-
Hizbullah menolak pertemuan Lebanon-Israel di Washington karena menganggapnya sebagai taktik pelucutan senjata.
-
Naim Qassem memilih melanjutkan perlawanan fisik daripada berunding saat Israel terus membombardir Lebanon.
-
Konflik telah menyebabkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga Lebanon terpaksa mengungsi.
Hizbullah menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah tunduk pada syarat-syarat internasional yang bertujuan membatasi ruang gerak milisi mereka.
Fokus utama Hizbullah kini beralih sepenuhnya pada koordinasi serangan balasan dan pertahanan darat di wilayah selatan Lebanon yang bergejolak.
Mereka menolak untuk melakukan gencatan senjata sepihak selama Israel masih melakukan invasi dan serangan udara yang mematikan.
"Kami tidak akan beristirahat, berhenti, atau menyerah. Sebaliknya, kami akan membiarkan medan perang berbicara sendiri," tambahnya.
Pernyataan tersebut mengukuhkan posisi bahwa suara senjata akan lebih dominan dibandingkan suara para diplomat di Washington dalam waktu dekat.
Upaya AS untuk memediasi kedua belah pihak kini menghadapi tembok besar akibat hilangnya kepercayaan dari faksi militer terbesar di Lebanon.
Krisis Kemanusiaan yang Meluas
Dampak dari kegagalan diplomasi dan berlanjutnya perang ini telah menciptakan tragedi kemanusiaan yang sangat mendalam bagi warga sipil.
Ribuan nyawa telah melayang dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal akibat serangan tanpa henti yang dilakukan oleh militer Israel.
Baca Juga: Sekjen PBB: Sudah Saatnya Israel dan Lebanon Bekerja Sama
Data mencatat sedikitnya 2.055 orang tewas, termasuk 165 anak-anak dan 87 petugas medis yang menjadi korban dalam konflik berdarah ini.
Lebih dari 6.500 warga mengalami luka-luka, sementara arus pengungsian mencapai angka 1,2 juta orang yang kini hidup dalam ketidakpastian.
Kondisi ini diperparah dengan rusaknya fasilitas kesehatan dan infrastruktur publik yang menghambat penyaluran bantuan darurat bagi para korban perang.
Konflik ini meledak kembali setelah gencatan senjata bulan November 2024 dilanggar oleh serangkaian serangan mematikan yang dilakukan secara rutin oleh Israel.
Ketegangan memuncak pada awal Maret 2026 ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket besar-besaran sebagai bentuk respons atas peristiwa pembunuhan pemimpin regional.
Hizbullah menyatakan bahwa serangan mereka pada 2 Maret adalah pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pembunuhan tokoh penting tersebut dilakukan oleh kekuatan AS dan Israel pada hari pertama konfrontasi terbuka mereka di wilayah kedaulatan Iran.
Kini, Lebanon menjadi medan tempur utama dalam perebutan pengaruh regional yang melibatkan kekuatan militer besar di Timur Tengah.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
4 Sabun Cuci Muka untuk Kulit Berminyak, Berjerawat, dan Komedo dengan Review Pembeli
-
4 Ide OOTD Downtown Chic Style ala Son Na Eun yang Effortless Abis!
-
Bahaya Kebakaran Baterai Paksa Hyundai dan Kia Lakukan Recall Ioniq 5 dan EV9
-
Siap-siap! Pesawat N219 Buatan PTDI Bakal Terbang Lagi
-
Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
-
Fantastis! Kerugian Negara Kasus Samin Tan Tembus Rp17,7 Triliun
-
Pertamina Tambah Armada, Pasokan BBM di Medan Kembali Normal usai Antrean Panjang
-
Emiten PGEO Pasang Target Kapasitas PLTP Capai 1,8 GW pada 2034
-
Hyundai New CRETA Dilengkapi Drive Mode Adaptif untuk Berbagai Kondisi Berkendara
-
ICW Cium Gelagat Kasus Eks Jampidsus Bakal Berhenti di Tengah Jalan: Sulit Lacak Aktor Besar