-
Intelijen Mossad gagal memprediksi ketahanan rezim Iran yang tetap stabil meski pemimpin tertingginya terbunuh.
-
Roman Gofman ditunjuk sebagai Direktur Mossad baru di tengah kritik mengenai kurangnya pengalaman intelijennya.
-
Perdana Menteri Netanyahu merombak total pimpinan keamanan Israel guna mempertahankan posisi politiknya pasca-perang.
Suara.com - Keyakinan petinggi intelijen Israel bahwa serangan militer akan segera mengakhiri kekuasaan rezim Iran kini menemui kenyataan pahit.
Direktur Mossad masa depan menilai kekuatan politik di Teheran akan hancur dengan cepat begitu peperangan besar berkobar.
Dikutip dari CNN, estimasi tersebut disampaikan kepada internal pemerintah Israel namun fakta di lapangan menunjukkan hal yang sangat berbeda.
Hingga melewati 40 hari pertempuran intensif, tanda-tanda kejatuhan pemerintahan di Iran sama sekali tidak terlihat.
Roman Gofman yang akan memimpin Mossad menjadi sosok sentral di balik narasi optimisme yang kini dianggap keliru.
Gofman dijadwalkan secara resmi menduduki kursi kepemimpinan Mossad pada bulan Juni mendatang untuk masa jabatan lima tahun.
Ia menggantikan David Barnea yang sebelumnya juga memiliki keyakinan serupa mengenai potensi penggulingan kekuasaan di Republik Islam.
Barnea merupakan penasihat utama dalam rencana serangan gabungan yang melibatkan kekuatan Amerika Serikat pada akhir Februari lalu.
Strategi yang ditawarkan kepada Netanyahu adalah memicu pemberontakan rakyat melalui pembunuhan tokoh-tokoh kunci dan operasi intelijen masif.
Baca Juga: Pusat Komando Militer: Tidak Ada Kapal yang Berhasil Melewati Blokade AS ke Pelabuhan Iran
“Posisi Mossad adalah bahwa perubahan rezim adalah hasil yang mungkin terjadi dan mereka dapat mewujudkannya,” ujar salah satu sumber keamanan Israel kepada CNN.
Kegagalan Serangan Udara Memicu Revolusi Rakyat Iran
Pihak militer Israel atau IDF justru sejak awal memiliki pandangan yang jauh lebih skeptis dan bernuansa hati-hati.
Militer lebih menyarankan langkah pelemahan sistematis dibandingkan ekspektasi revolusi instan yang sulit untuk diukur tingkat keberhasilannya.
“Mossad membuat serangkaian janji yang tidak ditepati,” tegas narasumber dari pihak keamanan internal tersebut.
Kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada gelombang serangan pertama ternyata tidak melumpuhkan struktur pemerintahan di sana.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Bakal Bertemu Prabowo-Gibran? Djarot Beri Sinyal Megawati Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila
-
3 Kali ke Prancis dalam 5 Bulan, Elite PDIP Pertanyakan Urgensi Kunjungan Presiden Prabowo
-
Sumber Teror Api Misterius di Seyegan Mulai Terkuak, Tim UPN Soroti Gas Metana dari Bekas Rawa
-
Bukan Mistis! Misteri Barang Terbakar Sendiri di Sleman Terungkap, Pakar UGM Bongkar Biang Keroknya
-
Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
-
Prof Uceng: Negara Bukan Takut Film Pesta Babi, Tapi Takut Narasi Alternatif
-
Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?
-
Ribuan Lansia Jalan Sehat Meriahkan Puncak HLUN 2026 di NTT
-
Guru Besar UGM Cium Ada Perubahan Sikap yang Tak Biasa Usai Mama Sinta Lapor Polisi soal Pesta Babi
-
HLUN 2026 Momentum Wujudkan Lansia Tangguh Menuju Indonesia Emas