunjukkan terjadinya weaponization of supply chain itu,” ujarnya, dikutip Selasa (14/4/2026).
Menurut Andi, dampak gangguan rantai pasok tidak hanya dirasakan negara yang sedang berperang, tetapi juga negara lain yang secara geografis jauh dari konflik. Ia mencontohkan Australia yang terdampak kebijakan darurat akibat gangguan di Timur Tengah.
“Jadi di situ kelihatan bahwa gangguan yang ada ribuan kilometer di Hormuz itu mengganggu negara paling selatan yang ada di kisaran kita, ya menunjukkan bahwa weaponization of supply chain itu ternyata tidak hanya mengarah kepada negara-negara yang sedang berperang,” katanya.
Lebih lanjut, Andi menilai karakter perang modern kini jauh lebih kompleks dibandingkan perang konvensional. Selain melibatkan serangan militer langsung, konflik juga mencakup target ekonomi, perubahan rezim, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Perangnya menjadi karakternya lebih kompleks dari sekadar perang konvensional antara pasukan dengan pasukan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti penggunaan strategi asimetris oleh Iran yang dinilai efektif dalam menghadapi kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat. Salah satu bentuknya adalah mengganggu jalur logistik energi dan lalu lintas di Selat Hormuz.
“Yang keempat yang tadi, perang hibrid, perang hibrida, hybrid economic warfare, terutama dilakukan oleh Iran dengan melakukan weaponization of supply chain,” ungkap Andi.
Baca Juga: Apa Saja Efek Blokade Selat Hormuz oleh AS? Ini 5 Konsekuensinya
Menurutnya, dominasi kekuatan laut Amerika Serikat pun tidak cukup untuk menjamin kelancaran jalur strategis tersebut. Iran justru menggunakan pendekatan nonkonvensional seperti ranjau, rudal, hingga kapal kecil tanpa awak untuk mengganggu pergerakan armada.
“Dia (Amerika Serikat) bisa menggelar dua kapal induk ya di seputaran Selat Hormuz, tapi ternyata tidak mampu menjamin Selat Hormuz terbuka,” pungkasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa jalur sempit seperti selat atau choke point kini memiliki peran krusial dalam geopolitik global.
Berita Terkait
-
Apa Saja Efek Blokade Selat Hormuz oleh AS? Ini 5 Konsekuensinya
-
Kapal Perang AS USS George HW Bush Bermanuver Jauh ke Afrika Demi Hindari Selat Hormuz
-
Siapa Pemilik Selat Hormuz? Kawasan yang Bikin AS Harus Blokade Total dalam Perang Lawan Iran
-
5 Fakta Blokade Amerika Serikat ke Selat Hormuz, Apa Tujuannya?
-
Bagaimana Cara Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz?
Terpopuler
- Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
- 3 Shio yang Menarik Keberuntungan Sepanjang September 2026, Hoki Sebulan Penuh
- Cara Membersihkan Bunga Es Tanpa Mematikan Kulkas, Aman dan Mudah Dilakukan
- 4 Tips Merebus Telur agar Mudah Dikupas, Hasil Mulus Sempurna
- 3 HP Infinix Mirip iPhone 17 Pro Max, Tampil Mewah ala Flagship
Pilihan
-
Terbuang dari Klub Orang Indonesia, Emil Audero Selangkah Lagi ke Rayo Vallecano
-
Sempat Serukan Serang Hercules! Admin Akun Pemukiman Setan Ditangkap Polisi karena Molotov
-
Pidato Pertama Sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin Berseloroh: Baru Dua Jam Saja
-
Jalani Ritual di Danau Sunter, WNA Aljazair Dievakuasi Setelah Dirayu 3 Jam
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
Terkini
-
Sengketa Lahan Bertahun-tahun, Warga Banjarsari Bermalam di Kantor Bupati Lahat
-
Babakan Cileungsi Mencekam, Pemilik Rumah Pingsan Menyaksikan Tempat Tinggalnya Ludes Terbakar
-
Pengadaan Smartboard Disdik Bogor Diusut KPK
-
Depok Buka Kuota Gratis Kerjaan Sopir di Jepang untuk 1.000 Warga
-
Gunung Gede Pangrango Tutup Pendakian Sampai Waktu yang Belum Ditentukan
-
Gandeng Konsultan ITB Tangani Banjir, Bupati Serang Minta Langkah Ini Diduplikasi
-
Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Dorong Efisiensi BTT APBD untuk AI Karhutla
-
Keracunan Massal Santri Usai Santap MBG Jadi Perhatian Khusus Bupati Sidoarjo
-
Aktor Utama di Luar Negeri, Bareskrim Endus Pola Canggih Penyelundupan Narkoba Jalur Laut
-
Jonatan Christie Kejar Poin di China Masters, Tiket World Tour Finals Jadi Target