-
Pembukaan Selat Hormuz menunggu kesepakatan damai permanen antara Amerika Serikat dan Iran.
-
Menteri Energi AS memprediksi penyelesaian konflik memerlukan waktu sekitar dua minggu ke depan.
-
Gencatan senjata terancam gagal setelah terjadi aksi penembakan terhadap kapal Prancis dan Inggris.
Pernyataan ini menggarisbawahi keinginan Amerika Serikat untuk melihat Iran kehilangan kemampuan militer yang ofensif sebelum normalisasi hubungan internasional terjadi di perairan itu.
Tapper kemudian mengejar kepastian waktu mengenai apakah solusi permanen ini dapat direalisasikan dalam kurun waktu empat belas hari ke depan kepada sang Menteri.
“Itu mungkin kerangka waktu yang wajar, itu tidak terlalu jauh,” jawab Wright menanggapi pertanyaan mengenai target dua minggu untuk penyelesaian masalah.
Di sisi lain, ketegangan justru meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pemberlakuan kembali pengawasan ketat terhadap Selat Hormuz.
Langkah Iran ini cukup mengejutkan mengingat pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya yang menjamin jalur tetap terbuka selama masa gencatan senjata.
Gencatan senjata yang dijembatani oleh Pakistan tersebut sebenarnya baru dijadwalkan berakhir pada hari Rabu mendatang, namun situasi di lapangan berubah dengan cepat.
Tuduhan Pelanggaran Gencatan Senjata
Pihak IRGC berkilah bahwa tindakan mereka merupakan respons langsung atas blokade angkatan laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Selat Hormuz belakangan ini.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui platform media sosial X menyuarakan protes keras terhadap tindakan blokade yang dilakukan pihak Barat.
Baca Juga: Toilet Ramah Lingkungan Jadi Biang Kerok 4000 Tentara AS Ngantri BAB di Kapal Induk
Baqaei menuliskan bahwa blokade AS terhadap selat tersebut “bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, tetapi juga melanggar hukum dan bersifat kriminal.”
Klaim Iran ini berseberangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang justru menuduh pihak Teheran sebagai aktor yang pertama kali mencederai kesepakatan damai sementara.
Trump merujuk pada konfirmasi IRGC yang melakukan serangan terhadap dua kapal kargo asing yang sedang mencoba melintasi wilayah perairan tersebut di hari Minggu.
Dalam pernyataan resminya di Truth Social, Presiden Trump menyebutkan bahwa dua kapal yang menjadi sasaran tembak Iran adalah kapal milik Prancis dan kapal barang Inggris.
Serangan ini memperkeruh suasana diplomasi yang sedang dibangun dan meningkatkan risiko asuransi bagi setiap kapal komersial yang berani melintasi jalur tersebut sekarang.
Ketika ditanya mengenai keamanan bagi kapal-kapal komersial untuk melakukan transit di celah perairan yang sempit itu, Wright memberikan jawaban yang sangat lugas.
“Itu benar,” jawab Menteri Energi Chris Wright saat mengonfirmasi bahwa saat ini kondisi Selat Hormuz masih sangat berbahaya untuk dilalui kapal mana pun.
Tanpa adanya jaminan keamanan dari kedua belah pihak, rantai pasokan global diperkirakan akan terus mengalami gangguan teknis dan kenaikan biaya operasional yang signifikan.
Krisis di Selat Hormuz berawal dari kegagalan kesepakatan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu eskalasi militer di wilayah Teluk.
Jalur ini merupakan arteri utama bagi sepertiga minyak mentah dunia yang diangkut melalui jalur laut setiap harinya. Gencatan senjata dua minggu yang dimediasi Pakistan awalnya diharapkan menjadi nafas bagi diplomasi, namun aksi saling klaim pelanggaran justru memperburuk keadaan.
Blokade laut Amerika Serikat dan respons militer Iran terhadap kapal asing kini menjadikan wilayah tersebut sebagai zona bahaya tinggi bagi perdagangan internasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan