News / Metropolitan
Kamis, 16 April 2026 | 17:10 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan. [Unsplash]
Baca 10 detik
  • Riset Dedy Budiman pada Maret 2026 menunjukkan 74,6% konsumen Indonesia menggunakan teknologi AI untuk mencari informasi produk sebelum membeli.
  • Konsumen berusia 55 tahun ke atas menjadi kelompok dengan tingkat adopsi AI tertinggi dalam membantu pengambilan keputusan pembelian.
  • Rekomendasi brand oleh AI terbukti memengaruhi 52,7% konsumen, sehingga perusahaan perlu mengoptimalkan strategi pemasaran berbasis kecerdasan buatan tersebut.

Suara.com - Sebuah riset yang melibatkan 1.596 responden dari berbagai provinsi di Indonesia mengungkapkan bahwa 74,6% konsumen Indonesia sudah menggunakan kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT, Google AI Mode, Gemini, dan Perplexity untuk mencari informasi produk sebelum melakukan pembelian.

Lebih dari seperempat di antaranya (26,4%) bahkan sudah menjadikan AI sebagai bagian rutin dalam proses pengambilan keputusan pembelian mereka.

Riset bertajuk “The Rise of AI-Assisted Consumer Information Search” ini dilakukan oleh Dedy Budiman, Champion Sales Trainer yang juga merupakan mahasiswa doktoral dari Universitas Prasetiya Mulya, melalui survei daring pada 3–13 Maret 2026.

Responden berasal dari jaringan profesional Sales Director Indonesia (SDI), Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), serta jaringan korporasi yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hampir Selalu Riset Sebelum Membeli

Riset ini mengkonfirmasi bahwa perilaku mencari informasi sebelum membeli sudah menjadi kebiasaan yang nyaris universal.

Sebanyak 98,7% responden menyatakan selalu atau kadang-kadang mencari informasi terlebih dahulu sebelum memutuskan pembelian produk atau jasa.

Ketika ditanya tentang platform pertama yang digunakan untuk mencari informasi produk, media sosial (TikTok, Instagram, YouTube) masih menjadi pilihan utama dengan 39,3%, disusul marketplace (Shopee, Tokopedia, Lazada) di 27,1%, dan Google di 15,7%.

Platform berbasis AI secara gabungan sudah mencapai 15,2% sebagai titik awal pencarian, terdiri dari Google AI Mode (8,6%) dan AI mandiri seperti ChatGPT, Gemini, dan Perplexity (6,6%).

Baca Juga: Iran Sebar Video AI Yesus Pukul Kepala Donald Trump Sampai Jatuh ke 'Neraka'

Konsumen Usia 55+ Paling Tinggi Adopsi AI

Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset ini adalah fenomena yang disebut “Silver Surfer Paradox”, konsumen berusia 55 tahun ke atas menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi sebesar 24,2%, dibandingkan hanya 11,7% pada kelompok usia 25–34 tahun.

Temuan itu menantang asumsi umum bahwa generasi muda selalu menjadi pionir dalam adopsi teknologi baru.

Data penggunaan AI tinggi (pengguna yang sering atau hampir selalu menggunakan AI) juga menunjukkan pola serupa: kelompok usia 45–54 tahun mencatat tingkat penggunaan AI tinggi tertinggi (36,7%), diikuti kelompok 55+ (30,4%), sementara kelompok 17–24 tahun justru paling rendah (19,5%).

“Selama 30 tahun saya berkecimpung di dunia penjualan, belum pernah saya melihat pergeseran perilaku konsumen secepat ini. Yang menarik, justru para profesional senior dan pengambil keputusan yang lebih cepat mengadopsi AI karena mereka menghadapi keputusan pembelian yang lebih kompleks — mulai dari produk kesehatan, jasa keuangan, hingga properti. AI membantu mereka memproses informasi yang rumit dengan cara yang lebih efisien,” ujar Dedy Budiman dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).

AI Melengkapi, Belum Menggantikan Google

Load More