News / Internasional
Rabu, 15 April 2026 | 12:27 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu (Antara)
Baca 10 detik
  • Intelijen Mossad gagal memprediksi ketahanan rezim Iran yang tetap stabil meski pemimpin tertingginya terbunuh.

  • Roman Gofman ditunjuk sebagai Direktur Mossad baru di tengah kritik mengenai kurangnya pengalaman intelijennya.

  • Perdana Menteri Netanyahu merombak total pimpinan keamanan Israel guna mempertahankan posisi politiknya pasca-perang.

Suara.com - Keyakinan petinggi intelijen Israel bahwa serangan militer akan segera mengakhiri kekuasaan rezim Iran kini menemui kenyataan pahit.

Direktur Mossad masa depan menilai kekuatan politik di Teheran akan hancur dengan cepat begitu peperangan besar berkobar.

Dikutip dari CNN, estimasi tersebut disampaikan kepada internal pemerintah Israel namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda.

Ilustrasi agen dinas rahasia Israel, Mossad. [Shutterstock]

Hingga melewati 40 hari pertempuran intensif, tanda-tanda kejatuhan pemerintahan di Iran sama sekali tidak terlihat.

Roman Gofman yang akan memimpin Mossad menjadi sosok sentral di balik narasi optimisme yang kini dianggap keliru.

Gofman dijadwalkan secara resmi menduduki kursi kepemimpinan Mossad pada bulan Juni mendatang untuk masa jabatan lima tahun.

Ia menggantikan David Barnea yang sebelumnya juga memiliki keyakinan serupa mengenai potensi penggulingan kekuasaan di Republik Islam.

Barnea merupakan penasihat utama dalam rencana serangan gabungan yang melibatkan kekuatan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu.

Strategi yang ditawarkan kepada Netanyahu adalah memicu pemberontakan rakyat melalui pembunuhan tokoh-tokoh kunci dan operasi intelijen masif.

Baca Juga: Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran

“Posisi Mossad adalah bahwa perubahan rezim adalah hasil yang mungkin terjadi dan mereka dapat mewujudkannya,” ujar salah satu sumber keamanan Israel kepada CNN.

Kegagalan Serangan Udara Memicu Revolusi Rakyat Iran

Pihak militer Israel atau IDF justru sejak awal memiliki pandangan yang jauh lebih skeptis dan bernuansa hati-hati.

Militer lebih menyarankan langkah pelemahan sistematis dibandingkan ekspektasi revolusi instan yang sulit untuk diukur tingkat keberhasilannya.

“Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati,” tegas narasumber dari pihak keamanan internal tersebut.

Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada gelombang serangan pertama ternyata tidak melumpuhkan struktur pemerintahan di sana.

Load More