-
Delapan wanita Iran batal dieksekusi mati setelah Donald Trump melakukan intervensi melalui diplomasi publik.
-
Iran membantah klaim hukuman mati tersebut dan menyebut pernyataan Trump sebagai berita bohong.
-
Kasus ini menjadi sorotan utama di tengah negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran.
"Saya yakin mereka akan menghormati fakta bahwa Anda melakukannya. Tolong jangan sakiti mereka! Itu akan menjadi awal yang baik bagi negosiasi kita!!!" tegasnya.
Meskipun Trump mengklaim adanya pembatalan hukuman, lembaga peradilan Iran justru mengeluarkan bantahan mengenai status hukum para wanita itu.
Otoritas hukum setempat menegaskan bahwa kedelapan wanita tersebut sejak awal tidak pernah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan.
"Trump sekali lagi disesatkan oleh berita palsu," tulis situs resmi Mizan Online yang dikelola otoritas yudisial Iran.
Pihak Teheran berdalih beberapa dari mereka telah bebas dan sisanya hanya terancam hukuman penjara jika terbukti bersalah.
Namun, organisasi kemanusiaan mencatat nama Bita Hemmati sebagai salah satu sosok yang sebelumnya dijadwalkan menghadapi hukuman mati.
Bita Hemmati dituduh terlibat dalam aksi protes kolektif bersama suami dan tetangganya pada awal Januari lalu.
Pemerintah Iran mendakwa mereka melakukan tindakan propaganda anti-rezim dan melukai aparat keamanan dengan melempar material berbahaya.
Selain Hemmati, terdapat Mahboubeh Shabani yang dituduh membantu mengobati para demonstran yang terluka selama gelombang kerusuhan terjadi.
Baca Juga: Klaim Donald Trump Rezim Iran Pecah Terbantahkan dari Kenyataan Ini
Beberapa laporan jurnalis bahkan menyebutkan bahwa beberapa dari mereka yang ditahan masih berusia di bawah umur.
Situasi ini merupakan bagian dari tindakan tegas pemerintah Iran dalam menekan aksi perbedaan pendapat yang meluas sepanjang tahun.
Ketegangan di Iran memuncak setelah gelombang protes besar-besaran anti-pemerintah meletus sejak awal tahun ini.
Ribuan demonstran dilaporkan menjadi korban dalam upaya penindakan keras oleh aparat keamanan.
Kasus delapan wanita ini menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan mengenai rencana eksekusi mati pertama terhadap tahanan wanita pasca kerusuhan Januari, yang kemudian memicu reaksi keras dari Donald Trump di tengah upaya gencatan senjata regional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun