Suara.com - Belakangan ini, publik di Indonesia dihebohkan oleh viralnya sebuah lagu berjudul “Erika” yang dibawakan oleh mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Lagu tersebut menuai kontroversi karena liriknya dinilai tidak pantas dan mengandung unsur pelecehan terhadap perempuan.
Di balik viralnya lagu tersebut, muncul istilah yang ikut menjadi sorotan, yaitu OSD HMT ITB. Banyak masyarakat yang kemudian bertanya-tanya, apa sebenarnya OSD HMT ITB? Bagaimana kaitannya dengan lagu “Erika”?
Artikel ini akan membahas secara lengkap dan terupdate mengenai OSD HMT ITB, asal-usul lagu “Erika”, hingga klarifikasi resmi dari pihak terkait.
Apa Itu OSD HMT ITB?
OSD HMT ITB merupakan singkatan dari Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung. Ini adalah sebuah unit kegiatan seni musik yang berada di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB.
Secara historis, OSD HMT ITB bukanlah organisasi baru. Unit ini telah ada sejak sekitar tahun 1970-an dan menjadi bagian dari tradisi kegiatan mahasiswa di lingkungan jurusan teknik pertambangan ITB.
OSD dikenal sebagai wadah kreativitas mahasiswa, khususnya dalam bidang musik yang mengusung genre semi dangdut dengan sentuhan humor, satire, dan kehidupan mahasiswa. Lagu-lagu yang mereka bawakan biasanya mengangkat tema ringan seperti kehidupan kampus, percintaan, hingga dinamika sosial mahasiswa.
Beberapa lagu yang pernah dibuat oleh OSD antara lain “Anissa”, “25 Karat”, dan yang paling dikenal saat ini, “Erika”.
Lagu “Erika” dan Awal Mula Viral
Lagu “Erika” sebenarnya bukan lagu baru. Berdasarkan informasi yang beredar, lagu ini diciptakan sekitar era 1980-an sebagai bagian dari karya OSD HMT ITB.
Namun, lagu tersebut kembali viral setelah video penampilannya beredar di media sosial. Dalam video tersebut, sejumlah mahasiswa menyanyikan lagu “Erika” di sebuah acara kampus.
Baca Juga: Setelah Erika, Muncul Lagu 25 Karat dari ITB yang Bermuatan Pelecehan Seksual
Masalah muncul karena lirik lagu tersebut dianggap mengandung unsur vulgar dan merendahkan perempuan. Beberapa bagian lirik dinilai tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan sensitivitas sosial masa kini.
Viralnya lagu ini semakin memicu reaksi publik karena terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu pelecehan seksual di lingkungan kampus.
Akibatnya, banyak pihak mengkritik keras konten lagu tersebut, bahkan mempertanyakan budaya organisasi mahasiswa di institusi pendidikan tinggi.
Klarifikasi HMT ITB dan Sikap Resmi
Menanggapi polemik yang berkembang, pihak Himpunan Mahasiswa Tambang ITB akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Dalam pernyataannya, HMT ITB menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keresahan yang ditimbulkan oleh beredarnya lagu tersebut. Mereka juga mengakui adanya kelalaian dalam menampilkan lagu lama tanpa mempertimbangkan perkembangan norma sosial saat ini.
Selain itu, beberapa langkah yang diambil oleh HMT ITB antara lain:
- Menarik dan menghapus seluruh konten terkait lagu “Erika” dari platform resmi
- Melakukan evaluasi internal terhadap kegiatan organisasi
- Meninjau kembali standar dan pedoman konten agar sesuai dengan nilai etika dan akademik
HMT ITB juga menegaskan bahwa konten dalam lagu tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung oleh organisasi maupun institusi pendidikan.
Klarifikasi dari Pihak ITB
Selain dari organisasi mahasiswa, pihak Institut Teknologi Bandung juga memberikan klarifikasi terkait kasus ini.
ITB menegaskan bahwa mereka tidak mentoleransi segala bentuk konten yang mengandung unsur pelecehan atau merendahkan pihak tertentu. Pihak kampus juga menyatakan akan melakukan pembinaan serta pengawasan lebih ketat terhadap kegiatan kemahasiswaan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen institusi dalam menjaga nilai akademik, etika, dan budaya yang sehat di lingkungan kampus.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Ritual Ganjil Suami di Kendari: Usai Injak Istri hingga Tewas, Jasad Korban Dimandikan dan Disisir
-
Gudang Limbah Membara di Cikarang, Api Sambar Pemukiman dan Truk
-
Presiden Prabowo: Cahaya Kebijaksanaan Waisak Jadi Fondasi Karakter dan Persatuan Bangsa
-
Cikeas Penuh Karangan Bunga, Para Tokoh Beri Penghormatan Terakhir untuk Ryamizard Ryacudu
-
12 Unit Damkar Berjibaku Jinakkan Kebakaran Gudang Limbah di Rawajulang
-
Remaja Pembunuh Gadis 12 Tahun di Makassar Dijerat Pasal Berlapis, Ibu Korban Desak Hukuman Mati
-
Uang Tunai Rp65 Juta Jadi Abu, Tabungan Lansia di Blora Ludes akibat Kebakaran Rumah
-
Presiden Prabowo Berduka atas Kepergian Jenderal Ryamizard Ryacudu
-
Remaja Putri Tewas Terjebak Saat Api Mengamuk di Bengkel Cikupa
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend