-
Ribuan ibu hamil di pengungsian Lebanon terancam akibat hancurnya sistem kesehatan nasional.
-
Penutupan 51 pusat medis mempersulit akses persalinan aman bagi ribuan calon ibu.
-
Krisis ekonomi dan perang membuat bantuan medis untuk ibu hamil semakin terbatas.
"Kami tidak dapat membawa cukup pasokan dan harus menjatah obat-obatan jika konflik berlangsung lebih dari tiga bulan," ungkap Zeina Khouri Stevens.
Di wilayah selatan, kondisinya jauh lebih mencekam karena ribuan warga terputus total dari akses bantuan dunia luar.
Diperkirakan terdapat 1.700 ibu hamil yang terjebak di wilayah isolasi tanpa jaminan keamanan untuk mencapai fasilitas kesehatan terdekat.
"Para perempuan ini berada dalam risiko besar," kata Philipose memperingatkan kemungkinan komplikasi persalinan yang tidak tertangani dengan baik.
Meskipun unit medis bergerak telah diupayakan, kekurangan dana operasional menjadi penghalang utama bagi organisasi kemanusiaan untuk bergerak maksimal.
Hingga kini, bantuan yang diterima hanya sebagian kecil dari total anggaran yang dibutuhkan untuk menjangkau ratusan ribu pengungsi.
Jejak Panjang Keruntuhan Sistem Kesehatan Lebanon
Seorang dokter kesehatan masyarakat di Beirut, Jade Khalife, menjelaskan bahwa tekanan pada sistem kesehatan ini sudah berlangsung lama.
"Sistem ini pertama kali tertekan oleh gelombang besar pengungsi Suriah yang dimulai pada tahun 2013," jelas Jade Khalife.
Baca Juga: PM Lebanon Sebut Israel Lakukan Kejahatan Perang Usai Serangan Udara Tewaskan Jurnalis Al Akhbar
Kondisi tersebut diperburuk oleh kebangkrutan ekonomi pada 2019, pandemi global, hingga ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut tahun 2020.
"Terlepas dari upaya keras para profesional dan lembaga kesehatan, sistem ini tetap sangat rentan," tambah Khalife mengenai ketahanan medis nasional.
Kini, akses kesehatan bagi warga miskin bergantung sepenuhnya pada LSM dan jaringan layanan sosial yang kapasitasnya kian terbatas.
Nour, seorang ibu hamil berusia 32 tahun, mengenang pelariannya dari Beirut saat serangan udara mulai menghujani lingkungan tempat tinggalnya.
"Saya bernapas perlahan dan memegangi perut saya sepanjang waktu," kenang Nour yang harus mengungsi dalam kondisi mengandung empat bulan.
Trauma psikis akibat suara ledakan menjadi beban tambahan yang sulit dihilangkan bagi para ibu yang menghuni tempat penampungan kolektif.
"Menjadi hamil membuat segalanya terasa lebih berat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional," tutur Nour dengan penuh kecemasan.
Harapan untuk melahirkan dengan tenang di rumah sendiri kini berganti dengan ketakutan akan masa depan bayi yang mereka kandung.
Ancaman Masa Depan Generasi Baru Lebanon
Yara, warga Beirut Timur yang tengah hamil 33 minggu, kini didera keraguan apakah rumah sakit tujuannya masih akan berdiri saat ia melahirkan.
"Saya bermimpi tentang keamanan dan rumah di mana saya bisa memeluk bayi saya tanpa rasa takut," ucap Yara dengan penuh harap.
Ia sangat mendambakan saat-saat memeluk buah hatinya dalam kondisi damai, "dan tanpa suara ledakan" yang terus menghantui hari-harinya.
Krisis ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya membunuh mereka yang berada di medan tempur, tetapi juga mengancam generasi yang belum lahir.
Tanpa adanya koridor kesehatan yang aman, angka kematian ibu dan bayi di Lebanon diprediksi akan meningkat tajam dalam waktu dekat.
Konflik di Lebanon ini pecah kembali sejak awal Maret setelah ketegangan antara milisi Hezbollah dan Israel meningkat pasca kematian pemimpin tertinggi Iran.
Serangan udara yang masif serta invasi darat terbatas telah menelan ribuan korban jiwa dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
Krisis ini terjadi di atas tumpukan masalah domestik Lebanon, mulai dari krisis ekonomi akut hingga ketidakstabilan politik yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
Prabowo Bicara Persatuan Politik: Sebut PDIP dan Koalisi Punya Hati yang Sama
-
Dari Pasal 33 UUD 1945 hingga Prabowonomics, Cak Imin Bicara Mimpi Kedaulatan Ekonomi
-
Bisa Bikin Repot! Prabowo Kasih Cap 'Pemimpin Kancil' buat Dasco, Cak Imin dan Bahlil
-
Cak Imin Dukung Ekspor SDA Satu Pintu Prabowo, Sebut Ada 108 UU yang Harus Dibenahi
-
Pertamina Kilang Plaju Resmi Salurkan Biosolar B50, Tambah Pasokan Energi dari Sumatera Selatan
-
Sidang Korupsi Perkimtan Palembang Ungkap Rp440 Juta Masuk ke Eks Kadis, Lalu Mengalir ke Mana?
-
Cak Imin Minta Prabowo Revisi 108 Undang-Undang demi Kedaulatan Ekonomi
-
PKB Gaungkan Prabowonomics di Harlah ke-28, Cak Imin: Ini Bukan Akal-akalan
-
11 Warna Bedak yang Cocok untuk Kulit Hitam Manis, Dijamin Nampak Menyatu dan Flawless!
-
Cak Imin: Indonesia Kehilangan Arah Ekonomi Selama 25 Tahun