- Agresi militer Israel di Jalur Gaza menyebabkan 5.000 hingga 6.000 warga Palestina mengalami amputasi akibat hantaman senjata peledak.
- Pemerintah Israel sejak Februari 2025 memblokir masuknya bantuan alat prostetik dan material medis penting ke wilayah Gaza.
- Kekurangan pasokan alat kesehatan memicu risiko cacat permanen serta menghambat proses rehabilitasi ribuan korban di Gaza.
Fadel kehilangan kedua kakinya akibat serangan pesawat nirawak Israel pada September lalu, sementara adiknya yang berusia 11 tahun kehilangan satu mata dalam serangan yang sama.
"Dia menjadi menarik diri dan terisolasi," kata ibunya, Najwa al-Naji, sambil menunjukkan video lama anaknya saat melakukan kick-ups di ponselnya.
"Seolah-olah dia sekarat secara perlahan, dan saya berharap mereka bisa memasangkan anggota tubuh prostetik untuknya," lanjut Najwa.
Kelangkaan alat prostetik ini disebabkan pembatasan ketat Israel terhadap bahan-bahan dasar seperti plaster of Paris atau gips yang digunakan untuk mencetak kaki palsu.
Israel berdalih pembatasan material tersebut dilakukan demi alasan keamanan nasional untuk menekan perlawanan di wilayah kantong tersebut.
Kreativitas dalam Keputusasaan di Tengah Blokade
Berdasarkan data kesehatan, tingkat amputasi per kapita di Gaza kini telah melampaui Kamboja, yang sebelumnya memegang rekor terburuk akibat ranjau darat.
Akibat kekurangan pasokan, dua pusat medis di Gaza terpaksa mencoba menggunakan kembali alat prostetik lama yang diambil dari jenazah warga yang tewas dalam perang.
Beberapa petugas medis bahkan mulai menciptakan anggota tubuh buatan darurat menggunakan pipa plastik atau papan kayu demi membantu pasien bergerak.
Baca Juga: Gundah Gulana Ibu Hamil di Perang Lebanon: Apakah Bayi Saya Aman
Namun, penggunaan alat darurat tersebut sangat berisiko merusak sisa anggota tubuh atau menyebabkan infeksi mematikan bagi para korban.
Humanity & Inclusion memperingatkan bahwa jumlah orang yang diamputasi akan terus meningkat secara drastis tanpa adanya tindakan internasional yang segera.
Ketiadaan alat prostetik yang layak membuat para korban agresi ini terancam mengalami cacat permanen dan kehilangan kemampuan untuk hidup mandiri secara ekonomi.
Krisis Kesehatan di Gaza
Agresi militer Israel di Jalur Gaza telah menghancurkan sebagian besar sistem pendukung kehidupan, termasuk rumah sakit yang menjadi tumpuan warga Palestina.
Penggunaan senjata peledak dengan daya hancur tinggi di area pemukiman padat penduduk menjadi penyebab utama tingginya angka cedera traumatis yang memaksa dokter melakukan amputasi.
Blokade total yang diterapkan Israel sejak lama telah mempersempit ruang gerak organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan medis paling mendasar sekalipun.
Strategi ini dinilai banyak pihak sebagai upaya untuk memperparah penderitaan sipil di Gaza sebagai bagian dari tekanan politik dan militer terhadap bangsa Palestina.
Berita Terkait
-
Rumitnya Hidup Warga Iran saat Perang: Ngumpet di Kamar Mandi Hingga Berburu Obat Anti Kecemasan
-
Tragis! Bayi Kembar Jadi Korban Kekejaman Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina
-
Mengenal Amal Khalil, Jurnalis Pemberani yang Dibunuh Israel di Lebanon
-
Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina
-
Gundah Gulana Ibu Hamil di Perang Lebanon: Apakah Bayi Saya Aman
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Gaya Mewah Pelat Palsu: Sopir Alphard yang Cekcok dengan Satpam Kena Tilang
-
Foundation Viva Mana yang Paling Tahan Lama? Ini Pilihan dengan Klaim Waterproof dan Long Lasting
-
Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan
-
Kasus Debt Collector Kredivo di Purworejo Berakhir Damai, Perusahaan Perkuat Pengawasan Penagihan
-
Viral Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Larang 2 WNA Penyelenggara Event Lari Masuk Indonesia Lagi
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Arsenal Siapkan Strategi Khusus Datangkan Julin Alvarez, Viktor Gyokeres Jadi Opsi Tukar?
-
Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
Qualcomm Siapkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 Versi Murah, Akhiri Era HP Flagship Mahal?