News / Nasional
Jum'at, 17 April 2026 | 11:37 WIB
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono. (Suara.com/Lilis)
Baca 10 detik
  • Wamenkes Dante Saksono menekankan peran krusial laboratorium dalam diagnosis medis pada Seminar Nasional ILKI tanggal 16 April 2026.
  • Pemerintah mendorong adopsi teknologi kecerdasan buatan serta integrasi SATUSEHAT guna menggeser paradigma layanan menjadi deteksi dini yang prediktif.
  • Terdapat tantangan ketergantungan impor alat kesehatan dan ketimpangan infrastruktur digital yang sedang diatasi melalui perluasan jejaring laboratorium nasional.

Suara.com - Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menyoroti dua wajah sistem laboratorium kesehatan di Indonesia: dorongan digitalisasi berbasis kecerdasan buatan (AI) di satu sisi, dan ketergantungan alat serta reagen impor di sisi lain.

Sebagai klinisi, Dante menegaskan posisi krusial laboratorium dalam praktik medis. Ia menyebut, keputusan diagnosis pada akhirnya sangat bergantung pada hasil uji laboratorium, bukan sekadar observasi klinis.

“Pasien selalu menanyakan hasil lab. Di situlah kepastian berada, di situlah diagnosis ditegakkan dan keputusan dapat diambil," kata Dante saat membuka Seminar Nasional Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI) 2026, Kamis (16/4).

Namun, ia mengakui sistem laboratorium nasional belum sepenuhnya mandiri. Kenaikan harga reagen dan dominasi alat impor masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan. Di saat yang sama, pemerintah juga mendorong percepatan adopsi teknologi, termasuk AI, dalam layanan laboratorium.

Menurut Dante, AI akan menggeser pendekatan layanan kesehatan dari sekadar pengobatan (kuratif) menjadi deteksi dini (prediktif dan preventif). Meski demikian, ia menekankan bahwa teknologi tidak bisa menggantikan aspek tanggung jawab profesional tenaga kesehatan.

“AI bukanlah ancaman, melainkan akselerator. AI menggeser paradigma layanan dari kuratif menjadi prediktif dan preventif. Namun, nurani dan tanggung jawab profesional tetap tidak tergantikan oleh teknologi apa pun," ucap Dante.

Dorongan digitalisasi ini juga terlihat dari integrasi platform SATUSEHAT dengan sistem Electronic Health Record (EHR). Pemerintah menargetkan hasil laboratorium dapat diakses secara real-time untuk memperkuat sistem surveilans nasional.

Masalahnya, integrasi digital membutuhkan kesiapan infrastruktur yang belum merata, terutama di daerah.

Pemerintah sendiri mengklaim tengah memperluas jejaring Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) dari Tier 1 hingga Tier 5 melalui program InPULS. Skema ini ditujukan untuk mengurangi kesenjangan layanan laboratorium antarwilayah.

Baca Juga: Ngaku Jadi Korban 'Deepfake' AI, Rismon Sianipar Bantah Fitnah Jusuf Kalla: Itu Video Rekayasa!

Meski begitu, tantangan di lapangan diperkirakan tidak sederhana. Selain soal infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu.

Dante meminta pemimpin laboratorium untuk mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut, termasuk memahami AI dan menyusun peta jalan digitalisasi.

Load More