-
Ribuan ibu hamil di pengungsian Lebanon terancam akibat hancurnya sistem kesehatan nasional.
-
Penutupan 51 pusat medis mempersulit akses persalinan aman bagi ribuan calon ibu.
-
Krisis ekonomi dan perang membuat bantuan medis untuk ibu hamil semakin terbatas.
Suara.com - Perang bersenjata antara Israel dan Hezbollah telah melumpuhkan infrastruktur vital yang mengancam keselamatan ribuan ibu hamil.
Meski gencatan senjata sementara diberlakukan, akses terhadap layanan kesehatan bagi perempuan di Lebanon tetap berada dalam kondisi kritis.
Dikutip dari DW, lebih dari 1,2 juta warga kini hidup terlunta-lunta di pengungsian dengan fasilitas sanitasi yang sangat buruk dan tidak memadai.
Kondisi ini menciptakan risiko kesehatan ganda bagi para calon ibu yang harus berjuang antara trauma perang dan proses persalinan.
Ketidakpastian keamanan membuat pemenuhan nutrisi dan pemantauan medis bagi ibu hamil menjadi hal yang mustahil dilakukan.
Data terbaru menunjukkan ada sekitar 13.500 ibu hamil yang saat ini terjebak dalam situasi pengungsian yang memprihatinkan.
Perwakilan Dana Kependudukan PBB (UNFPA), Anandita Philipose, memberikan gambaran mengenai skala bencana kemanusiaan yang sedang terjadi saat ini.
"Situasi bagi perempuan dan anak perempuan di Lebanon sangat mengerikan," ujar Anandita Philipose menggambarkan dampak luas dari peperangan tersebut.
Setidaknya terdapat 1.500 perempuan yang diprediksi akan segera melahirkan dalam kurun waktu satu bulan ke depan tanpa bantuan medis.
Baca Juga: PM Lebanon Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang Usai Serangan Udara Tewaskan Jurnalis Al Akhbar
Sistem kesehatan yang sebelumnya sudah rapuh kini benar-benar berada di titik nadir akibat kerusakan fisik bangunan rumah sakit.
Dampak Penutupan Puluhan Fasilitas Medis Utama
"Sistem kesehatan Lebanon yang sudah rapuh kini berada di ambang kehancuran," tegas Philipose mengenai hilangnya akses layanan obstetri.
Laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 51 pusat kesehatan primer terpaksa berhenti beroperasi karena menjadi sasaran serangan udara maupun darat.
Banyaknya tenaga medis yang menjadi korban jiwa dalam konflik ini semakin memperparah kelangkaan bantuan ahli di zona merah.
Rumah sakit yang masih bertahan kini harus melakukan penghematan stok obat-obatan secara ketat demi bertahan dalam jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Wamensos Minta Aceh Utara Penuhi Syarat Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen
-
Di Aceh, Ratusan Calon Siswa Terjangkau Masuk Sekolah Rakyat
-
Ungkit Jasa Misi PBB, 4 Anggota BAIS Penyiram Air Keras Andrie Yunus Minta Hukuman Ringan
-
Pemerintah Pusat dan DPR RI Sepakati Pengelolaan ASN Harus Selaras dengan Kesiapan Fiskal Daerah
-
Pastikan MBG Berbasis Sains, Nanik S Deyang Rekrut Profesor Gizi Masuk Jajaran BGN
-
Otto Hasibuan Digugat! Jabatan Wamenko dan Ketum PERADI Dinilai Tabrak Putusan MK
-
'Kita Kerjakan Bersama', Terkuak Rapat Gelap 4 Anggota BAIS TNI Sebelum Siram Air Keras Andrie Yunus
-
Sita Uang Ratusan Juta Saat OTT, KPK Bawa Bupati Muara Enim ke Jakarta Besok
-
Ismail Menangis, Asrul Bertongkat: Dua Bos Travel Resmi Ditahan KPK Kasus Kuota Haji
-
KPK Dalami Fakta Sidang Raffi Ahmad Titip iPhone 17 dari AS, Siap-siap Diperiksa?