-
Burj Al Arab tutup 18 bulan karena kerusakan fisik akibat serangan udara Iran.
-
Ekonomi pariwisata Dubai merosot tajam seiring hilangnya kepercayaan wisatawan dan investor asing.
-
Lebih dari 120 miliar dolar AS hilang dari pasar modal UEA pasca konflik.
Suara.com - Konflik bersenjata yang melibatkan Iran secara resmi melumpuhkan operasional Burj Al Arab sebagai simbol kemewahan global di Dubai.
Hotel berbentuk layar ini terpaksa menghentikan layanan selama satu setengah tahun guna memulihkan fisik bangunan yang terdampak serangan.
Dikutip dari MEE, eskalasi militer di kawasan Teluk menghancurkan citra keamanan yang selama ini menjadi jualan utama Uni Emirat Arab (UEA).
Keputusan penutupan ini diambil setelah gelombang wisatawan mancanegara menurun drastis akibat rasa tidak aman yang meluas.
Proses pemugaran skala besar ini sekaligus menjadi penanda rapuhnya ekonomi yang hanya bergantung pada sektor jasa dan properti.
Manajemen Jumeirah selaku pemilik properti menyatakan bahwa pekerjaan renovasi yang telah lama dinanti akan segera dilaksanakan.
Arsitek interior kenamaan asal Paris, Tristan Auer, ditunjuk untuk memimpin langsung proyek estetika bangunan ikonik tersebut.
"Pekerjaan yang telah lama dinanti akan dilakukan secara bertahap selama kurang lebih 18 bulan," sebut pernyataan resmi Jumeirah pada Selasa.
Meski pernyataan tertulis tidak merinci status operasional, sumber internal memastikan hotel akan berhenti menerima tamu sepenuhnya.
Baca Juga: Janji Xi Jinping kepada Trump: Pastikan Tak Ada Pasokan Senjata China untuk Iran
Wisatawan yang telah memiliki pesanan kamar akan dialihkan ke jaringan hotel Jumeirah lainnya di sekitar lokasi tersebut.
Dampak Fisik Serangan Udara Terhadap Ikon Global
Kerusakan pada struktur Burj Al Arab bermula dari jatuhnya puing-puing intersepsi drone Iran pada bulan Maret lalu.
Bangunan ini tidak lagi mampu mempertahankan kemegahannya setelah menjadi saksi bisu gesekan militer di wilayah udara Dubai.
Serangan tersebut merupakan bagian dari rentetan ofensif Iran yang menyasar titik-titik vital di seluruh Uni Emirat Arab.
UEA tercatat menjadi negara yang paling sering menjadi sasaran proyektil setelah Israel dalam konflik regional terbaru ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- 6 Sepatu Puma Wanita yang Lagi Diskon 55 Persen di Toko Resmi, Ada Model Lari hingga Sneaker
Pilihan
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
Terkini
-
Penghormatan Terakhir Jenderal Ryamizard Ryacudu: Disemayamkan di Kemhan, Dimakamkan di Kalibata
-
PSG Juara, Prancis Membara! 22.000 Polisi Tak Mampu Bendung Amuk Massa
-
Bom Sisa Perang Dunia II Meledak di Biak, 5 Tewas dan 3 Hilang
-
Update Rusuh di Paris Usai PSG Juara Liga Champions: 1 Orang Tewas 780 Ditangkap
-
Qodari: Prabowo Sosok Langka yang Dekat dengan Putin, Trump, dan Xi Jinping
-
Banjir Bandang Poso: Warga Terisolasi, BNPB Minta Bantuan Alat Berat
-
Ibu Muda Ditemukan Tewas Bersama Balitanya, Suami Diamankan Polisi
-
Waspada Fenomena Bulan Purnama, BMKG Prediksi Banjir Rob Kepung Pesisir NTT Hingga 2 Juni
-
Indonesia Berduka, TNI AD Kehilangan Putra Terbaik Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Toko Kosmetik di Sawah Besar Digerebek, Ternyata 'Gudang' Ribuan Butir Pil Tramadol dan Hexymer