-
Perang di Iran menghabiskan hampir separuh cadangan rudal strategis utama milik Amerika Serikat.
-
Pemulihan total stok senjata canggih Amerika Serikat memerlukan waktu hingga lima tahun ke depan.
-
Kelangkaan amunisi menciptakan risiko keamanan serius bagi Amerika Serikat di wilayah Pasifik Barat.
Suara.com - Eskalasi konflik dengan Iran telah menguras cadangan persenjataan strategis Amerika Serikat hingga ke level yang mengkhawatirkan.
Kondisi ini menciptakan celah kerentanan pertahanan yang sangat nyata bagi militer Paman Sam dalam jangka pendek.
Dikutip dari CNN, fakta tersebut terungkap melalui laporan internal Departemen Pertahanan dan analisis terbaru dari pakar keamanan internasional.
Data menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah menghabiskan setidaknya 45 persen dari seluruh stok rudal serangan presisi.
Inventaris rudal pencegat balistik THAAD bahkan kini dilaporkan telah berkurang hingga mencapai angka separuh dari jumlah total.
Hampir 50 persen persediaan rudal pertahanan udara Patriot juga telah digunakan selama tujuh minggu peperangan berlangsung.
Temuan ini selaras dengan data rahasia Pentagon mengenai kondisi aktual gudang senjata milik militer Amerika Serikat.
Meskipun kontrak produksi baru telah diteken, pemulihan sistem persenjataan ini memerlukan waktu tunggu hingga lima tahun.
Persediaan bom dan rudal yang tersisa saat ini diprediksi hanya cukup untuk melanjutkan operasi terbatas di Iran.
Baca Juga: Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Kekuatan militer Amerika Serikat kini dianggap tidak lagi memadai untuk menghadapi musuh setara seperti China di masa depan.
Kerentanan di Wilayah Pasifik
Mark Cancian, pensiunan Kolonel Korps Marinir AS, memberikan peringatan keras mengenai dampak dari pengurasan besar-besaran amunisi ini.
“Pengeluaran amunisi yang tinggi telah menciptakan jendela kerentanan yang meningkat di Pasifik barat,” kata Mark Cancian kepada CNN.
“Akan butuh waktu satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali inventaris ini dan beberapa tahun setelah itu untuk memperluasnya ke tempat yang seharusnya.”
Di sisi lain, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, memberikan pernyataan yang berusaha menenangkan publik terkait kesiapan militer.
Sean Parnell menyatakan militer “memiliki semua yang dibutuhkan untuk mengeksekusi pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden.”
Pihak Gedung Putih menegaskan bahwa operasi militer yang berjalan tetap menjamin perlindungan terhadap kepentingan nasional Amerika Serikat.
“Sejak Presiden Trump menjabat, kami telah melaksanakan beberapa operasi yang berhasil di seluruh komando tempur sambil memastikan militer AS memiliki gudang kemampuan yang dalam untuk melindungi rakyat dan kepentingan kami,” ujar Parnell.
Namun, data teknis menunjukkan bahwa 30 persen stok rudal Tomahawk juga telah habis terpakai dalam operasi tersebut.
Sekitar 20 persen rudal jarak jauh JASSM serta rudal SM-3 dan SM-6 juga tercatat telah keluar dari gudang persenjataan.
Diperlukan waktu transisi hingga lima tahun bagi industri pertahanan untuk mengganti sistem persenjataan canggih yang hilang itu.
Dilema Anggaran dan Produksi
Kondisi ini berbanding terbalik dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat tidak kekurangan senjata apapun.
Meski demikian, Trump tetap mengajukan permintaan tambahan dana dalam jumlah besar untuk memperkuat kembali persediaan amunisi mereka.
“Kami meminta untuk banyak alasan, bahkan di luar apa yang kami bicarakan di Iran,” ungkap Trump bulan lalu terkait anggaran tersebut.
“Amunisi khususnya, di tingkat tinggi kita punya banyak, tapi kita sedang menjaganya,” tambah sang Presiden menjelaskan situasi.
“Ini adalah harga kecil yang harus dibayar untuk memastikan kita tetap berada di puncak,” tegas Trump mengenai biaya pertahanan.
Sebelum perang pecah, Jenderal Dan Caine sebenarnya sudah memperingatkan dampak kampanye militer panjang terhadap cadangan senjata strategis.
Kekhawatiran ini kini merambat ke Capitol Hill karena para politisi mulai mempertanyakan kemampuan resuplay amunisi pertahanan udara.
Senator Demokrat Mark Kelly menyoroti kemampuan produksi drone dan rudal balistik Iran yang sangat masif sebagai ancaman nyata.
“Iran memang memiliki kemampuan untuk membuat banyak drone Shahed, rudal balistik, jarak menengah, jarak pendek dan mereka memiliki persediaan yang sangat besar,” kata Mark Kelly.
“Jadi pada titik tertentu... ini menjadi masalah matematika dan bagaimana kita bisa memasok kembali amunisi pertahanan udara. Dari mana mereka akan berasal?”
Amerika Serikat saat ini menghadapi dilema logistik pertahanan akibat keterlibatan aktif dalam konflik di Timur Tengah yang menguras sumber daya.
Ketergantungan pada kontraktor swasta membuat proses pemulihan stok amunisi tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat karena kendala rantai pasok.
Situasi ini memaksa Pentagon untuk meninjau ulang strategi pertahanan global mereka, terutama di wilayah Pasifik yang sedang memanas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
-
Gempa 7,5 M Guncang Jepang, Peringatan Tsunami hingga 3 Meter Dikeluarkan
-
Respons Santai Jokowi Soal Pernyataan JK: Saya Orang Kampung!
-
Pemainnya Jadi Korban Tendangan Kungfu, Bos Dewa United Tempuh Jalur Hukum
Terkini
-
123 Ribu Lebih Orang di Vietnam Ajukan Tunjangan Pengangguran
-
2 Tentara Israel Dipenjara Usai Hancurkan Patung Yesus
-
Momen Langka Gajah Liar Melahirkan di Pinggir Jalan Viral, Netizen Tersentuh
-
Modus Perusahaan Cangkang, Bareskrim Sikat Penyelundup 56 Ribu iPhone Ilegal Senilai Rp235 Miliar!
-
Tumpahan Minyak Raksasa di Teluk Persia, Perang AS vs Iran Picu Bencana Ekologis
-
UU PPRT Disahkan Usai 22 Tahun Mangkrak, Aktivis: Kami Apresiasi Dasco
-
Gelapkan Uang Zakat Rp800 M, Pelaku Pakai Dana Umat untuk Investasi dan Beli Mobil Mewah
-
Ungkap Pertemuan Prabowo-Dudung, Seskab Teddy: Bahas Kondisi Pertahanan hingga Geopolitik Global
-
Julukan Scambodia Picu Amarah Phnom Penh, Pemerintah Kamboja Serang Media AS
-
Jawab Tantangan Gubernur Pramono, Bank Jakarta Pasang Target Jadi Orkestrator Ekonomi Ibu Kota