News / Internasional
Sabtu, 25 April 2026 | 10:45 WIB
Anak-anak di Gaza [BBC]
Baca 10 detik
  • Pemukim Israel memasang kawat berduri untuk menutup jalan menuju sekolah bagi anak-anak Palestina.

  • Siswa terpaksa belajar di jalanan terbuka sebagai bentuk protes atas penutupan akses pendidikan.

  • Kekerasan meningkat di Tepi Barat dengan korban jiwa mencapai ratusan anak sejak akhir 2023.

Ahmad Alhendawi dari Save the Children menyebut blokade ini sebagai serangan terhadap hak dasar manusia.

“Otoritas dan pemukim Israel mengakhiri rasa aman yang sebelumnya ada bagi tiga juta warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa tidak ada satu pun anak yang layak merasakan ketakutan saat berangkat sekolah.

“Tidak ada anak yang boleh ditolak haknya atas pendidikan, terlalu takut untuk berjalan ke sekolah, atau menghadapi kekerasan saat bepergian ke sekolah,” lanjutnya.

Kekhawatiran muncul mengenai potensi lahirnya generasi yang kehilangan masa depan akibat ketiadaan sekolah formal.

Keselamatan fisik pelajar di Tepi Barat kini berada pada titik nadir yang sangat mengkhawatirkan.

Baru-baru ini, seorang remaja berusia 16 tahun tewas tertabrak iring-iringan kendaraan pejabat Israel.

Mohammad Majdi al-Jaabari sedang bersepeda menuju sekolah saat insiden maut tersebut terjadi di Hebron.

Kejadian ini menambah daftar panjang korban jiwa di kalangan anak-anak sejak akhir tahun 2023.

Baca Juga: Soal Kasus Guru Atun Dihina Siswa di Kelas, Komisi X DPR: Ini Tamparan Keras Dunia Pendidikan

Lebih dari 230 anak Palestina dilaporkan telah tewas di Tepi Barat dalam periode konflik tersebut.

Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat seiring perluasan permukiman ilegal yang dilarang hukum internasional.

Data menunjukkan lebih dari 1.100 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023 akibat operasi militer dan serangan pemukim.

Desa Umm al-Khair kini menjadi titik panas perjuangan warga melawan penggusuran dan blokade jalan.

Load More