-
Donald Trump mendesak Hizbullah menjaga perilaku sopan demi terciptanya perdamaian permanen di Lebanon.
-
Gencatan senjata sepuluh hari mulai berlaku meskipun sempat diwarnai penembakan artileri di perbatasan.
-
Warga Lebanon mulai kembali ke rumah mereka di tengah harapan penghentian konflik bersenjata.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaruh harapan besar agar Hizbullah menunjukkan sikap kooperatif selama masa gencatan senjata.
Langkah ini dianggap sebagai fondasi krusial untuk menghentikan pertumpahan darah yang telah berlangsung lama di wilayah tersebut.
Dikutip dari Al Jazeera, pemerintah Amerika Serikat memandang periode sepuluh hari ini sebagai ujian komitmen bagi seluruh pihak yang bertikai.
Visi Trump berfokus pada penghentian total konfrontasi bersenjata demi menciptakan stabilitas keamanan di kawasan perbatasan kedua negara.
Inisiatif diplomatik ini diharapkan mampu mengubah konstalasi konflik menjadi dialog konstruktif yang menguntungkan warga sipil setempat.
Donald Trump secara terbuka menekankan pentingnya etika politik dan kemanusiaan dari pihak Hizbullah dalam transisi ini.
"Saya harap Hizbullah bertindak baik dan sopan selama periode penting ini. Ini akan menjadi momen HEBAT bagi mereka jika mereka melakukannya," tulis Trump di Truth Social.
Pesan tersebut menunjukkan keinginan kuat dari Gedung Putih untuk melihat berakhirnya siklus kekerasan di tanah Lebanon.
Trump menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menghentikan segala bentuk aksi pembunuhan antar faksi militer.
Baca Juga: Serangan Udara Israel di Ghazieh Tewaskan 7 Warga Sipil Menjelang Kesepakatan Gencatan Senjata
"Tidak ada lagi pembunuhan. Akhirnya harus ada DAMAI!" tambahnya melalui platform media sosial miliknya tersebut.
Komitmen Negosiasi Itikad Baik
Gencatan senjata yang berlangsung selama sepuluh hari ini secara resmi dimulai sejak tengah malam waktu Lebanon.
Meskipun kesepakatan telah berjalan, Hizbullah belum memberikan pernyataan resmi mengenai pengakuan formal terhadap durasi gencatan senjata itu.
Namun, perwakilan parlemen mereka memberikan sinyal positif terkait penghentian serangan jika Israel melakukan hal serupa.
Pihak Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa jeda pertempuran ini dirancang untuk memfasilitasi proses diplomasi tingkat tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Tak Sekadar Antar BBM, Truk Tangki Pertamina Dipantau 24 Jam Nonstop
-
Ketimpangan Jejak Karbon: Emisi Orang Kaya di Balik Kampanye Go Green
-
Belajar dari Alam, Puluhan Anak Desa Lemo Rasakan Serunya Menjadi Petani Sehari
-
Seberapa Besar Kontribusi Ajang MotoGP ke Perekonomian
-
Bursa Mineral Segera Meluncur, OJK Buka Lowongan Kerja
-
Kata-kata Justin Hubner Yakinkan Ole Romeny Mudik ke Liga Belanda Bersama Fortuna Sittard
-
Gary Neville Kritik Taktik dan Komentar Tuchel soal 'DNA Inggris' Usai Tersingkir dari Piala Dunia
-
MBG Berpotensi Lebih Menguntungkan Tengkulak daripada Petani
-
5 Film dan Serial Romantis Netflix Paling Banyak Ditonton Sepanjang 2026
-
Final Piala Dunia 2026 Terancam Kabut Asap, Duel Argentina vs Spanyol dalam Ancaman Kebakaran Hutan