- Katadata Insight Center merilis laporan KIMCI di Jakarta pada 15 April 2026 mengenai penyusutan kelas menengah Indonesia.
- Proporsi kelas menengah turun menjadi 16,9% pada 2024, mengancam target Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045.
- Kelas menengah kini mengandalkan pekerjaan sampingan dan teknologi AI untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi nasional.
Suara.com - Indonesia sedang menghadapi tantangan serius pada tulang punggung ekonominya. Data terbaru menunjukkan populasi kelas menengah terus menyusut sejak 2019, memicu kekhawatiran terhadap ambisi Indonesia menjadi negara maju pada 2045.
Menanggapi fenomena ini, Katadata Insight Center resmi merilis laporan flagship Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) dalam gelaran IDE Katadata Future Forum 2026 di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/04/2026).
Co-founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, menyoroti tren penurunan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), proporsi kelas menengah tercatat sebesar 21,5% pada 2019, namun merosot tajam hingga tersisa 16,9% di tahun 2024.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan melonjaknya golongan menuju kelas menengah (aspiring middle class) yang mencapai 48,8%. Padahal, Bappenas memproyeksikan Indonesia butuh 70% populasi kelas menengah untuk menjadi negara maju.
"Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society. Mudah-mudahan KIMCI di tahun keduanya bisa menjadi acuan untuk memahami peta lanskap middle class di Indonesia," ujar Metta saat membuka acara bertema "Adapting to What Comes Next" tersebut.
Satu Pekerjaan Tidak Lagi Cukup
Temuan mengejutkan dalam riset KIMCI mengungkap bahwa kelas menengah kini tak lagi bisa bergantung pada satu sumber penghasilan. Ketidakpastian ekonomi memaksa mereka mencari sabuk pengaman melalui pekerjaan sampingan.
Vice President Finance & Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar mengejar gaya hidup, melainkan strategi bertahan hidup.
“Bagi kelas menengah satu sumber pendapatan tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian karena itu pekerjaan sampingan bukan sekadar tambahan melainkan sebuah lapisan pengaman,” tegas Ivan.
Baca Juga: Imajinasi Saja Tidak Cukup, Menulis Fiksi Juga Butuh Riset
Ia juga menambahkan bahwa pola konsumsi kelas menengah kini semakin bijak.
"Keputusan belanja tidak semata-mata ditentukan harga yang paling murah. Yang semakin penting bagi mereka adalah nilai," tambahnya.
AI Sebagai Senjata Bertahan
Meski terimpit, riset KIMCI mencatat optimisme melalui adopsi teknologi. Kelas menengah mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas, mempelajari keterampilan baru, hingga menyelesaikan pekerjaan profesional.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Research Analyst Katadata Insight Center, Kholis Dana P., menekankan pentingnya intervensi kebijakan publik yang adaptif untuk menjaga daya beli dan mengendalikan biaya hidup.
"Kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi tentang memastikan mereka tetap tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan," kata Kholis.
KIMCI 2026 kini menjadi dokumen krusial yang memotret realitas pahit sekaligus strategi adaptif kelas menengah, kelompok yang menyumbang 81,5% dari total konsumsi rumah tangga Indonesia, dalam menghadapi ketidakpastian masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Mimpi Buruk yang Nyata, Nadiem Ceritakan Malam-Malam Terberat di Balik Jeruji
-
Pleidoi 1.400 Halaman Siap Dibacakan, Nadiem: Bagi Orang Jujur, Mudah Menuturkan Kejujuran
-
Habiburokhman Semprot Dino Patti Djalal: Kritik Lawatan Prabowo Itu Serangan Membabi Buta!
-
Nostalgia Mega-Pro? Kedekatan Prabowo-Megawati Jadi Sinyal Kuat Koalisi 2029
-
Penurunan Muka Tanah dan Hilangnya Mangrove Bikin Pantura Kian Rentan Banjir Rob, Adakah Solusinya?
-
Mantan Artis F Jalankan Sindikat Love Scammer Internasional di Solo, Tipu Rp 41 Miliar
-
Jangan ke Arab Dulu! Asosiasi: Ribuan Dapur MBG Lokal Disuspensi, Daerah 3T Belum Terurus
-
Wamen HAM Soal Vonis 10 Bulan Prajurit TNI dalam Kasus MHS: Publik Berhak Mempertanyakan
-
Bobby Nasution Puji Kemenangan Timnas U19, Atmosfer Stadion Utama Sumut Jadi Kekuatan
-
Jemaah Haji dari Tuban Ini Berbagi: Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah yang Tenang