News / Internasional
Senin, 20 April 2026 | 13:49 WIB
Akses pelayaran komersial di Selat Hormuz dipastikan belum akan normal sebelum Amerika Serikat dan Iran menyepakati penghentian permusuhan secara permanen.
Baca 10 detik
  • Pembukaan Selat Hormuz menunggu kesepakatan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran.

  • Menteri Energi AS memprediksi penyelesaian konflik memerlukan waktu sekitar dua minggu ke depan.

  • Gencatan senjata terancam gagal setelah terjadi aksi penembakan terhadap kapal Prancis dan Inggris.

Pernyataan ini menggarisbawahi keinginan Amerika Serikat untuk melihat Iran kehilangan kemampuan militer yang ofensif sebelum normalisasi hubungan internasional terjadi di perairan itu.

Tapper kemudian mengejar kepastian waktu mengenai apakah solusi permanen ini dapat direalisasikan dalam kurun waktu empat belas hari ke depan kepada sang Menteri.

“Itu mungkin kerangka waktu yang wajar, itu tidak terlalu jauh,” jawab Wright menanggapi pertanyaan mengenai target dua minggu untuk penyelesaian masalah.

Di sisi lain, ketegangan justru meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pemberlakuan kembali pengawasan ketat terhadap Selat Hormuz.

Langkah Iran ini cukup mengejutkan mengingat pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya yang menjamin jalur tetap terbuka selama masa gencatan senjata.

Gencatan senjata yang dijembatani oleh Pakistan tersebut sebenarnya baru dijadwalkan berakhir pada hari Rabu mendatang, namun situasi di lapangan berubah dengan cepat.

Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata

Pihak IRGC berkilah bahwa tindakan mereka merupakan respons langsung atas blokade angkatan laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz belakangan ini.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui platform media sosial X menyuarakan protes keras terhadap tindakan blokade yang dilakukan pihak Barat.

Baca Juga: Toilet Ramah Lingkungan Jadi Biang Kerok 4000 Tentara AS Ngantri BAB di Kapal Induk

Baqaei menuliskan bahwa blokade AS terhadap selat tersebut “bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, tetapi juga melanggar hukum dan bersifat kriminal.”

Klaim Iran ini berseberangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang justru menuduh pihak Teheran sebagai aktor yang pertama kali mencederai kesepakatan damai sementara.

Trump merujuk pada konfirmasi IRGC yang melakukan serangan terhadap dua kapal kargo asing yang sedang mencoba melintasi wilayah perairan tersebut di hari Minggu.

Dalam pernyataan resminya di Truth Social, Presiden Trump menyebutkan bahwa dua kapal yang menjadi sasaran tembak Iran adalah kapal milik Prancis dan kapal barang Inggris.

Serangan ini memperkeruh suasana diplomasi yang sedang dibangun dan meningkatkan risiko asuransi bagi setiap kapal komersial yang berani melintasi jalur tersebut sekarang.

Ketika ditanya mengenai keamanan bagi kapal-kapal komersial untuk melakukan transit di celah perairan yang sempit itu, Wright memberikan jawaban yang sangat lugas.

Load More