- Prof. Henri Subiakto mengkritik sikap pemerintah yang dianggap alergi terhadap suara kritis pengamat dalam sistem demokrasi.
- DPR dan akademisi dinilai tidak lagi efektif mengawasi pemerintah karena pengaruh koalisi besar serta tekanan karier akademik.
- Pemerintah yang hanya mendengarkan masukan pendukung berisiko menciptakan kebijakan tidak cerdas dan merugikan aspirasi rakyat luas.
Suara.com - Mantan Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Prof. Henri Subiakto, melayangkan kritik pedas terhadap respons Istana yang belakangan terkesan alergi terhadap suara kritis para pengamat.
Henri menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang ingin menertibkan pengamat "tidak patriotik" serta pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya soal adanya "inflasi pengamat".
Menurut Henri, dalam sistem demokrasi, kepadatan komunikasi dan banyaknya opini adalah hal yang wajar, bukan sebuah inflasi yang harus ditakuti.
"Kalau sekarang ada yang alergi dengan jumlah yang banyak itu kalau dikatakan itu inflasi, itu aneh. Dalam sistem demokrasi itu density communication, kepadatan komunikasi itu memang akan banyak sekali karena ada kebebasan," ujar Henri dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Sabtu (18/4/2026).
DPR Bungkam, Kampus Terjebak ‘Bubble’
Guru Besar FISIP Universitas Airlangga ini menilai suara pengamat menjadi sangat krusial saat ini karena institusi formal yang seharusnya mengawasi pemerintah, yakni DPR, di anggapnya sudah "mati suri" akibat koalisi besar.
"DPR boleh dikatakan jarang sekali kritis atau berani melakukan suara-suara keras kepada pemerintah karena ketua umum partai-partai yang ada di DPR itu hampir sebagian besar ada di pemerintahan. Artinya ini satu institusi perwakilan negara saja sudah diam," tegasnya.
Tak hanya parlemen, Henry juga menyoroti kondisi kampus yang kini terjebak dalam academic bubble atau gelembung akademik.
Para akademisi menurutnya lebih sibuk mengejar jurnal Scopus demi "survival mode" ketimbang bersuara untuk rakyat.
Baca Juga: Tanggapi Ancaman Blokir Wikipedia, DPR Minta Pemerintah Kedepankan Dialog dan Kehati-hatian
"Pengamat yang masih berani bersuara itu boleh dikatakan hanya orang-orang yang tidak lagi mengkhawatirkan risiko. Yang masih khawatir dengan risiko biasanya lebih baik diam," kata dia.
Peringatan 'Pemerintahan Tidak Cerdas'
Henry mengibaratkan kritik sebagai "pil pahit" yang berfungsi sebagai obat bagi pemerintah. Ia mengkhawatirkan budaya "Yes Man" dan asal bapak senang (ABS) di lingkaran Istana akan membuat kebijakan yang diambil tidak lagi berpihak pada aspirasi rakyat yang jernih.
"Kalau pemerintah enggak cerdas, enggak bijaksana, enggak hati-hati, rusak dong negara. Nah supaya enggak rusak itu pil pahitnya adalah kritik. Hanya orang yang tidak tahu demokrasi dan tidak suka demokrasi yang alergi terhadap kritik," kata Henri.
Ia juga menangkap kesan bahwa Presiden Prabowo mulai dibiasakan hanya mendengarkan suara-suara yang mendukung.
"Saya kok menangkap seolah-olah Pak Prabowo ini sudah dibiasakan untuk hanya mendengarkan suara-suara yang mendukung dan suara-suara yang meng-glorify-kan beliau di lingkaran itu. Jika semuanya top-down, yes man, ABS, ya korbannya adalah negara dan masyarakat. Pemerintahannya menjadi tidak cerdas," cetusnya.
Jika sikap alergi terhadap kritik terus berlanjut, Henri memperingatkan dampaknya bisa serius terhadap kualitas pemerintahan.
“Pemerintahannya menjadi tidak cerdas. Menjadi tidak mendengarkan suara aspirasi rakyat,” katanya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Beri Arahan ke Ketua DPRD se-Indonesia, Prabowo: Saya Ingin Bicara Apa Adanya dari Hati ke Hati
-
Kunjungi Lembah Tidar, Prabowo Bakal Beri Pengarahan Langsung ke 478 Ketua DPRD se-Indonesia
-
Intip Rutinitas Sabtu Pagi Prabowo: Berenang di Hambalang Lalu Terbang ke Magelang
-
Tanggapi Ancaman Blokir Wikipedia, DPR Minta Pemerintah Kedepankan Dialog dan Kehati-hatian
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- DPR Pertanyakan, Pemerintah Menjawab, Dari Mana Datang Isu Kipas Angin Rp1,8 T untuk Kopdes?
- Kulit Sawo Matang Jangan Salah Pilih Warna Lipstik! Ini 8 Pilihan yang Bikin Wajah Cerah Seketika
Pilihan
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
Terkini
-
Kasus Febrie Adriansyah Dinilai Mengarah ke Skenario 'Peti Es', Mirip Perkara Firli Bahuri
-
Ojol Kurir Makanan Menang Penghargaan Tinggi Sastra di China
-
Polri Buka Suara soal Dugaan Korupsi Hibah Lahan yang Libatkan Eks Wakapolri Oegroseno
-
5 Rekomendasi Bedak Gatal yang Manjur di Apotek, Harga Mulai Rp10 Ribuan
-
BKKBN: Bangun Keluarga Tak Cukup Modal Cinta
-
Jelang Dua Tahun Pemerintahan, Prabowo Kumpulkan Menteri untuk Evaluasi Kinerja Kabinet
-
ID FOOD Luncurkan Warung Pangan, Perkuat Distribusi dan Pangkas Rantai Pasok Bahan Pokok
-
Mengebut Saat Berkendara Bukannya Efisien Malah Bikin Boncos?
-
Keunggulan Serum Glow Bomb Glow fx, Kandungan Pencerahnya Capai 19 Persen
-
7 Cara Memilih Produk Dekorasi Kamar Tidur yang Efektif Sesuai Prinsip Feng Shui